Cerbung - Korban (Bagian 5)



Mengenang memang menenang. Ayah mengajaku mengingat ibu yang sudah lama tak kutemu. Hanya bayangnya yang membekas jelas di ingatanku, saat ia menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa beberapa tahun setelah kejadian itu.

Seperti yang kukira, ayah juga sangat merindukan ibu, jauh sangat merindukannya, mungkin melebihi rasa rinduku kepadanya. Bagaimana tidak, beliau adalah istri tercintanya, istri yang selalu mendampinginya di kala apapun juga, termasuk selalu siap siaga saat penyakit misterius ayah kambuh. 

“Kamu sudah sebesar ini, pasti kamu sudah berkeluarga ya, Ndu?” tanya ayah yang tiba-tiba melenceng dari pembahasan mengenai ibu.

“I—iya yah, aku menikah dengan Andin.”

“Apa?!” ayah tersentak kaget. “Kamu kawini sepupunya Doni yang sangat cantik itu?!” lanjutnya.

“I—iya yah, mau bagaimana lagi. Sudah nggak ada stok lain,” gurauku dalam bangga.

Ayah langsung mengelus rambut kritingku dengan cepat. “Ini baru namanya anakku!”

Andin merupakan sepupu Doni yang sejak dulu aku incar. Sejak kecil aku selalu mengamatinya. Dari cara berjalan, bicara, cerita, menari, menyanyi, bersolek, bercanda, bahkan sampai cara marahnya. Semua aku amati tak terkecuali, bukan tanpa alasan, karena aku memang telah jatuh hati saat pertama kali bertemu, saat aku SMP dan satu mobil bersamanya karena ayah mendapat tugas dari ayahnya Doni untuk menjemputnya sepulang sekolah.

***

“Tadi itu siapa yah?” tanyaku penasaran.

“Tadi waktu sebelahan nggak bertanya...” goda ayah sembari menggerakkan preseneling.

“Ayo dong, Yah! Beri tau!” rengekku sembari menggeret lengan baju ayah.

Mobil yang kami kendarai pun sedikit oleng akibat tarikanku di lengan kiri ayah. “Oke-oke-oke! Lepaskan tanganmu, bahaya!” tegasnya dengan senyuman. “Tadi itu Andin, Andin Muaratia, anaknya Pak Bustomi. Dia adalah anak dari pamannya Doni.” Dengan kata lain, Andin adalah sepupu dari Doni.

Doni memang gila, kenapa dia tak pernah cerita jika dia punya sepupu yang cantiknya bak bidadari itu?! Entah kenapa, sejak aku duduk di sisinya, di bangku mobil belakang, hatiku terasa berdetak sangat kencang. Dag-dig-dug-dag-dig-dug-dagdigdug-dagdigdug-dagdigdug, seperti mau meledak. Terasa sangat grogi, tak punya nyali, padahal hati berteriak nyaring untuk memaksaku mengulurkan tangan dan berkenalan. Mungkin ini yang dinamakan kasmaran?

“Dia beneran sepupunya Doni, Yah?” tanyaku masih penasaran.

“Mana mungkin Ayahmu bohong,” tegas ayah sambil mengepal tangan kirinya di dada kanannya.

“Ayah sering berbohong,” jawabku sebal. “Buktinya minggu lalu Ayah janji mau mengajakku menonton pertunjukan lumba-lumba, sampai sekarang, sampai acara itu bubar, ayah tak juga mengajakku nonton!”

Ayah menatapku sayu. “Ndu, maafin Ayah. Andai kau tau, sebenarnya para lumba-lumba itu sempat disiksa mati-matian terlebih dahulu untuk bisa melakukan perintah dari sang pelatih. Apa kamu tega?”

“Selalu saja itu alasannya,” sahutku geram. “Apa ayah juga tak kasihan? Saat tak ada yang datang membeli tiket dan lumba-lumba itu tak dapat jatah makan? Bagaimana jika lumba-lumba itu sakit?! Bagaimana jika lumba-lumba itu mati?! Jika semua itu terjadi, sudah pasti ini salah Ayah!”

Ayah kembali menatapku, namun kali ini berbeda, ia menatapku dengan senyuman.

“Baiklah. Bagaimana jika Ayah tebus kesalahan Ayah dengan memberikanmu nomer telefon Andin?”

Dagdigdug. Seketika tubuhku terasa terhenti saat mendengar nama itu. Andin. Ya, benar, Andin sepupunya Doni yang memiliki paras bak makhluk kayangan.

“A—apa benar, Yah?” tanyaku gugup. “Apa benar, Yah?!” tanyaku lagi dengan tanpa sadar menggeret lengan baju ayah lebih keras daripada geretanku sebelumnya.

“Ndu! Lepaskan tanganmu, kita sedang di tikungan!” himbau ayah yang kuhirau. “Ndu, lepaskan! AWASSS NDUUUUU!!!!”

Ciiittttt...

0 Comments

Post a Comment