Cerpen - Kau Tak Sendiri


Setelah terlihat lama terbaring, kucoba bangkitkannya dengan penuh kesabaran. Kuajak untuk santai dan mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Kupanggil pelan, kuelus dan kujabat dengan penuh perasaan. Kurayu dengan segala buaian yang kuharap bisa memanipulasi rasa pesimisnya dengan menumbuhkan rasa optimis yang menunjang untuk kelangsungan hidupnya. Kuajak bicara pelan-pelan, namun tertolak karena tak sesuai dengan keinginan. Namun harus tetap aku lakukan demi membuatnya menjadi lebih berarti.

Waktu terus bergulir. Terus tak tega ketika melihatnya terkujur kaku di aras ranjang. Lama kurayu namun tak juga kunjung mempan karena ia sudah nyaman dengan segala kemalasan. Tak mau bergerak, tak mau terima, bahkan sudah tak mau tau tentang hal baru yang sekiranya bisa sedikit membuatnya sadar bahwa hidup tak selamanya seperti itu.

"Ayo bangun?” bisikku pelan di samping telinga kirinya saat ia mulai perlahan memejamkan matanya kembali.

Sepi. Tak ada respon. Dia malah semakin pejam dan semakin lelap.

“Ayo bangun!” paksaku yang sedikit memberikan efek keget.

Sejenak matanya menganga. Ia pun langsung mengangkat tubuhnya untuk disandarkan di depan kepala ranjang. Kemudian ia melihatku dengan tatapan kosong. Tak mengerti apa maksudnya, tapi tetap aku dekati dan menyuntikkan segala rasa agar bisa membuatnya bangkit dan lepas dari segala beban yang telah menghuni di dalam punggungnya.

“Kamu kenapa?” tanyaku pelan.

Ia masih saja diam. Tak ada isyarat maupun tidakan. Malah tatapannya semakin tajam, seperti hendak menerkam.

“Eits! Sabar! Semua pasti ada jalan keluar!” tegasku.

Matanya yang tajam kembali menumpul secara perlahan, seakan mengerti tentang maksud perkataanku. Kuelus pundaknya dengan penuh kasih. Terasa sangat panas, walau perlahan mereda. Aku tau bahwa bebannya teramat berat. Tak pernah kulihat sebelumnya ia berada di dalam fase serendah ini, di mana ia begitu trauma setelah perpisahan menampar kuat dan mengawininya dengan hebat hingga melahirkan trauma-trauma junior yang selalu bergelantungan di setiap bagian tubuhnya.

“Ayo beranjak! Kamu tak seharusnya berlama-lama di tempat ini. Semua presepsimu tak selamanya benar. Cobalah untuk tabah dan bersahabat dengan kenyataan. Aku tau, kau sebenarnya sehat. Kau hanya berpura-pura sakit agar bisa selalu bermalas-malasan di atas kasur. Apa kau bangga saat terlihat hancur seperti ini? Ayo bangun! Aku akan menemanimu mencoba hal baru yang mungkin bisa menyembuhkanmu. Mau kah kau?” tanyaku pelan yang membuatnya sedikit berkaca-kaca, diikuti dengan dekapan erat yang membuatnya perlahan kembali menyatu denganku.

***

Penulis : Joe Azkha
Judul    : Kau Tak Sendiri
Tahun   : 2020

0 Comments

Posting Komentar