Cerpen - Titik



Sore itu, aku asyik memetik senar dari gitar tuaku di teras belakang rumah. Kunyanyikan lagu-lagu rindu dengan petikan indah sebisaku. Memangku ponsel di paha kiri sambil membuka lirik lagu, kutundukkan kepala agar tak salah ketika melafalkan bait-bait lagu kesukaanku.

Tepat dilagu kedua, ponselku bergetar pelan. Walau pelan, aku tetap kaget dan tak sengaja menjatuhkan ponsel dari pangkuanku. Sebelum terkena lantai, tangan kiriku langsung refleks meraihnya. Namun terlambat, ponselku malah terdorong saat tersentuh ujung-ujung jariku. Ponselku pun jatuh semakin jauh.

"Ya ampun, siapa sih yang ganggu sore-sore gini?!" tanyaku.

Kuletakkan gitarku di atas kursi yang sebelumnya aku duduki. Kuhampiri ponselku yang sudah melaju jauh. Tak terlihat. Kucari dan terus ku cari hingga kulihat ponselku tampak miring di dalam pot tanaman hias milik ayahku.

Tampak kotor. Langsung kuusap dengan baju putihku. Kuusap pelan dengan penuh kehati-hatian, seperti mengusap sepatu futsalku yang minggu lalu baru kubeli dari sisa bulananku. Sekarang ponselku sudah bersih, namun bajuku berubah kotor.

Kunyalakan dan kulajukan jemariku untuk membuka sandi yang terkunci. Terlihat notifikasi dari Kina, cewek terdekatku yang chatnya selalu aku tunggu-tunggu.

"Malam ini sibuk gak?"

Deg-degan. Jantungku selalu berdebar cepat saat melihat ada notif chat dari Kina. Entah itu chat broadcast tentang promo jualannya, ataupun chat basa-basi kala mengomentari storyku.

"Ada apa cuy?" balasku singkat.

"Temenin ngopi yuk?"

Aku tau, Kina sedang banyak masalah. Ia selalu datang untuk mendapatkan solusi dariku, dengan cara menanyakan terlebih dahulu kapan waktu luangku. Ia tak pernah memaksa untuk mendapatkan apa yang ia mau. Itulah salah satu hal yang membuatnya menarik untukku.

Tapi kali ini berbeda. Kina mengajakku ketemuan. Padahal biasanya ia hanya curhat lewat chat. Hal ini membuatku ragu tentang tuduhanku. Bisa jadi ia hanya kesepian atau ingin meminta bantuanku untuk memperbaiki ponselnya, seperti minggu lalu.

"Cieee ngajak ketemuan. Kangen ya? Hahaha," godaku.

"Yaudah gak jadi!" balasnya singkat.

"Eh, gimana sih?! Jadi atau gak?" tanyaku.

"Gak."

"Kalau Aku yang traktir?" tawarku.

"Oke, jemput jam 7. Aku tunggu di depan rumah."

Kembali kena. Aku terkecoh lagi dengan akal-akalan Kina. Padahal sebenarnya aku belum gajian, tapi untungnya aku masih punya sedikit tabungan. Hal itu membuatku mantap untuk menawarkan traktiran kepada Kina.

"Brakk!!"

Gitar yang kusandarkan di kursi jatuh dengan tiba-tiba. Mungkin sebelumnya karena aku buru-buru dan tidak menempatkannya secara presisi. Membuatku kembali kaget dan melepaskan ponsel yang ada di genggaman. Sore yang sial untuk gadgetku.

*

Pukul setengah tujuh. Aku sudah siap dengan segala kelengkapan. Motor sudah aku panasi, uang sudah aku sakui, dan tak lupa minyak wangi supaya bau asliku tertutup rapi. Tak lupa membawa helm cadangan, untuk Kina nanti agar aman dan terkendali.

Sudah tak sabar. Akhirnya aku berangkat dengan penuh harap. Membayangkan Kina yang duduk membonceng dengan pelukan hangat dari belakang. Lalu berbisik, "aku sayang kamu."

"Kyaaaaaaaa!"

"Berisik woey! Kalau mau teriak-teriak di hutan sana!" teriak bapak-bapak dari jendela mobil.

Tak sadar. Aku berteriak di persimpangan traffic light dekat rumahku. Membuat seorang bapak-bapak di samping kiriku kaget dan memarahiku. Aku hanya tertunduk dan melaju kencang saat lampu hijau menyala.

*

"Kina!" teriakku di depan gerbang rumahnya.

Kulepas helm dan kulihat kaca spion sepeda motorku. Kurapikan rambutku agar terlihat lebih syahdu. Setelah kurasa pas, kembali kupanggil nama Kina agar segera keluar dan menemuiku.

"Kin-" panggilku terputus.

"Apa!" jawabnya cepat yang ternyata sudah ada di sampingku.

"Woa!" teriakku.

Hal itu membuatku kaget karena tubuhnya berada tepat di samping kiriku.

"Waaa!!!" teriak Kina yang juga kaget akibat kekagetanku.

Dalam kaget kupendam kagum. Solekan di wajah Kina tampak begitu indah. Tak seperti biasanya, kali ini ia mengoles bedak dan gincu merah muda dengan sangat pas. Ditambah dengan kaos putih berlengan pendek dan rok kotak-kotak merah setinggi lutut yang mengetuk pintu imanku.

"Eh ... Kin?! Kamu kok ca ..."

Belum selesai kubicara, Kina langsung menggeret lengan bajuku. "Ayo buruan masuk, aku udah bikinin kentang goreng kesukaanmu!"

"E-e-eh, ya bentar dong, Kin!" ucapku sambil menarik lengan bajuku kembali. "Ntar kalau jatuh gimana nih?!"

Kina hanya tersenyum setelah mendengar keluhanku. Aku yang tadinya kaget dan emosi, malah tak bisa berkutik karena terkagum akan suatu keindahan alam yang terpampang jelas di hadapanku. Aku pun berjalan masuk melalui pintu gerbang yang baru saja dibuka Kina sambil mendorong motorku pelan-pelan.

Kulihat Kina berlari menuju pintu rumahnya, meninggalkanku yang hendak memarkirkan motorku. Laju larinya lumayan cepat, sehingga membuat roknya sedikit mengayun naik turun.

"Ya Tuhan ... jagalah pikiranku," pintaku sembari mengalihkan pandanganku.

Kuparkirkan dan kukaitkan helm bututku di kaca spion. Kutuju dua bangku di teras rumah Kina dan kududuki salah satunya. Ku tunggu hingga beberapa waktu sambil membayang-bayangkan tempat yang hendak aku tuju.

"Kina mau gak ya ke taman kota? Gak-gak-gak, Kina gak suka keramaian. Atau ke kafe dekat kampus? Gak-gak-gak, Aku gak punya duit kalau harus traktir Kina di sana! Kemana nih?!" batinku kebingungan saat menunggu Kina yang tak kunjung keluar dari rumahnya.

Tak lama setelah itu, Kina akhirnya keluar dengan berganti pakaian. Dipakainya celana jeans pendek dan sweater kuning panjang, yang membuatnya semakin tampak manis dan membuatku terkagum-kagum.

"Gila, cakep banget!" gumamku pelan.

Kina langsung menatapku bingung. "Apa? Ngomong apa barusan?"

"Gak-gak, Aku gak ngomong apa-apa," elakku kaku. "Gimana? Ada masalah apa nih sampai-sampai ngajakin ketemuan? Dah, jujur aja deh!" lanjutku mengalihkan perhatian.

"Oh iya, bulan besok Gue nikah."

Terkejut. Aku tak berkutik setelah mendengar perkataan Kina. Semua diluar perkiraan. Jangankan calon suami, memiliki pacar pun aku tak tahu.

Sebenarnya, aku kenal Kina baru belakangan ini. Sekitar empat bulan yang lalu, setelah aku masuk di perusahaan yang sama. Walau berbeda bidang, tapi kami berada di satu gedung yang sama. Kedekatan kami dimulai sejak Kina minta tolong untuk menginstal Microsoft Office di laptopnya.

Saat itu malam Rabu, jam lima sore. Siangnya, kami tak sengaja bertemu di warung mi ayam depan kantor dan Kina mengeluh tentang laptopnya yang terdeteksi bajakan. Aku pun menyodorkan tawaran untuk memperbaikinya. Kina sangat terlihat senang waktu itu, dan aku pun menolongnya seusai pekerjaanku usai, setelah jam pulang.

Tapi semua tak berjalan lancar. Sampai pukul 6 sore, aku masih saja tak berhasil memperbaikinya. Kina pun pamit dengan alasan sudah dijemput. Saat ku tengok memang benar adanya, ia dijemput seorang laki-laki berwajah samar menaiki mobil Jazz warna merah. Mungkin saja ia pacar yang hendak jadi calon suaminya.

"Woey!" teriak Kina yang mengejutkanku tiba-tiba. "Ngelamunin apaan sih?! Serius amat sampai cuekin aku! Huh," lanjutnya kesal.

"Lagi mikirin tetanggaku, yang nganu itu lho. Emm ... punya anak 5 tapi masih kecil-kecil. Ih ... gemeeezz! " elakku wagu. "Eh, kita mau ngopi di mana nih malam ini?" lanjutku tuk tutupi celoteh anehku.

"Di sini aja. Lagian malam ini dingin, takut masuk angin cuy!" sahut Kina.

"Yaelah! Kalau dingin kan bisa peluk Gue!" berontakku dalam batin.

Kekecewaan menyelimutiku bertubi-tubi. Ingin teriak tapi takut diarak warga, ingin menangis tapi malu karena di depan pujaan hati. Hanya bisa memendam di balik wajah asam.

"Eh, nak Aska," sapa Tante Ani, ibunya Kina yang tiba-tiba muncul dengan menjunjung nampan. "Ini kopinya, spesial buatan Tante lho. Silahkan diminum sebelum dingin."

Lembut sekali, suara Bu Ani tepat mendarat ke relung hati. Bisa dikata sebelas-duabelas dengan anaknya. Sempat berpikir ingin juga memilikinya, namun tak jadi karena tersadar bahwa haluku terlalu kurang ajar.

"Eh iya, Tan. Makasih ya?" ucapku dengan langsung menyangking gagang cangkir dan menyeruput kopi suguhannya. "Srup, hmm!!! Puaahhhh ... panas cok!" pisuhku tak sengaja.

Kulihat wajah Tante Ani sedikit memucat setelah mendengar pisuhanku. Aku pun segera mencari akal supaya aman dari segala tuduhan mengerikan.

"Eh, panas cok-cocok banget nih! Enak banget sumpah! Ahh!" elakku di tengah-tengah proses pelepuhan lidahku.

Tante Ani pun tersenyum lega. "Yasudah, silakan dilanjut ngobrolnya. Tante tinggal masuk dulu ya?" pamitnya sembari mengempit nampan di ketiaknya.

"Oh, yes Tan!" jawabku.

Kembali kuangkat cangkir kopi tadi dan kusruput tipis-tipis. Pahit, manis, dan aroma sang kopi sangat padu kunikmati, Tante Ani memang sangat ahli dalam urusan kopi. Sembari kusruput, kualihkan pandanganku ke arah Kina.

"Oh iya! Nikahannya tanggal berapa, Kin?"

"Entahlah," jawabnya singkat dengan wajah kusam.

"Lah, gimana sih?!"

"Aku tuh sebenarnya masih ragu, Ka. Dia tuh masih aja suka nglakuin hal-hal yang enggak Aku suka. Iya sih minta maaf, tapi setelah itu pasti nglakuin lagi. Aku takut, dia gak bisa ngerubah sikapnya setelah nikah nanti," jawab Kina sambil melinangkan air matanya.

Entah kenapa aku malah merasa senang. Mungkin ini kesempatan terbaiku untuk merebut hati Kina.

"Lalu Kamu maunya gimana?" tanyaku pelan.

"Ya Aku mau dia berubah! Gak seperti itu lagi!" jawabnya kesal.

Aku putar kursiku menghadap arah Kina. Kupegang tangannya dan ku tatap matanya yang tampak kosong namun sedikit berlinang.

"Kin?" panggilku lirih. "Lebih baik tinggalin ..." lanjutku belum rampung.

Kulihat semakin deras linangannya. Meluncur menghapus bedak dan berjejak di pipinya.

"Lebih baik, tinggalin pikiran itu. Kita gak ada yang tau, besok kita seperti apa. Makan apa, ada di mana, ngapain aja, dan apapun itu. Yang kita tau cuma usaha, untuk melakukan yang terbaik agar tak mengulang kesalahan di hari kemarin," lanjutku.

Niatanku pun luntur, yang semulanya ingin menikung malah tercenung. Meski pikiran memaksa ingin, namun hati mengelus dingin. Aku tak seharusnya memanfaatkan titik terendahnya hanya karena sebuah keegoisan.

"Saranku, coba deh rubah mindsetmu. Buat pikiranmu terbalik. Jika dia tak bisa berubah, kenapa tidak kamu yang mencoba berubah? Tidak semua hal yang kamu anggap buruk itu benar, dan tidak semua  hal yang kamu anggap benar itu baik. Cobalah lebih mengerti dan memahami. Toh, nanti setelah nikah sudah tugasmu kan patuh kepadanya? Anggap aja latihan, Kin, hehehe," lanjutku lagi.

Kina mengangguk, mengusap air matanya dan menggenggam erat tanganku.

"Makasih ya, Ka?" ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan gingsul manisnya. "Lah, kok kamu juga nangis sih, Ka?!"

"Eh, mana ada!" elakku cepat. "Haha, aku tuh seneng tau! Bulan besok, sahabatku akan menikah. Dan mungkin tahun besok, aku akan punya ponakan baru! Yeeeeee!" teriakku senang.

Kina tertawa lepas setelah mendengar ucapanku. Aku pun mengimbanginya, walau dengan menahan air yang terus mendobrak paksa di celah-celah mata.

*

Judul    : Titik
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Post a Comment