Cerbung - Korban (Bagian 6)



Ayah menatap wajahku sayu. “Maafin Ayah dulu ya, Ndu. Andai saja dulu Ayah tak teledor—"

“Udah, Yah. Nggak usah dipikirin. Itu semua salahku, aku yang terlalu nafsu untuk tau siapa itu Andin. Lagipula luka di jidat ini mampu menjadi obat rindu, saat aku benar-benar rindu pelukanmu, Yah,” ucapku sambil mengelus-elus bekas luka kecelakaan dulu, saat menabrak pembatas jalan di tikungan ketika perjalanan pulang.

Ayah tersenyum lega.

“Ndu? Kamu ingat ada ruang bawah tanah di rumah kita dulu?” celetuk ayah tiba-tiba.

Aku terkejut, seketika terlintas ingatan takjub saat dulu pertama kali memasuki ruang itu. 

***

“Ada apa sih, Yah?! Aku lagi asyik main sama Doni. Hari ini juga hari pertama aku kenal Andin. Ayah mengacaukan semua!” kesalku dengan tangan kanan diseret ayah.

“Ini lebih penting dari Andin-andin tak jelasmu itu!”

Aku mengikuti langkah kaki ayah dengan penuh kesal. Bagaimana tidak, kesempatan emas untuk mengenal dan mengerti Andin lebih jauh telah sirna. Tak seperti biasanya, ayah tak pernah seperti ini. Mungkin memang ini sesuatu yang sangat penting, sehingga memaksaku untuk merelakan salah satu pengalaman penting di dalam hidupku.

***

“Ndu?”

“I—iya, Yah?” jawabku kaget.

“Malah melamun, kamu sudah lupa ya?” tanya Ayah usai menyadarkanku dari lamunan.

Aku masih menerka-nerka ingatanku yang usang. “Ingat dong, Yah. Kalau nggak salah yang—“

“Ya, kamu benar-benar lupa, Ndu.”

Ayah terlihat begitu kecewa setelah mendengar jawabanku yang tampak ragu. Mau bagaimana lagi, aku memang tak begitu ingat tentang tempat itu. Aku sempat berpikir bahwa ayah mengada-ada, ngelantur, karena seingatku rumahuku dulu hanyalah sebuah kontrakan kecil yang amat tidak memungkinkan untuk ayah membangun sebuah ruang bawah tanah. Tapi kenapa aku punya potongan ingatan tentang ajakan ayah? Ingatan siapa ini? Apa aku terlalu stres sampai-sampai bisa terlintas khayalan tidak masuk akal ini? Atau mungkin aku memang lupa, sangat lupa sampai-sampai bisa melupakan kejadian itu. Untuk kali ini, hanya ayah yang benar-benar tau kebenarannya.

Sebenarnya aku sangat ingin melempar pertanyaan demi menumpas tuntas tanda tanya besar di dalam kepalaku, tapi sepertinya tak mungkin, bisa saja malah membuat ayah menjadi semakin kecewa. Bukankah ini pertemuan pertama setelah sekian lama berpisah? Seharusnya aku tak harus memikirkan hal lain selain keadaan ayah. “Ayah sehat kan? Sudah lama ya kita nggak—“

“Kau lupa tentang janji kita dulu, Ndu. Kau pernah janji untuk melanjutkan mimpi Ayahmu ini, mimpi yang kukubur di bawah pondasi rumah yang pernah kita tempati. Ayah baru sadar, kau terlalu menyepelekanku.”

“Bu—bukan seperti itu Yah maksudku, tapi—“ elakku terbata-bata belum usai.

“Cukup!” potong ayah. “Kalau hal penting seperti itu kamu sepelekan, apalagi aku. Pasti kau sudah sangat jauh melupakan keberadaanku!”

0 Comments

Post a Comment