Kukirimkan sebuah foto melalui WA yang menunjukkan dua muka halaman buku, yang terdapat gambar rumah besar menembus dari halaman kiri ke halaman kanan, menyertakan sebuah nama yang sama dengan nama temanku, Agam.
"Wajib baca, Lupus : Interview With the Nyamuk. Tokoh utamanya persis seperti di dunia nyata!" imbuhku di bawah foto tersebut.
Foto itu aku dapatkan dari Facebook, dari seorang penjual buku bekas langgananku. Sudah seperti biasanya, ia selalu memosting buku-buku yang baru ia dapat dari memborong perpustakaan yang gulung tikar, loakan, atau entah dari mana. Dicaptionnya selalu tertulis jumlah halaman dan harga, yang menurutku lumayan murah, walau sering juga aku menemukan yang jauh lebih murah di Shopee.
Kebiasaanku membeli buku bekas ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Sebelum itu, bisa dikatakan aku sebelas dua belas dengan Wapresku, Mas Gibran, yakni tidak suka baca buku. Tapi setelah aku melihat story WA milik temanku, bernama Pras, yang menampilkan sebuah potongan halaman yang membuatku sangat penasaran, "buku apaan tuh ngebahas tentang kesadaran?!", lalu aku menginterogasinya dan mendapat kesimpulan bahwa ia mendapatkan buku tersebut dari pasar loak.
Jelang seminggu kemudian, kudatangi pasar loak terdekat, dan memborong 3 buku bekas sekaligus. Yang aku suka di sini harganya masih bisa dinego jika kita beli banyak. Dari total 85 ribu, bisa kunego menjadi 70 ribu, dari yang awalnya satu bukunya seharga 30 dan 35 ribu menjadi 20 dan 25 ribuan. Bangga sekali rasanya, dan langsung kuhubungi Pras dengan segenap keangkuhanku.
"Lumayan, bro, 3 buku 70 ribu! Masih ada yang segel pula!"
Tak selang lama, sekitar setengah jam, balasannya menggetarkan ponselku. Haus akan pengakuan, langsung kubuka dengan cepat-cepat.
"Wah, aku kemarin dapat yang tebal-tebal, 3 buku 50 ribu, hehe..."
Ternyata kalah telak. Mungkin karena memang belum berpengalaman, atau memang tidak bakat dalam hal tawar menawar, atau memang takdirku yang memaksaku harus kecewa kala itu, supaya berkenan membuka diri untuk mempelajari sesuatu, yang belum aku mengerti tentang apa itu hakekat dari membeli buku. Kubiarkan saja menjadi kenangan berkesan yang kesannya tak mengesankan.
Foto yang kukirimkan ke Agam adalah sebuah buku dari Hilman, yang harga bekasnya hanya 15 ribu. Sebenarnya ingin sekali kupinang, namun di dalam komentar postingannya sudah ada orang lain yang lebih dahulu memesannya. Aturan beli buku bekas di Facebook adalah dulu-duluan pesan, siapa yang lebih cepat memesannya tidak bisa dijual ke orang lain lagi. Walau pada akhirnya nanti entah jadi dibeli atau enggak, karena aku pernah lihat postingan yang bertuliskan "silakan, buku tidak ditebus berbulan-bulan, 25k aja."
Sebelumnya, aku dan Agam sempat membahas sebuah kisah unik tentang keterhubungan pengalaman diri seseorang dengan berbagai hal diluar dirinya, seperti mimpi maupun simbol-simbol yang hadir melalui orang atau alam sekitar. Beberapa hari yang lalu, saat ia memperbaiki genting rumahnya yang sudah mulai tak waras, ia menemukan pengalaman serupa di sebuah novel yang sedang ia baca. Novel dari Nh. Dini, yang judulnya aku lupa, diceritakan bahwa tokoh dalam novel tersebut juga sedang memperbaiki genting. Uniknya, yang diperbaiki adalah bagian atasnya, disebut wuwung, sebuah penghias sekaligus pelindung di ujung atap rumah supaya anti bocor. Sama persis dengan apa yang sedang dialami Agam. Sebelumnya ia tidak tau apa itu wuwung, yang ia tahu hanyalah bagian paling atas dari susunan genting. Setelah ia baca novel itu, secara tidak sengaja ia jadi ngerti devinisi dan tindakan apa yang harus dilakukan. Dikatakan dalam novel, kalau mau memperbaiki tanpa efek samping, ya harus diperbaiki semuanya. Alhasil, Agam pun memperbaiki semua bagian dari atap rumahnya.
Mungkin di benak Agam, foto bagian buku yang menyebutkan namanya, Agam, dan menyertakan gambar rumah, karena dalam halaman tersebut sedang membahas tempat tinggal Agam, sangat berkaitan dengan kehidupan nyatanya yang sedang memperbaiki rumah, walau hanya bagian atapnya saja. Tanpa pikir panjang, ia langsung membalas pesanku.
"aku semakin yakin ...."
Gaya chatnya tidak melambangkan beberapa digit umurnya, yang sudah kepala tiga hampir mengempat. Simbol titik-titik di belakang chat sering dianggap siapapun sebagai sebuah tindakan alay, yang menurut KBBI artinya sebuah gaya hidup berlebihan untuk menarik perhatian. Entah diusianya yang menjelang baka ini memang tidak ada yang memberikannya perhatian khusus atau apa. Tapi yang pasti, ia menyadari bahwa ada satu perhatian khusus dari sang atasan, yang selalu menunjuknya sebagai ahli segala bidang, untuk menjalankan pelbagai tugas kedinasan, dan juga menjadi pelatih jadi-jadian dari aneka lomba yang entah ia mengerti atau tidak. Ia sering merasa, dari sekian puluh pegawai di instansinya, apakah aku orang pilihan Tuhan? Ya, sejatinya dia memanglah seorang wali, wali kelas, yang merangkap tugas sebagai seorang guru Bahasa Indonesia.
Keyakinan Agam mengantarkanku pada rasa penasaran, tentang kebenaran cerita dari potongan halaman yang aku dapatkan tadi. Langsung saja aku buka iPusnas, aplikasi perpustakaan gratis dari pemerintah yang meminjamkan aneka ebook, yang menjadi andalanku untuk memuaskan nafsu membacaku setelah melihat judul-judul buku yang menarik dari postingan para penjual buku bekas. Jadi, sebelum aku beli buku bekas sering kali aku cari dulu ebooknya di iPusnas, kalau ada ya aku enggak jadi beli, kalau gak ada, biasanya saat aku mencoba log in FB kembali untuk memesannya sudah keduluan orang lain, karena memang ada banyak member pecinta buku second yang setia menunggu postingan-postingan buku bekas terupdate.
Langsung saja kutulis di kolom pencarian iPusnas, Lupus, dan muncullah banyak series dari Lupus. Kupilih dan kupilah dari satu persatu, sampai akhirnya tertemu, dengan cover seorang pria berpola kartun dengan tatapan tajam, bertuliskan Lupus, Hilman Interview With the Nyamuk. Langsung kupinjam dan download, mengklik tombol baca, dan kupindai satu persatu halamannya. Tujuan utamaku adalah, menemukan gambar rumah besar Agam!
Beberapa menit setelah menyusuri dengan teliti, akhirnya, gambar hitam putih tentang rumah besar yang terindikasi rumah besar Agam kutemukan. Beneran ada!
Kubalik halaman-halaman sebelumnya, sampai ke halaman awal cerita, di halaman 87, yang mencantumkan judul tebal bertuliskan 5. SEBUAH RUMAH YANG BESAR.
Tampak dari judulnya, cerita pada bagian ini memang menceritakan tentang rumah, persis seperti Agam yang sedang bergelut dengan masalah rumah di kehidupan nyatanya. Apakah setelah memperbaiki atap rumahnya, Agam punya agenda untuk memperbesar rumahnya? Pertanyaan itu muncul begitu saja, dan mungkin memang benar iya.
Penasaran yang menggebu, memaksa diri untuk memulai bacaan dari awal, supaya inti cerita dapat tertangkap dengan tepat.
Singkat cerita, dikisahkan seorang pria bernama Paul sedang ribut dengan kekasihnya, Karin, karena diduga wajahnya masuk ke dalam berita penggerebekan di sebuah rumah besar. Rumah besar yang diceritakan adalah rumah milik omnya Agam, yang menyediakan tempat esek-esek untuk senam haram penghasil keringat sesama jenis. Jadi si Paul ini sedang bingung menyelesaikan masalahnya akibat kesalahpahaman sang kekasih, karena sebelumnya ia menemukan teman baru bermain skateboard, yakni Agam, dan ketika diajak mampir ke rumahnya ternyata pas ada prosesi penggrebekan. Diangkutlah Paul, Agam, dan banyak orang pelaku hal menyimpang dari rumah besar itu. Sebuah situasional yang sensasional. Lantas setelah interviu dan keluar dari kantor kepolisian, Paul langsung dicegat kekasihnya, Karin, di depan pintu, yang menyambutnya dengan sebuah tamparan jijik, beserta dengan ungkapan putus akibat kekecewaannya. Paul kemudian mengajak Lupus untuk mengungkap kebenarannya, jadi si lupus ini bertindak seolah-olah menjadi seorang detektif, yang walau pada endingnya tidak menyelesaikan masalah apa pun, karena Karin menemukan barang buktinya sendiri berupa rekaman dari tape yang pernah dipinjamkan kepada Paul, yang sempat tak sengaja menekan tombol rekam saat berlatih skateboard. Dalam rekaman itu terdapat percakapan antara Paul dan Agam, yang menjelaskan bahwa mereka memang benar-benar baru pertama kali bertemu dan kenalan, disertai ajakan dari Agam untuk tanding di rumahnya, yang dikira Paul adalah tanding skateboard, padahal niatan aslinya adalah ajakan tanding anggar, di dalam kamar.
Dari cerita itu, aku semakin yakin, tentang keyakinan Agam, temanku, bahwa dia adalah seorang g....
Joe Azkha, 2026
