Cerbung - Korban (Bagian 3)



“Gimana mas? Besok udah mulai kerja?” tanya istriku penasaran.

Aku hanya menunduk dan diam seribu bahasa. Raut bahagia istriku langsung padam, seolah mengerti tentang apa yang aku sembunyikan. Menatap Ririn yang tertidur pulas di ranjang kusam. Betapa menyedihkannya aku, tak mampu berguna sedikit pun bagi orang-orang yang bergantung kepadaku. Apa ini karma?

Gerimis terdengar pelan menggermercikkan genting kontrakan. Semakin lama semakin deras, terbukti dengan menetesnya air-air tersebut di celah-celah atap. Ya, kontrakanku selain sempit juga tak begitu terawat. Tembok lapuk, genting bocor, beberapa kramik terlihat pecah, dan jendela-jendela maupun pintu sudah kropos. Walau tingkat pencurian di kampungku bisa dibilang cukup tinggi, kontrakanku ini selama ini masih tetap aman. Tak pernah ada kasus pencurian. Mugkin para pencuri merasa sia-sia, berpikir bahwa tak ada yang bisa diharapkan dari membobol kontrakan lusuhku ini.

Istriku terlihat sibuk menadahkan ember, panci maupun benda apapun yang dapat menampung air demi tidak basahnya lantai kontrakan kami. Aku pun menyesal, kenapa dulu aku tak pernah mau saat diajak ayah memperbaiki rumah. Sekarang aku tak bisa apa-apa, lengkap sudah ketidak bergunaanku.

“Ndu!”

“Ayah?” jawabku sembari membalikkan badan.

“Kenapa mas?” tanya istriku bingung.

“Kamu tadi dengar ada yang memanggilku? Aku yakin itu suara ayah!” sahutku dengan gegas berlari ke luar rumah.

Terlihat seorang lelaki tua yang berada di sebrang jalan depan rumahku. Saat itu hujan sangat deras, dan wajah lelaki tua itu terlihat samar-samar. Aku masih ingat betul, itu ayahku, ayah yang selama ini menghilang. Mataku langsung mengembun, jantungku berdetak kencang. Dia, ayahku pulang.
“Mas, kamu mau ke mana?!” istriku memanggilku, namun kuabaikan. Aku tetap berlari menyebrang jalan dengan penuh rasa senang. “Massss!!!”

Aku tetap berlari walau jalan depan rumahku cukup ramai. Ya, kontrakanku berada tepat di pinggir jalan raya. Mungkin ini yang menjadi alasan anggaran membengkak, tapi mau bagaimana lagi, sudah tak ada tempat lain yang bisa aku tinggali.

Akhirnya aku sampai, langsung aku genggam kedua tangannya karena raut wajahnya terlihat sangat tak asing bagiku. “Ayah? Kau kah itu?!”

“Iya Ndu, ini ayah. Kamu sudah besar ya sekarang. Apa kabar?”

Tanpa menjawab, aku langsung dekap badannya. Aroma kasturi tercium jelas dari arah tubuhnya. Aku tetap mendekapnya karena merasa tubuhnya sangat begitu dingin. Namun, semakin kudekap entah kenapa malah semakin dingin. Aku tau ayahku dari dulu memang sangat anti dengan yang namanya air hujan, katanya zat kimia yang terkandung di dalam air hujan sangat berbahaya baginya.

“Ayah, ayo masuk ke rumah. Walau rumahku kecil, tapi itu jauh lebih baik daripada tetap berada di sini,” ajakku dengan menggeret tangan dingin ayah untuk menyebrang ke arah kontrakanku.

“Tunggu, Ndu. Ayah tak bisa berjalan. Kaki ayah kaku. Mungkin sebaiknya kita berteduh di sini dulu saja,” ucapnya sambil menunjuk teras rumah kosong yang ada di belakang kami.

Aku pernah mendengar beberapa isu dari istriku. Katanya, ia pernah mendengar jeritan-jeritan perempuan dari arah rumah kosong itu. Tak hanya itu, katanya ia juga pernah melihat beberapa anak kecil tanpa pakaian bermain lari-larian keluar masuk rumah. Dan yang aku tau, rumah itu sudah kosong sejak pertama kali aku menempati kontrakanku.

“Ayo, Ndu. Sebentar saja, sampai kakiku ini bisa normal kembali.”

“Baik, Yah. Hati-hati, pelan-pelan saja.”

Kubuang stigma negatif mengenai rumah kosong itu, karena berteduh di teras rumah kosong jauh lebih baik daripada tetap berhujan-hujanan di pinggir jalan. Aku menatih ayah menuju teras rumah kosong itu. Tak kuduga, walau katanya rumah ini kosong, tapi rumah ini terlihat sangat bersih, seperti selalu di bersihkan setiap hari, bahkan jauh lebih bersih dari rumahku.

“Pelan-pelan, Yah.”

“Ahh.. Akhirnya bisa duduk,” ucap ayahku sembari menghela napasnya. “Eh iya, tadi kamu belum jawab. Bagaimana kabarmu, Ndu?”

Aku tak mendengar pertanyaan ayah. Aku masih menikmati keajaiban ini, bertemu lagi dengan ayah, ayahku yang selalu kurindu.

0 Comments

Posting Komentar