Apakah Kebahagiaan Layak untuk Dipamerkan? - RenunganMalamKamis#6


Apa bahagia itu? Bahagia adalah sebuauh situasi di mana seseorang merasakan tentram atau sedang dalam keadaan (perasaan) senang. Namun, apakah bahagia itu benar-benar ada? Atau hanya sebuah penampilan saja? Untuk siapa bahagia itu ditujukan? Dan untuk apa fungsi dari kebahagiaan? Mari kita bedah satu persatu.

Pernahkah kau melihat kebahagiaan orang lain? Ya, yang terlihat di story Whatsapp, status Facebook, maupun di postingan Instagram. Orang-orang tampak tersenyum, tertawa, bergaya, dan beraneka dengan segala tingkahnya. Apakah mereka benar-benar sedang bahagia? Atau hanya sedang berpura-pura bahagia? Lantas, untuk apa jika mereka hanya berpura-pura bahagia? Apakah dengan dianggap bahagia oleh orang lain akan menciptakan kebahagiaan yang sejati?

Jika seseorang memang benar-benar bahagia, untuk apa ia memamerkan kebahagiaannya tersebut dan menunjukkan kesemua orang? Apakah kebahagiaan membutkan pengakuan dari semua orang? Jika tidak, lantas bagaimana? Apa hasil dari sebuah postingan atau pertunjukan sebuah kebahagiaan jika bukan pengakuan? Jika iya, apakah ketika tidak diakui oleh orang lain maka kebahagiaan tersebut akan sirna begitu saja? Lantas, kebahagiaannya itu terletak di situasi yang dipamerkan atau di situasi pamernya?

Misal, katakanlah ada seseorang yang bernama X. Si X sedang berjalan-jalan di pantai. Kemudian ia mengambil foto dengan polesan senyum bersama background laut yang ombaknya merambati kaki-kakinya. Ia posting di Instagram. Setelah satu jam hanya mendapat sedikit love. Kemudian ia langsung hapus dan mencoba menguploadnya kembali sampai mendapat love yang berjibun. Pertanyaannya, di mana letak kebahagiaan si X? Apakah saat ia berada di pantai? Bisa jadi. Atau di saat ia mendapatkan banyak love di postingannya? Bisa jadi juga.  Atau kedua-keduanya? Atau malah sebenarnya si X sama sekali tidak bahagia karena pantainya tidak terasa dan postingannya tidak mencapai target love yang diharapkan?

Jika kebahagiaan bertitik tumpu di “merasa senang dan tentram”, maka seharusnya kita tak perlu memaksakan sebuah situasi yang kita anggap bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Kita tau, kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. Maka dari itu, tak seharusnya kita mencontoh kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Jika hanya pengakuan yang dicari, bukankah pengakuan dari diri sendiri itu jauh lebih penting? Yang tak perlu repot-repot untuk mencarinya, yang tak perlu membutuhkan usaha lebih untuk mendapatkannya. Namun, apakah berkenan jika tidak mendapatkan pengakuan kebahagiaan oleh orang lain?

Sebenarnya, beban nggak sih saat mendapat banyak pengakuan? Saat orang lain berekspetasi tinggi terhadap apa yang kita miliki, padahal kita tau, bahwa semua yang kita tampilkan adalah sisi lain dari kenyataan yang kita rasakan. Memang benar jika saat kita memosting sesuatu yang kita harapkan adalah antusias dari beberapa followers atau daftar kontak kita. Namun, apakah sudah benar jika puncak dari sebuah kebahagiaan itu terletak di sebuah pengakuan orang lain?

Seringkali kita teringat anjuran para leluhur untuk selalu menyukuri setiap kebahagiaan yang sedang dialami. Jika tujuan bersyukur adalah berterimakasih kepada Tuhan, apakah masih perlu mendapatkan pengakuan dari orang-orang sekitar? Bukankah saat kita beromantis ria bersama Tuhan itu bersifat personal? Apakah Tuhan juga akan ikut senang saat mengetahui bahwa hamba yang sedang bermesraan bersamanya itu malah mengumbar kegiatan bercintanya tersebut kemana-mana? Apa fungsi dari bersyukur jika tujuannya bukan untuk bersyukur?

Apa makna bahagia menurutmu? Silakan ungkapkan pendapatmu di kolom komentar. Mungkin sudut pandangmu mengenai bahagia mampu membantu teman-teman yang lain. Terimakasih. :)

Joe Azkha

0 Comments

Posting Komentar