Cerbung - Korban (Bagian 4)



“Ndu?”

“Iya, Yah?”

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ayah? Malah nyengir-nyengir sendiri gitu?”

Tak ku sangka, ayah yang selama ini aku anggap tiada sedang berucap di depan mata. Ini tak hanya keajaiban, ini adalah anugrah terindah yang pernah kudapatkan. 

Kekejaman dunia terasa sirna. Ketidakadilan yang selama ini aku rasakan terasa berlalu begitu saja. Sangat berbunga, sangat gembira, sangat bahagia. Hatiku menari-nari dengan giat dan lihai, tak kenal arah, terus menari dan menari mengikuti metronom jantung yang memompa cepat kepingan-kepingan darah, darah warisan dari sang ayah.

“Ndu?” tanya ayahku lagi.

“Iya, Yah?”

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ayah? Malah nyengir-nyengir sendiri gitu?”

Aku merasa ada yang aneh.

“Ndu?”

“Iya, Yah?”

“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan ayah? Malah nyengir-nyengir sendiri gitu?”

Aku benar-benar merasa sangat aneh. Bukankah ini kejadian yang tadi? Pertanyaan, kondisi, situasi yang sama terulang terus tanpa henti. Apakah ini wajar? Tidak. Ini aneh.

“Ndu?”

“Tunggu, Yah! Stooop!”

“Ada apa, Ndu? Kamu tidak apa-apa kan?”

“Bukan masalah tidak apa-apa, Yah. Tapi masalah kenapa Ayah bisa Kembali lagi setelah sekian lama  menghilang? Bukankah Ayah telah ma—“

Ayah menunduk sedih dan memotong omonganku. “Jadi kamu juga ikut membunuh keberadaanku, Ndu?”

Aku tersentak kaget. Apa yang barusan aku katakan? Bukankah selama ini aku selalu mempercayai bahwa ayah selamat dalam musibah mengerikan yang pernah diberitakan? Kenapa sekarang setelah aku dipertemukan langsung malah menganggapnya sudah tiada? Aku benci pikiranku.

“Maaf, Yah. Bukan maksudku untuk mem—”

Ayah memotong omonganku dengan mengelus pundakku. “Udah enggak papa, wajar kok. Lagian juga tak ada yang bisa diharapkan setelah tau kejadian itu. Semua itu tiba-tiba, Ndu.” 

“Lalu, bagaimana Ayah bisa selamat dari kejadian mengerikan itu?!” tanyaku spontan.

“Ceritanya panjang, Ndu.”

“Tak apa, Yah. Ceritalah, aku janji, aku punya banyak waktu untuk mendengarkan cerita panjangmu,” mohonku untuk menuruti rasa penasaranku.

“Tapi, itu sangat mengerikan, Ndu.” 

Aku tak berpikir panjang. Seharusnya aku tak langsung menanyakan semua itu. Bahkan, bisa saja aku menyakitinya karena menghadirkan ingatan kejadian mengerikan itu lagi.

“Maaf, Yah. Maafkan aku,” sesalku. “Lagi pula, itu tak begitu penting bukan? Karena yang terpenting adalah aku bisa bertemu lagi denganmu, Ayah.”

“Sejak kapan anakku bisa berkata-kata indah seperti ini? Siapa yang mengajarimu? Hahaha.”

“Siapa lagi kalau bukan engkau, Ayah.”

“Hahaha, lagi-lagi kau katakan kata-kata itu! Betapa bahagianya hatiku, Ndu!” ucapnya sambil terkekeh-kekeh dengan raut bahagia.

Sumpah, ini adalah hari termembahagiakan bagiku. Terimakasih sudah hadir kembali dalam hidupku. Aku sangat menyayangimu, ayahku.

0 Comments

Posting Komentar