Cerbung - Korban (Bagian 2)



“Assalamualaikum?” ucapku sambil mengetuk pintu rumah Doni.

Beberapa kali kuketuk dan kupanggil, tak kunujung ada balasan. Terlihat sepi. Padahal hari ini hari Minggu, hari yang sewajarnya menjadi hari libur bagi para pekerja, terutama untuk para pekerja di pabrik plastik tempatku dulu bekerja.

Lima, sepuluh, tiga puluh, hingga empat puluh lima menit aku coba tunggu namun tak dapat temu. Masih seperti keadaan awal, sepi, seperti tak ada satu pun penghuni di rumah itu.

Doni merupakan anak dari bos ayahku dulu, yang sangat kukenal dan mengenalku. Kami adalah teman bermain sewaktu kecil, teman curhat, hingga teman berantem. Hal-hal kecil pernah kita ributkan, dari berakhir saling mengejek hingga saling pukul memukul. Hal itu tak membuat ayah kami menjadi musuh, malah mereka saling tertawa bersama saat melihat semua tingkah aneh kita sewaktu kecil dulu. Hal itulah yang membuat kami sadar, bahwa kami ini bukan hanya teman, tetapi juga keluarga.

Seiring berjalannya waktu, ayahku yang selalu setia bekerja sebagai sopir ayahnya Doni hendak berhenti karena ada urusan keluarga yang tak dapat lagi di pungkiri. Ia menderita penyakit yang luar biasa, setiap malam selalu berteriak tak karuan karena kesakitan. Entah apa, namun ia tak pernah menceritakannya sedikit pun kepadaku. Sampai saat ini, aku masih saja belum tau menau tentang mengapa ayahku bisa seperti itu. Namun, karena mungkin ayahnya Doni merasa tak lagi bisa menemukan sopir seistimewa ayahku, yang selalu mengemban amanah atau pun menjaga rahasia pribadinya, kemudian pengunduran diri ayahku pun tertolak. Tak berhenti di situ, demi keselamatan dan juga kebaikan semuanya ayahku masih saja bersikeras meminta untuk mundur. Dan akhirnya pemberhentian ayahku pun tersetujui, namun dengan satu syarat, mau mengantarkannya jalan-jalan ke kampung halaman untuk yang terakhir kalinya.

Dan ayahku pulang, membahas semua itu dengan ibuku, dengan membersamai emosi karena ibuku tak rela jika suami tercintanya jauh darinya. Ia sangat takut tak bisa di sampingnya saat suaminya benar-benar membutuhkannya, mungkin terkait dengan penyakit rahasia ayah. Setelah berjam-jam bernegosiasi, akhirnya ayah menelpon ayahnya Doni dan menyanggupi syarat pembebasan bekerjanya, walau tanpa restu dari ibuku.

Aku pun juga merasa tak enak saat itu, merasa tak rela juga. Bukan karena tak rela ayahku pergi, namun tak rela saat melihat air mata ibuku berjatuhan. Tapi aku kenal siapa ayahku, keputusannya mutlak, siapa pun akan sangat sulit untuk menghentikannya. Dan pada akhirnya semua itu gagal, setelah muncul berita di halaman utama koran dengan huruf kapital yang sangat berani, KECELAKAAN BERUNTUN DI TOL CIPALI MENEWASKAN PULUHAN ORANG.

Ya, benar, plat mobil yang dikendarai ayahku dan ayahnya Doni masuk ke dalam daftar korban kecelakaan. Kecelakaan itu benar-benar menelan banyak korban yang meninggal. Anehnya, hanya jasad ayahnya Doni saja yang dikenali, ayahku belum tertemu. Memang benar ada jasad yang terbakar, begitu pula yang hancur akibat tabrakan yang memang sangat mengerikan. Ada bus pariwisata yang melintasi pembatas jalan, entah karena kesalahan sopir atau kesalahan teknis di dalam mesin bus tersebut, yang aku tau bahwa bus itu benar-benar melintas pembatas jalan dan menghancurkan banyak mobil di arus yang berlawanan.

Saat itu ibuku langsung menangis histeris. Membanting koran yang digenggamnya dan menjungkir balikkan kursi tamu di teras rumahku. Bu Lia, tetangga sebelah rumahku langsung berlari dan memeluk erat ibukku. Ia tau apa yang dirasakan ibuku karena juga berlangganan koran yang sama. Dengan sigap ia memeluk dan menenangkan ibuku dengan sebisanya, walau ibuku tetap meronta-ronta, namun bu Lia tetap berusaha menenangkannya, dibantu oleh tetangga-tetanggaku yang lainnya.

Saat itu aku terpaku jatuh. Tatapanku kosong. Rasa tak percaya membelengguku. Tadi pagi ayah masih ngopi di bangku terbalik itu, bangku yang selalu ia gunakan setiap hari untuk menikmati pahitnya kopi dan sebatang rokok Djarum di tangan kirinya. Mana bisa aku percaya bahwa pagi setelah itu aku sudah tidak bisa melihatnya lagi di posisi dan kondisi yang sama? Semua ini seperti mimpi, mimpi buruk yang jauh sangat buruk, melebihi mimpi bertemu setan atau mimpi bahwa aku mati.

Aku tak bisa menerimanya, sangat tak bisa. Saat itu aku menjerit dengan lantang, sampai membuat beberapa orang yang menenangkan ibuku juga berlari untuk menenangkanku.

Sampai akhirnya aku sadar, yang kulakukan hanyalah sia-sia, setelah mendengar teriakan lelaki tua yang sangat lantang dari luar pagar. “Mas Pandu? Ngapain duduk di situ? Mas Doni sudah pindah rumah sejak tahun lalu!”

0 Comments

Posting Komentar