Pembenci Hujan

Pembenci Hujan

Ada apa dengan hujan?
Selalu kau serapahi dan makii
Kau salah-salahkan
Seakan-akan menjadi biang segala permasalahan

Kau bilang, ia menyakitimu
Menyita waktumu
Menghalangi langkahmu
Mengganggu mobilitasmu
Menunda pekerjaanmu
Agak-agaknya menjadi hal paling mengganggu

Kau membencinya?
Berlomba-lomba menjauhinya
Memfitnahnya
Menghakiminya
Seolah-olah kaulah pencinptanya
Yang mengerti semua seluk beluknya

Lantas, mengapa kau membencinya?
Yang sebenarnya muncul untuk mengindahkan pandanganmu
Yang sebenarnya menggercik untuk merelaksasi pendengaranmu
Yang sebenarnya menetes untuk mendinginkan pikiranmu
Yang sebenarnya menyepoi untuk menyejukkan suasanamu
Yang sebenarnya datang untuk mengatakan
Istirahatlah, kau lelah ...

Joe Azkha, 2021
Kambing Hitam

Kambing Hitam

Jangan bersedih
Jangan merasa bersalah
Bisa saja semua ini bukan karenamu
Ada orang lain yang mengkambing hitamkanmu di ruangan itu
Menutupi wajahnya dengan mempertegas wajahmu
Menutupi namanya dengan mengatasnamakan dirimu
Menutupi dosanya dengan mendosaimu

Jika benar tak melakukannya, lebih baik kau tetap biasa saja
Memandang wajah kecut mereka dengan senyuman biasamu
Menyapa telinga tuli mereka dengan sapaan biasamu
Berjalan di depan palingan diri mereka dengan cara berjalanmu

Biasa saja
Tetaplah jujur dengan diri sendiri
Walau dibohongi diri-diri lain di sekelilingmu

Joe Azkha, 2021
Lupa Pernah Lupa

Lupa Pernah Lupa

Apa kau ingat aku?
Jika iya, untuk apa?
Bermanfaatkah?
Jika iya, untuk siapa?
Untukmu?
Jika iya, kok bisa?
Bagaimana aku bisa bermanfaat untukmu, jika hanya dengan mengingatku saja?

Apa kau tau
Apa yang lebih bermanfaat untukmu?
Itu adalah ketika kau lupa
Lupa jika pernah diperintah untuk lupa
Melupakan banyak hal
Hal suci yang pernah kau resapi
Hal wangi yang pernah kau ciumi
Hal indah yang pernah kau miliki
Hal-hal baik lain yang pernah kau temui

Lantas, mengapa kau harus lupa?
Itulah tugasmu
Mengingat semua itu, dan kembali ke posisi semula
Di mana kau selalu tersenyum
Tanpa beban apapun

Joe Azkha, 2021

BUKAN TENTANG PERPISAHAN - SOKASIK#9


Ada yang pernah mengatakan apapun yang kita lakukan adalah hasil usaha terbaik. Sama seperti Sokasik yang udah nemenin kalian selama ini. Apa yang sudah tergambar merupakan sedikit bagian usaha terbaik yang sudah penulis berikan. Ribuan kata mungkin tidak bisa terancang baik layaknya orang-orang. Beberapa kalimat mungkin terasa aneh, setelahnya paragraf sedikit rancu. Semua itu merupakan bagian dari pembelajaran. Tidak ada yang salah apalagi benar. Sokasik hanya tentang kita. Sama-sama belajar. Sama-sama memahami. Sama-sama menganalisis apa yang ada di kehidupan ini.

Edisi kali ini sekaligus Sokasik edisi terakhir. Sebagai penulis tidak ada yang jauh lebih penting selain menyampaikan permintaan maaf. Permintaan maaf atas ketidaknyamanan ini. Permintaan maaf atas keputusan ini. Menulis sendiri bagiku sudah seperti hobi. Menyenangkan. Tiap kata demi kata seperti teman setiap malam. Huruf tiap huruf terpilih dengan baik sebagai tempat setiap rasa, tempat tiap pengalaman, dan pemikiran seseorang. Tanda baca yang melebur menjadi satu seolah-olah menjadi obat penenang pada setiap kegelisahan. Tulisan adalah teman terbaik. Setiap tulisan juga mempunyai jiwanya sendiri. Terima kasih sebagai pembaca setia Sokasik, aku mengucapkan banyak terima kasih. Tidak ada yang lebih baik dari kalian.

Meskipun sedikit mengecewakan aku juga ingin kalian sedikit merasakan kekecewaan ini. Karena merasakan kekecewaan ini meruapakan hal baik. Pertanda kalian sudah masuk dalam dunia yang penulis ingin sampaikan. Penulis yang baik adalah pembaca bisa merasakan apa yang ingin penulis sampaikan lewat huruf, kata, kalimat dan setiap paragraf. Maka terima kasih sudah dengan tulus mengapresiasi Sokasik sampai saat ini.

Buat kalian yang sedikit merasakan apa yang ada pada tulisan Sokasik selama ini, aku berharap kalian tumbuh dengan baik. Aku harap kalian menemukan gaya tulisan kalian sendiri. Aku berharap kalian bisa tumbuh lagi setelah hal buruk menimpa kalian. Sokasik sebagai bukti apa yang kalian rasakan juga dirasakan oleh orang lain. Tentang keoverthingkingan, tentang apa yang telah dialami diseperempatabad, tentang kisah kita masing-masing, dan tentang berada pada pertumbangan rasa.

Harus selalu kalian ingat. Jangan pernah merasa sendiri. Jangan pernah merasa apa yang kalian alami hanya dialami sendiri. Sokasik adalah wujud kebersamaan. Apa yang kalian rasakan juga sama oleh semua orang. Jadi, jangan pernah merasa sendiri. Semua akan baik- baik saja. Ada atau tanpa Sokasik. Kalian akan tetap baik-baik saja. Ingat yaa! Hehe, mendadak sedikit mellow begini yaa. Udah mirip mengupas bawang merah, mata pedas kayak mau nangis, tapi nggak bisa, wkwkw. Tetap semangat yaa! Tetap menjadi versi terbaik dari dirimu, bukan orang lain. See you next time :)

~ Us

DI ANTARA PERTUMBANGAN RASA - SOKASIK#8


Hai, selamat malam! Serasa masih ingin libur saja nih! Siapa coba yang nggak pengen libur meskipun hanya sekadar menenangkan pikiran? Atau mungkin untuk menghilangkan kejenuhan sekaligus sedikit menghilang dan menikmati suasana baru? Mungkin hanya aku yang tidak begitu menyukai libur. Aneh sih, tapi begitu nyatanya.

Aku tidak terlalu menyukai ada waktu luang karena waktu luang itu adalah sumber dari keoverthingkingan. Yaa, begitulah. Terkadang ada beberapa orang terlihat gila kerja, padahal kenyataanya bukan tentang uang tapi tentang menghilangkan sunyi dan melupakan diri. Seberapa besar seseorang terlihat baik- baik saja, selalu ada celah yang membuat mereka akan terlihat sebaliknya. Seberapa besar orang menemukan sesuatu yang bisa membuatnya tetap baik-baik saja, akan selalu ada sedikit ruang yang tidak ditemukan untuk mengunci semua itu rapat-rapat. Maka, setelah itu  hanya muncul satu kata yaitu pasrah. Mungkin kali ini sok asik bakalan bahas tentang kata pasrah. Sebenarnya apa sih pasrah itu?

Menurut KBBI Revisi V  kata pasrah memiliki arti menyerahkan sepenuhnya: marilah kita- kepada takdir hati yang tabah; ia- apa yang akan diputuskan oleh pengadilan.

Definisi pasrah itu sebenarnya bisa terlihat nyata disekeliling kita. Namun, bagi Us sendiri definisi pasrah itu lebih mirip kalimat “ ya, udahlah yaa. Mau bagaimana lagi ”. Setidaknya sudah berusaha yang terbaik dan berdoa. Ketika sudah mengusahakan ternyata hasilnya belum baik, meski sudah berdoa setiap malam setiap waktu tapi Allah belum mengabulkanya. Merasakan segumpal kecewa dan sebongkah kesedihan. Kemudian kamu merasa mungkin itu sudah jalanya. Sudah yang terbaik. Kemudian keluar kalimat “ ya, udahlah yaa. Mau bagaimana lagi ” menurutku itu definisi pasrah yang sesungguhnya. Merasa sedikit ikhlas meskipun berlumuran kekecewaan.

Setelahnya terselip kalimat…

“ ya udah, aku benar-benar berada pada titik pasrah. Terserah yang di atas. Nalarku terbatas sedangkan skenario Allah tanpa batas. Pikiranku sangat sempit. Jadi, jangan batasi doa dengan menggunakan nalar dan pikiran. Sebab yang kau anggap mustahil bisa dengan mudah Allah wujudkan ”

Biarkan begini saja dulu, nanti kau akan lihat pelangi setelah hujan badai datang. Kamu hanya perlu sedikit bersabar. Lesty Kejora dan Rizky Billar dipertemukan dengan sebaik-baiknya. Melalui hal tak terduga. Irwansyah dan Zaskia Sungkar diberikan kebahagian setelah berpuluh-puluh perjuangan. Raffi Ahmad dan Nagita Slavina bertahan setelah jutaan badai topan datang. Kekuatan doa memang tidak pernah bisa ditebak. Tidak ada yang lebih baik dan menenangakan selain cukup berdoa sekaligus bercerita kepada Sang Pencipta. Sang Maha Mengetahui isi hati hambanya. Maha Membolakbalikan hati seseorang. Tempat untuk meminta, mendoakan, menceritakan banyak hal sebelum fajar setelah tengah malam tanpa sadar meneteskan air mata. Disitulah kata pasrah bermunculan. Pasrah terhadap skenario yang terbaik. Pasrah kepada Sang Pencipta.

~ Us
Puisi - Fatalisasi

Puisi - Fatalisasi

Apakah hanya mimpi?
Aku tak sadar sama sekali
Begitu saja terjadi
Tanpa konfirmasi

Aku pun mengikuti
Menuruti
Menaati
Bahkan menikmati

Siapa yang mengerti?
Menyalahkanku itu pasti
Menghakimi
Mencaci
Membenci
Bahkan menyumpahi

Ketakutanku berujung mati

Ku harap semua itu ilusi
Dan termaklumi
Seperti api
Yang tak sengaja membakar bumi

Joe Azkha, 2021
Puisi - Magnet

Puisi - Magnet

Kita adalah sepasang kutub
Sejenis, namun beda spesies
Saling menolak satu sama lain
Saling membuang muka
Saling membelakangi
Saling membenci
Namun mutlak bergandeng punggung

Joe Azkha, 2021
Puisi - Letak Rindu

Puisi - Letak Rindu

Kau tak tau di mana letak rinduku
Tepat sebelum fajar terlihat mata
Tepat setelah senja sebelum petang
Waktu di mana kau tak sadari
Di waktu-waktu itulah kumerindu

Joe Azkha, 2021