Cerbung - Korban (Bagian 1)


Bosan selalu datang saat aku selalu melakukan rutinitas yang itu-itu terus. Seperti pekerjaanku yang lalu, bekerja di sebuah pabrik plastik yang hanya melakukan itu-itu saja tanpa adanya sebuah inovasi atau spekulasi apapun. Mungkin ini menjadi alasanku untuk keluar, mencoba untuk mencari pekerjaan lain yang sekiranya tidak membuatku bosan. Tapi apa daya, bukan tidak bosan malah jadinya tidak berpenghasilan.

Dua tahun sudah aku keluar dari pabrik plastik, hal itu ternyata bukan pilihan terbaik, terbukti sampai sekarang aku masih saja lontang-lantung mencari pekerjaan, karena setiap tempat kerja yang aku masuki selalu berumur pendek, alias gampang terpecat. Sudah hampir 15 tempat kerja yang sudah aku tempati, namun tak ada satu pun yang juga aku senangi, semua aku segani.

Aneh, apakah ini karma? Ataukah apa? Aku tak menemukan jawaban apapun di pencarianku.

“Oeekkkkk... Oeeeeeekkk...” jeritan tangisan anak pertamaku, Riana, Riana Apriliana, yang sering dipanggil Ririn, lahir bebrapa bulan yang lalu.

“Mas, kapan kamu punya uang? Ririn Haus nih, butuh susu,” keluh istriku.

Aku yang sedang berjemur di depan rumah merasa terganggu. Seharusnya dia tau, semua tempat kerja tak bisa menerimaku. “Nanti aku pikirkan.”

“Lha, anakmu ini ––“

“Udah to, ajari dia puasa,” potongku.

“Kamu kok gitu sih, Mas, kamu lupa ya dulu pernah janji ke orang tuaku?” tuntutnya dengan masih menimang-nimang Ririn agar tak semakin menjadi-jadi. “Dulu kamu pernah janji, kamu akan cinta dan rawat aku sebaik mungkin. Tapi mana buktinya mas?! Kamu malah seperti sia-siain aku gini!” lanjutnya sambil menyeka ujung matanya.

Seketika aku merasa malu. Aku merasa begitu bodoh, menyia-nyiakan seseorang yang menyayangiku hanya karena keegoisanku, yang selalu berandai-andai mendapatkan pekerjaan nyaman. Aku merasa sangat tak berguna. Bagaimana bisa aku melupakan hal mendasar seperti ini?! Aku memang terlalu bodoh, bukan, mungin aku malah tak punya otak.

“Kalau gitu mending aku pulang ke rumah bapak, Mas! Kamu pernah dengar kan? Dia selalu menawarkanku untuk kembali jika kamu tak becus mengurusku.”

“Dik, maafkan Mas. Jangan pulang. Mas butuh kamu, Dik. Maafin Mas. Mas akan pergi ke rumah Doni, mungkin dia akan memberiku kesempatan kedua untuk memasukkanku lagi kedalam pabrik plastik. Kamu tunggu di rumah ya? Nanti kamu pinjam uang dulu ke Bu Laras, bilangin ke dia bahwa bulan besok aku akan melunasinya semuanya.”

“Bagaimana dia kasih pinjam? Uang kontrakan aja udah tiga bulan nunggak, Bu Laras pasti akan memaki-makiku lagi mas.”

“Bismillah, Dik,” jawabku pelan sembari memegang pundak istriku. “Doain Mas ya? Doni adalah harapan Mas satu-satunya. Semoga dia mau bantu seperti dulu lagi dan kita bisa memperbaiki pola hidup kita untuk kedepannya.”

Istriku memalingkan wajah, merasa tak percaya. “Dik? Percaya sama Mas. Demi Ririn,” lanjutku pelan yang diiringi anggukan pelan istriku walau masih memalingkan wajah.

0 Comments

Posting Komentar