Cerpen - Sampah di Balik Sabah


Aku takut. Dunia tak lagi sama seperti apa yang aku harapkan. Semua berjalan dan terus berlalu-lalang sesuka hati tanpa mau memikirkanku yang selalu  khusyuk memikirkannya. Tawa hanya tinggal air matanya tatkala ombak dunia mengikis pelan setiap sisinya. Aku tak marah, aku hanya tak terima.

Selalu orang lain yang menjadi juara. Apakah aku kalah olehnya? Atau malah aku kalah karena aku sendiri? Mungkin memang seperti itu, saat aku takut karena sosokku sendiri. Aku yang selalu membunuhku, menjatuhkanku, menyesatkanku, membuai-buaiku di dalam senyum palsu yang mudah sekali hanyut di sungai nafsu.

Pernah aku coba tegur diriku sendiri, saat ku berdiri di depan cermin kamarku yang benar-benar menggambarkan sosokku dengan jeli.

“Whoey?! Kenapa kau tak mau menurutiku?!” tanyaku.

Dia malah menirukan gayaku, dengan raut wajah yang seakan-akan menghinaku.

“Bajingan!” seruku.

Kupukul kaca lemari kamarku dengan tangan kosong, yang menciptakan tersebarnya serpihan kaca ke penjuru arah. Aku tak sadar kenapa aku malah memukulnya. Apakah karena aku ini memiliki jiwa seorang pembunuh? Yang membuatnya lenyap, menyisakan potongan-potongan tubuhnya di permukaan kaca yang menyerpih sebar.

“Maafkan aku?” sesalku.

Mungkin dia marah. Lalu membalasku atas sikapku yang kurang ajar. Dia langsung melukai telapak jariku saat kucoba mengutuhkannya kembali. Kurasa dia memang seorang pendendam. Aku pun menyesal sempat mempercayainya sebagai orang baik.

Kutinggalkannya sendirian saat terberai liar di atas ubin kamarku. “Mampus kau!” kutukku.

Kuhampiri kotak obat yang menempel erat di dinding dapur. Kuambil perban dan sebotol obat merah. Kubelai lembut jari-jariku dan mewarnainya penuh merah yang merona, dengan harap bisa sembuh dan kembali pulih seperti sedia kala.

Kupandangi butiran merah yang membendung lukaku tadi. Tampak samar. Kembali kulihat sesosok aku yang kini berwujud kecil mencembung di dalamnya. Merah, basah, dan terlihat penuh amarah.

“Ngapain kau di dalam sana? Ayo keluar!” perintahku.

Dia malah diam dan memandangiku dengan sinis. Membuatku tersulut lagi dan segera mencuci jari-jariku dengan air bak di kamar mandi.

Kini di dalam air bak, dia muncul lagi dengan raut yang lebih dengki.

“Anjing!” pisuhku sambil menepuk wajahnya menggunakan gayung di tangan kiriku.

Dia seperti pengecut. Memudar hilang di dalam gelombang yang semakin menyebar ke tepi-tepi bak mandiku. Namun perlahan mulai kembali dan semakin memandangiku dengan kerutan di dahinya. Sepertinya sekarang ia marah besar.

“Aaaaaaaaaa!!!” teriakku dengan lari keluar rumah.

Aku takut. Aku tak berani berhadapan langsung dengannya lagi. Ia tak pernah mati walau selalu aku coba melenyapkannya. Dia abadi.

Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana caraku bisa benar-benar melenyapkannya? Aku tak mau lagi diusik dengan segala tipu dayanya. Aku ingin benar-benar membunuh dan menguburnya dalam-dalam!

Sampai akhirnya aku duduk di bawah pohon randu yang meneduhiku dari arakan awan yang mulai mengabu-abu. Dan benar, sekarang awan pun mengerti tentang bagaimana perasaanku. Ia turut bersedih dan menemaniku menangis di siang itu.

Basah kuyup. Air mata langit pun mulai mengumpul dan menciptakan genang di depan tekukan kakiku. Aku takut melihatnya lagi. Aku sangat takut dikutuknya lagi dengan bencana yang lebih mengerikan. Aku pun menutup mataku dengan kedua tanganku karena tak kuasa menahan takut yang terlampiaskan melalui lelehan air mataku.

Kucoba berpikir dan terus berpikir. “Kenapa sih dia membenciku? Apa karena aku melukainya duluan? Lantas aku harus bagaimana? Siapapun, tolong aku!”

“Kenapa kau tak mencoba sebaliknya?” bisik seseorang yang tak ku tau dari mana asalnya.

Akupun bingung dan segera mencari sumber suara. “Siapa?! Siapa yang bicara?!” tanyaku yang temu jawab.

“Apa salahnya jika aku coba?!” lintas suatu ide di dalam benakku.

Aku pun langsung mengusap genangan air mata dan memberanikan diri untuk melihat ke arah genangan air tersebut. Dengan keadaan basah kuyup, kusenyumi dia dengan penuh rasa kasih. Dan aku terkejut, karena ia juga membalas senyumanku dengan penuh rasa sayang.

"Terimakasih, kau telah memaafkanku."

***

0 Comments

Posting Komentar