TENTANG OVERTHINGKING (BERPIKIR BERLEBIHAN) - SOKASIK#1


Hello semuaaaa…

Selamat datang di ruang yang bakalan bahas banyak hal soal hidup dan kehidupan. Ruang untuk saling berbagi cerita, pengalaman, saran, dan pengetahuan. Ruang ini bernama Sokasik, alias Soal Kehidupan Asik.

Kenalin aku penulis baru di anaksenja.com. Panggil saja aku "Us", seorang gadis yang hobi makan dan juga menulis. Kok bisa menulis? Why? Bukan karena aku lulusan S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia loh yaaa, tetapi karena beberapa alasan lain. Salah satunya yaitu percaya bahwa setiap tulisan memiliki nyawa tersendiri yang bisa membuat para pembacanya mengikuti, merasakan sekaligus membayangkan apa yang penulis tuangkan di dalam tulisan. Reward terbaik penulis adalah emosi pembaca. Semakin banyak komentar jauh lebih baik daripada tidak sama sekali meskipun itu bagian dari komentar negatif. Pertanda pembaca memahami baik-baik tulisan yang ada sehingga bisa melihat kelemahanya. Itulah salah satu alasan Us suka menulis.

Di sini mau ngga mau Us membahas diri sendiri, karena hanya diri sendiri yang dapat menjadi contoh paling nyata. Daripada ngomongin orang lain yang belum jelas kebenaranya, diambilah sampel diriku. Ikhlas kan? Alhamdulilah ikhlas yaa, ambil baiknya buang buruknya. Udah ya, lanjut ke topik!

Oke, kali ini aku mengambil topik yang masih menjadi keluhan banyak orang, yaitu perihal overthingking. Sebel ngga sih? Apa sih overthingking itu? Apakah overthingking itu berbahaya? Gimana sih cara efektif untuk mengatasi overthingking? Please, hampir kebanyakan orang bertanya- tanya soal itu. Ini bisa disebut ke-overthingking-an. Simak dulu deh, apa itu overthingking menurut ahlinya seperti kutipan di bawah ini.

Menurut alodokter.comOverthingking adalah istilah untuk perilaku seseorang tatkala memikirkan segala sesuatu secara berlebihan. Hal itu dipicu oleh adanya kekhawatiran akan suatu hal. Mulai dari hal sepele dalam kehidupan sehari-hari, masalah besar hingga trauma di masa lalu yang membuat seseorang tidak bisa berhenti memikirkanya.

Paragraf di atas merupakan sedikit pengertian  mengenai overthingking. Heran kan? Iyaa, aku cukup heran dengan fenomena ke-overthingking-an yang melanda kebanyakan generasi milineal saat ini. Bahkan aku sendiri juga beberapa kali sering overthingking meskipun tidak terlalu sering akhir-akhir ini. Menurutku ke-overthingking-an yang dialami seseorang itu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beberapa bulan yang lalu seseorang pernah mengatakan kepadaku, kurang lebih seperti ini intinya. Tak apa, overthingking itu bukan hal yang terlalu menakutkan ketika paham alurnya.

Misal nih, ketika suatu malam ke-overthingking-anmu mulai bermunculan. Kapan nikah? Kalau ditanya jawab apa dong? Takut tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus, duh gimana yaa kalau besok setelah wisuda nggak dapat kerjaan? Masa iyaa lulusan S-1 nganggur? Apa kata tetangga? Gimana reaksi orang tua? Kemudian mulai timbul kekhawatiran yang berlebih.

Setelah ke-overthingking-anmu selesai, sebaiknya di hari berikutnya kamu langsung merencanakan tentang apa yang seharusnya kamu lakukan. Contoh, soal takut menganggur. Seharusnya sebelum wisuda kamu mencoba melamar pekerjaan di semua tempat yang sekiranya cocok dan pas dengan latar belakang maupun hobimu. Mulai merencanakan plan A, B, C ataupun D. Di situlah ke-overthingking-anmu memiliki nilai positif. Memicu diri untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Aku hanya ingin memberikan sedikit gambaran tidak semua overthingking itu adalah hal yang buruk. Jangan pernah berpikir hanya kamu yang mengalami itu, karena 1-1.000.000 orang di dunia ini pasti pernah berada di titik seperti itu, termasuk Us. Pernah merasa overthingking yang naik turun tidak beraturan. Berada di titik hanya seharian di kamar, terlentang sambil menatap atap-atap.


Waktu itu tak paham lagi berapa banyak surat lamaran yang sudah aku kirim. Tak satupun terdengar kabar baik. Lambat laun, akhirnya ada juga kabar baik yang datang. Alhamdulilah, lolos tahap administrasi dan lanjut tes tertulis dari satu kota ke kota lainya. Kemudian terpatahkan pada tahap wawancara. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Ke-overthingking-anku mulai menjadi-jadi ketika mendengar kabar bahwa melamar kerja tanpa orang dalam hanyalah ketidakmungkinan. Sedangkan, aku bukan anak dari orang tua yang mempunyai pengaruh besar dalam hal seperti itu.

Terkadang kehidupan memang terasa sebercanda ini. Ditambah lagi good looking merupakan poin tambahan untuk menunjang keberhasilan. Fix, tidak bisa tidur tenang tiap malam. Ibarat kata mendapat kerja adalah sebuah keberuntungan. Sampai akhirnya ada salah satu wacana yang membuatku merasa sangat beruntung. Terbukti, setahun kemudian aku mulai mengerti tentang bagaimana cara melawan orang dalam sekaligus menepis poin tambahan, yaitu dengan menunjukkan kualitas diri sendiri. Aku pun mulai menjalankan suatu perkerjaan dengan penuh perasaan.

Memahami lagi tentang kualitas diri sendiri. Apa yang menjadi kelebihanku dan apa yang bisa aku lakukan. Beberapa bulan kemudian aku mulai bisa merangkap pekerjaan. Mulai terbiasa paham ketika bertemu banyak orang di dunia kerja. Lambat laun mulai bertambah, dari yang semulanya dua pekerjaan kemudian menjadi tiga pekerjaan.

Namun aku belum mendapatkan satu perkerjaan yang selama ini aku idam-idamkan. Kemudian selama menunggu panggilan aku mulai belajar banyak hal, mulai dari melihat youtube untuk belajar semua hal tentang dunia Ms. Word, Ms. Exel, perangkat pembelajaran, mengatur waktu dengan baik, berlatih untuk berpikir cepat dan bergerak cepat. Menangkap materi dengan cepat, setiap malam belajar  merencankan banyak hal. Kemudian mencatatnya ke dalam buku kecil dengan catatan berwarna warni. Sebab aku bukan orang yang cukup beruntung perihal kepintaran yang tinggi, maka dari itu aku harus terus berusaha.

Tujuan dari semua kekhawatiran itu adalah memiliki stok jawaban ketika ditanya tentang apa yang bisa aku lakukan. Insyaallah, apapun itu aku pasti bisa. Apapun pasti akan kupelajari, tiap malam kutulis hal-hal penting yang sekiranya berguna untuk bekalku di masa depan. Terlebih lagi aku masih punya dua hal yang menurutku paling berharga, yaitu niat dan semangat. Kedua hal itu akan aku rawat hingga sekarang aku sedikit belajar dan mengelola sebuah usaha yang aku ciptakan sendiri. 

Sebuah usaha yang mungkin banyak dianggap sepele. Tapi aku tetap bangga, karena ternyata aku tak sepayah yang pernah aku bayangkan. Semua ini aku dapatkan dari modal belajar lewat banyak hal, seperti youtube, buku dan survei kecil-kecilanku. Seperti tanya-tanya teman yang sudah lebih dulu memulai usaha sepertiku. Tak apa jika banyak diremehkan, karena aku tau bahwa setiap usaha pasti memiliki rintangannya sendiri-sendiri. Tidak semua orang harus tau tentang seberapa besar usahamu untuk memulai suatu usaha.

Sangat menarik ketika tau siapa saja yang meremahkanku. Rasanya begitu spesial, karena banyak yang memperhatikanku. Yah, begitulah hidup dan kehidupan. Seperti kalimat yang sering muncul di beranda instagramku, "kita tidak bisa terlihat baik di mata semua orang".

Jadi, sebisa mungkin giringlah ke-overthingking-anmu ke arah hal hal lebih baik. Tidak apa, sesekali terjatuh, tersandung, maupun terpeleset, asal tau waktu untuk segera bangun dan kembali ke jalan yang benar. Wah, ternyata ngga sadar nih, Us nulisnya udah banyak bingit! SokAsik bagian 1 perihal overthingking sampai di sini dulu yaaa? Tetap semangat dan sampai jumpa di episode selanjutnya. Salam asyik dari aku yang paling asyik!

0 Comments

Posting Komentar