Air Mata Sebatang Ulin Muda: Cerpen tentang Kebakaran Hutan Kalimantan Desir angin meniup hijau rambutku, membersihkan beberapa debu yang menempel, serta beberapa helai yang sudah mengering. Tumbuh tanggal sudah biasa, k…
Cerpen - Rumah Agam Kukirimkan sebuah foto melalui WA yang menunjukkan dua muka halaman buku, yang terdapat gambar rumah besar menembus dari halaman kiri ke halaman kana…
Kenikmatan Sepucuk Mie Ayam - Cerpen Siang ini rasanya laper banget. Entah kenapa, padahal sudah makan siang dan ngemil kerupuk yang aku goreng sendiri, ibuku sering beli dan nyetok k…
Kelelawar, Kali, dan Pengendara Motor : Sebuah Cerpen Kelelawar terbang sore itu di atas kali, ke sana kemari, hati pun tak henti-henti meradang, meratapi kondisinya sendiri, "Albert sudah punya rum…
Ternyata Bukan Teman: Cerpen Kehidupan Di sudut kota yang tak pernah tidur, di antara riuh rendah adukan mesin dan aroma harum tepung yang dipanggang, menyisipkan seorang wanita berparas t…
Reshuffle Boneka Baru: Cerpen Obrolan Gembel #2 Malam melarung, membentangkan kain gelap di atas punggung kota yang kian bengkak oleh bisingnya kesibukan. Namun, di sudut desa, di pos ronda reyot y…
Cerpen - Memoar sebuah Kursi Pejabat Aku adalah sebuah kursi, yang suatu saat dianggarkan dari uang rakyat untuk seseorang yang menyandang gelar wakil rakyat . Semua itu kulakukan untuk …
Tikaman Preman : Cerpen Patah Hati Pengantar Jeruji Besi Di gang-gang sempit kota yang aroma aspalnya bercampur anyir sampah, hiduplah seorang pria bernama Fatah. Namun, jangan pernah memanggilnya Fatah j…
Cerpen - Malam di Balik Baracuda Kita memang sudah dilatih, jauh lebih bengis dari hanya sekadar melanggar sampai mati. Itu terlalu dasar. Sejak awal mula masuk ke instansi khusus, a…