Resensi Lengkap Novel Hujan - Tere Liye (2016)


Tentang Novel "Hujan"

( Liye, Tere. 2016. Hujan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Hal : 1-320 )
Judul : Hujan
Penulis : Tere Liye
Tahun tebit : 2016
Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 320 halaman, 20 cm
Cetakan    : kedua puluh tujuh April 2018
Cover : oleh Orkha Creative
ISBN : 9786020324784
          9786020383590 (digital)

Sinopsis Hujan

Tentang Persahabatan
Tentang Kebersamaan
Tentang Cinta
Tentang Perpisahan
Tentang Melupakan
Tentang Hujan

Bumi dilanda oleh bencana yang memusnahkan banyak umat manusia. Bencana itu sampai memporak – porandakan dua benua tempat ayah dan ibu Lail tinggal. Dengan kekuatan gempa bumi yang dahsyat mencapi 10 skala Richer, membuat gedung-gedung runtuh, jalan layang berguguran, tanah merekah, runah – rumah bagai dibelah, jalur kereta bawah tanah ambruk membuat terdengarnya suara gemuruh dan teriakan. Saat  itu terjadi Lail dan ibunya sedang berada di dalam kapsul kereta bawah tanah yang melaju pesat menuju sekolah Lail karena itu hari pertama Lail bersekolah. Lail kehilangan ibunya di sana saat menaiki tangga darurat untuk keluar dari tempat tersebut. Saat  para komuter berhasil menemukan tangga darurat, berbaris menaiki tangga, tiba – tiba gempa susulan datang. Hanya Lail dan Esok yang selamat. Sisanya, yang lain jatuh dan tertimpa material dan tanah. Esok adalah lelaki dua tahun lebih tua dari Lail yang menarik ransel Lail untuk bisa berhasil keluar dari lubang tangga darurat tersebut. Lail menjadi yatim piatu sejak bencana itu karena kota tempat ayahnya bekerja juga dilanda tsunami yang semua penduduknya dipastikan meninggal. Esok juga kehilangan empat kakakknya dalam bencana ini.

Esok mengajak Lail untuk memeriksa ibunya di toko kue miliknya. Ibunya masih hidup, hanya saja kakinya tertimpa rak toko, esok berusaha menolongnya. Lail memanggil bantuan yang sedang berpatroli. Ibu Esok kemudian dibawa di tenda pengungsian untuk diberikan pengobatan. Esok dan Lail juga menuju ke tenda pengungsian untuk mendapatkan bantuan. Mereka selalu bersama tidak terpisahkan. Mereka juga membantu pekerjaan di pengungsian. Lail selalu teringat ibunya, kemudian mendatangi lubang tangga darurat kereta bawah itu. Langit mendung, Esok menyusulnya karena khawatir akan adanya hujan asam yang mematikan. Esok membujuk Lail untuk ikut pergi berteduh bersamanya dan berjanji akan selalu menemani Lail untuk datang ke tempat mengerikan tersebut.

Hari ke 30 setelah bencana, anak – anak mulai kembali bersekolah di sekolah darurat. Setahun setelah bencana itu, kantor pemerintah dibuka, toko kembali beroperasi, mesin pabrik menyala, pusat bisnis kembali berdenyut tetapi reruntuhan gedung masih dimana-mana. Selain itu tenda pengungsian mulai berkurang penghuninya untuk kembali pulang atau tinggal bersama saudaranya. Kondisi ibu Esok membaik walaupun bencana itu mengambil paksa kakinya. Esok diadopsi oleh keluarga kaya, Wali Kota. Ibu Esok juga akan mendapatkan pengobatan yang lebih baik lagi jika tinggal dengan keluarga kaya. Saat itulah dimulai tercipta jarak antara Esok dan Lail hingga bisa bertemu sebulan, setahun bahkan dua tahun sekali. Jarak itu tercipta karena Esok yang sibuk dengan proyek besarnya membuat kapal raksasa yang berfungsi seperti pesawat terbang untuk menganggkut penduduk bumi menjauhi kepunahan, Proyek Kategori 1. Sedangkan Lail dikirim ke panti sosial. Teman sekamar Lail bernama Maryam. Maryam adalah pendengar yang baik yang senang bergurau. Dengan kesibukan Esok, Lail berusaha melupakan rindunya dengan mengikuti organisasi relawan. Dengan teknologi yang amat canggih, Lail tidak pernah menelpon esok karena tidak ingin menganggu kesibukan proyeknya di laboratorium. Jarak menyadarkan akan perasaan Lail pada Esok, Lail menyukai Esok lebih dari seorang teman. Lail juga membuatkan Esok topi biru bertuliskan ‘The Smart One’ yang selalu dikenakannya Esok saat mereka bertemu.

Satun tahun Lail dan Maryam melakukan pelatihan dasar. Kemudian mereka resmi dilantik menjadi anggota organisasi relawan yang paling muda. Esok menghadiri acara tersebut kemudian mengajak Lail untuk pergi ke toko kue milik ibunya. Lail dan Maryam sering ditugaskan untuk menjajal ilmu relawannya. Ditugaskan dari sektor 4, sektor 3, sektor 2, juga pernah pada sektor 1 yaitu lokasi yang paling serius. Lail membalas kejamnya takdir dengan membantu orang lain, mengobati kesedihan dengan berbuat baik. Bahkan pada saat Lail dan Maryam di tugaskan pada sektor 2 mereka menjadi pahlawan penyelamat umat manusia dengan berlari sejauh 50 km, ditengah hujan badai, di lembah terisolasi karena bendungan di hulu sungai retak. Hanya butuh 10 jam air itu sampai di hilir dan butuh 2 jam untuk menyapu kehidupan hilir.

Setelah kejadian menakjubkan itu, Lail dan Maryam kembali fokus pada sekolahnya. Mereka diundang ke kota untuk menghadiri acara peringatan 5 tahun berdirinya organisasi sekaligus peringatan gunung meletus dan mendapat penghargaan Dedikasi dan Pengorbanan Tingkat Pertama. Atas jasa mereka, pemerintah menganugerahkan Lisensi Kelas A Sistem Kesehatan dan cek digital yang dihadiahkan untuk Ibu Suri, panti. Disana Lail mengenalkan Esok pada Maryam. Maryam sangat terkejut karena lelaki yang diceritakan Lail adalah Soke Bahtera, seorang ilmuwan muda paling terkemuka yang dikenal sebagai penemu banyak teknologi canggih, terutama mesin terbang. 

Beberapa bulan sebelum Lail diundang ke kota, mereka sedang sibuk belajar di kamar panti karena ujian masuk sekolah keperawatan. Sekejap hal menganggu mereka, mereka terkagum akan salju yang turun pada negara mereka, bahkan pada negara tropis lainnya. Awalnya salju turun hanya dua minggu sekali, tapi sekejap membuat seisi kota panik karena tebalnya hampir 50 cm membuat suhu dingin melanda kota. Selain itu juga menyebabkan krisis bahan pangan yang semakin serius, karena tidak mungkin ada tumbuhan yang tumbuh pada ladang salju. Penduduk memaksa Walikota untuk mengintervensi lapisam statosfer dengan meluncurkan pesawat ulang-alik. 

Setelah pemerintah menyetujui permintaan penduduk dengan meluncurkan pesawat ulang-alik, paginya salju telah mencair  dengan udara hangat menerpa wajah. Persis sekali seperti menyambut musim semi. Krisis bahan pangan mulai teratasi dengan sumbangan pasokan bahan pangan dari negara subtropis. Butuh tiga bulan hingga akhirnya lahan pangan menghasilkan disusul peternakan. Lail mengajak Maryam berkunjung ke toko kue ibu sekaligus menanyakan kabar Esok, Esok akan diwisuda. Lail meminta Maryam untuk menemaninya menghadiri acara wisuda Esok. Di Univeritas Ibu Kota juga terdapat ibu Esok dan keluarga yang mengadopsinya. Acara wisuda esok diakhiri dengan makan bersama keluarga, Lail dan Maryam juga ikut. Setiba di kota setelah wisudanya Esok, Lail dan Maryam segera tenggelam belajar untuk memperoleh lisensi perawat. 

Selama enam bulan sejak suhu kembali normal, tidak ada satupun awan yang terlihat sehingga tidak pernah turun hujan. Itu akan menyebabkan alasan awal kepunahan manusia karena bumi akan dihajar iklim panas ekstrem yang akan menyebabkan kekeringan. Dapat dikatakan bahwa itu terjadi karena keputusan untuk mengintervensi lapisaan statosfer, lapisan statosfer menjadi rusak juga lapisan dibawahnya, troposfer. Dengan cuaca panas yang menjadi alasan kucuran keringat, Lail dan Maryam lulus dari sekolah perawat dan bisa bekerja di rumah sakit. Nilai-nilai sekolah mereka bagus, semua berjalan lancar. Esok datang pada saat wisuda Lail. Esok mengeluarkan sebuah bola logam dari sakunya dan sebuah hologram muncul. Esok menjelaskan mengenai proyek yang selama ini membuatnya sibuk hingga tidak bisa bertemu dengan Lail, proyek kapal besar ‘Proyek Kategori 1’. Juga menjelaskan mengenai skenario terburuk akibat musim panas ekstrem yang menerpa bumi.

Kurang dua minggu lagi mesin kapal terbang itu akan diluncurkan menjauhi bumi. Saat itu Lail dan Maryam sedang ditugaskan pada sektor 3. Tidak disangka Wali Kota menemui Lail dan membicarakan mengenai tiket kapal besar tersebut. Setiap kapal hanya bisa dinaiki oleh 10.000 penumpang yang dipilih secara acak melalui mesin pencacah genetik. Berarti hanya 10.0000 penduduk yang bisa diselamatkan. Kapal besar itu akan membawa mereka ke orbit 100 hingga 200 km dari bumi. Jauh dari lapisan statosfer, mengirim manusia ke angkasa hingga  bumi kembali pulih. Esok memiliki 2 tiket, tiket pertama karena hanya Esok yang bisa menangani kapal besar itu ketika terjadi masalah. Sedangkan tiket kedua dipilih dari mesin pencacah genetik tersebut. Wali Kota meminta Lail akan memberikan tiket itu pada anak semata wayangnya, Claudia. Wali kota sangat yakin bahwa 1 tiket Esok akan diberikan pada Lail karena Esok sangat menyayangi Lail.

Lail dan Maryam kembali ke kota. Lail selalu menunggu telpon dari Esok untuk mendapatkan jawaban mengenai tiket itu akan Esok berikan pada siapa. Satu hari sebelum kapal besar itu berangkat, Lail mendapatkan kabar dari Wali Kota. Wali Kota dn istrinya sangat berterimaksih karena Esok sudah memberikan tiket itu pada Claudia. Lail bingung karena Lail tidak melakukan apapun untuk membujuk Esok. Tapi Lail menjadi tahu bahwa Esok memilih Claudia untuk bersamanya menjauhi bumi. Lail memutuskan untuk pergi ke Pusat Terapi Saraf Kota untuk menghapus ingatannya. Maryam kemudian menyusulnya.

Sesampainya di Pusat Terapi Saraf, Maryam hanya bisa menunggunya di luar ruangan. Lail sedang melakukan terapinya dengan Eljah. Maryam menghubungi Esok, kemudian mengatakan mengenai keinginan Lail menghapus ingatannya bersama Esok. Esok mengangkat telpon dari Maryam dan bergegas menuju ke Pusat Terapi Saraf dan memaksa untuk bisa masuk ke ruangan tempat Eljah melakukan tugasnya. Namun tetap saja tidak berhasil seperti yang Maryam lakukan. Esok sangat menyesal kenapa tidak memberi tahu Lail mengenai tikrt itu. Memang satu tiket diberikan pada Claudia, itu untuk membalas budi baik ayah angkatnya yaitu Wali Kota. Dan satunya lagi Esok berikan pada ibunya karena Claudia bisa merawat ibunya di sana. Selama Enam hari terakhir Esok tidak bisa menghubungi Lail karena selama itu juga Esok sedang melakukan kloning saraf otak yang tidak bisa dihentikan prosesnya. Tidak lama kemudian Lail keluar dari ruangan itu. Esok dan Maryam langsung mendekatinya. Esok menangis karena Lail seperti tidak mengingatnya. Esok benar-benar menangis saat tahu bagaimana dia akan menghabiska sisa waktu di bumi jika Lail melupakannya. Lail berkata padanya “aku yang memberikan topi biru itu padamu Esok”. Maryam dan Esok sontak sangat terkejut. Ternyata didetik terakhir sebelum mesin itu bekerja, Lail memutuskan memeluk erat semua kenangan itu. Mesin modifikasi ingatan tidak pernah keliru, dia bekerja sangat akurat. Menghapus semua benang merah. Hanya saja pada kasus ini, Lail mengubah benang merahnya sehingga tidak memiliki benang merah. Esok sangat bahagia. Satu bulan kemudian, di tengah terik matahari Esok dan Lail menikah.

Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri.
Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. 
Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. 
Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? 
Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.
(Tere Liye, 2016: 256. Hujan)

Unsur Instrinsik

Tema : Percintaan yang berakhir bahagia

Alur cerita : Campuran maju mundur

Sudut Pandang : Orang pertama (Aku) pelaku utama

Latar tempat : Stasiun kereta, gerbong kereta bawah tanah, lubang tangga darurat, pengungsian, panti sosial,sekolah keperawatan, toko kue, markas dan wilayah bantuan Organisasi Relawan, kolam air mancur Central Park, ruangan 4x4 di Pusat Terapi Saraf Kota.

Amanat : Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan dan hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

Tokoh dan Penokohan: 
  • Lail  : Gadis pendiam yang pemberani. Juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. 
  • Esok (Soke Bahtera) : Seorang ilmuwan muda yang sangat berbakat, pintar dan memiliki kreatifitas yang tinggi. Esok juga konsisten, penurut dan baik hati.
  • Maryam : Teman sekamar Lail yang memiliki selera humor namun dapat menjadi pendengar baik dan penjaga rahasia yang dapat dipercaya. Jiwa sosial maryam juga tinggi.
  • Eljah : Seorang fasilitator di Pusat Terapi Saraf yang profesional.
  • Ibu Esok : Seorang ibu yang percaya terhadap apapun yang dilakukan anaknya. Ibu Esok baik hati dan mudah bergaul.
  • Ibu Suri : Ibu angkat yang memiliki watak tegas, perhatian dan penyayang.
  • Wali Kota : Seorang pemimpin yang ramah, pekerja keras, tanggung jawab dan baik hati. Menjadi panutan dalam keluarganya.
  • Istri Wali Kota : Seseorang yang ramah, baik hati dan penyanyang. Sudah menganggap Lail seperti anaknya sendiri.
  • Claudia : Seseorang yang mudah bergaul, ramah dan tidak sombong. Esok menganggap seperti adiknya sendiri.

Plot :
  • Perkenalan : Pada saat Esok membantu Lail untuk keluar dari tangga darurat saat bencana alam itu terjadi. Setiap harinya di pengungsian mereka selalu bersama. Esok menjaga Lail dengan sangat baik hingga Lail bisa melupakan ayah dan ibunya. 
  • Awal Konflik : Saat Esok diadopsi oleh keluarga Wali Kota. Esok menjadi sibuk belajar dan diterima di Universitas Kota. Esok mulai tambah sibuk dengan proyek-proyek besarnya di laboratorium hingga memangkas waktu Lail dan Esok untuk bertemu. Lail mulai berusaha melupakan Esok dengan kesibukannya mengikuti Organisasi Relawan.
  • Klimaks : Peluncuran pesawat ulang-alik untuk mengintervensi lapisan statosfer.Sehingga muncul ancaman musim panas ekstrem melanda bumi, karena rusaknya lapisan statosfer dan troposfer bumi. Esok menjadi sangat sibuk. Setiap waktunya dihabiskan untuk membuat kapal besar rahasia demi menyelamatkan kepunahan manusia. Ketika Lail mengetahui fakta mengenai kapal besar yang hanya bisa mengangkut 10.000 penumpang termasuk Claudia didalamnya. Kapal besar itu juga hanya Esok yang bisa menangani jika terjadi masalah. Hati Lail terasa sakit mengetahui fakta itu. Lail memutuskan untuk menghapus ingatannya. Lail menuju ke kota menemui Eljah di Pusat Terapi Saraf Otak. Lail menghabiskan waktu sangat lama dengan bando pemindai yang terpasang di kepalanya guna mendeteksi setiap kejadian yang akan mengambarkan garis benang berwarna pada monitor.
  • Anti Klimaks : Maryam menyusul Lail menuju Pusat Terapi Saraf Kota. Maryam tidak bisa memasuki ruangan itu, kemudian memutuskan untuk menghubungi Esok dan menceritakan apa yang sedang Lail lakukan. Esok yang waktu itu sedang tiba di stasiun langsung bergegas menuju ke Pusat Terapi Saraf Kota. Namun Esok juga tidak bisa memasuki ruangan itu. Lail keluar dari ruangan, tetapi dia masih mengingat Esok.
  • Penyelesaian : Lail memutuskan untuk memeluk erat kenangannya dengan Esok. Sehingga tidak ada benang merah yang dihapus oleh mesin modifikasi ingatan. Esok dan Lail menikah di tengah terik matahari. Esok berjanji tidak akan pernah meninggalkannya lagi.

Unsur Ekstrinsik (Nilai yang Terkandung)

Nilai Sosial : Menolong orang dengan tulus dan ikhlas yang bisa mengobati kesedihannya. Lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

Nilai Moral : Mengajarkan sikap  tekun dan rajin yang pandai menghasilkan teknologi canggih yang berguna bagi banyak manusia. Namun semaju apapun teknologi di muka bumi, tidak ada yang bisa mencegah kehendak Tuhan. Juga mengajarkan bahwa apapun yang terjadi hati harus mampu mengikhlaskan dan hati juga harus mampu melapangkan kehilangan sesuatu yang amat berharga.

0 Comments

Post a Comment