Air Mata Sebatang Ulin Muda: Cerpen tentang Kebakaran Hutan Kalimantan

Cover Gambar Air Mata Sebatang Pohon Ulin Muda: Cerpen tentang Kebakaran Hutan Kalimantan

Desir angin meniup hijau rambutku, membersihkan beberapa debu yang menempel, serta beberapa helai yang sudah mengering. Tumbuh tanggal sudah biasa, karena itu sifat alami dari salah satu organku. Aku tak pernah membayangkan, jika rambutku tak pernah rontok, selalu subur dan tumbuh. Mungkin badanku sudah tak pernah terlihat lagi karena tertutupi lebatnya kehijauan. Beberapa pohon lain di sekitarku pasti sewot, karena aku telah merebut hak mereka untuk mendapatkan ruang berkembang. Mungkin juga akan melahirkan gerakan "ayo tebang pohon, demi kelestarian penduduk Kalimantan," karena sudah merambat ke pemukiman dan mengganggu kehidupan manusia.

Kemarau kali ini cukup menghauskan. Namun tak mengapa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku sudah terbiasa dan aku yakin mampu melewatinya. Aku masih memiliki cukup air dalam tubuhku, tersisa dari musim hujan beberapa bulan lalu, dan aku yakin masih cukup untuk membuatku bertahan hidup beberapa bulan ke depan. Walau aku tetap berdoa kepada Sang Maha Pemberi, jika berkenan boleh lah sesekali menurunkan beberapa tetes kesejukannya untuk meredakan dahaga.

Namaku Ulin. Bukan karena aku menginginkan nama itu. Bahkan, bukan karena orang tuaku yang menamainya. Namun karena manusia, melabeliku dengan nama tersebut. Membuat semua yang sama sepertiku, dari nenek moyangku, hingga cucu-cicitku kelak menggunakan nama yang sama, Ulin. Mungkin yang membedakan di antara Ulin-Ulin yang lain hanyalah usia, atau tingkat kesuburannya. Yah, seperti tumbuhan pada umumnya.

Meski pertumbuhanku lambat, badanku sangat kuat. Maka dari itu, aku sering disebut juga sebagai kayu besi. Bisa diadu. Ketahananku di berbagai musim juga sudah terbukti. Nenek moyangku sudah banyak yang berusia ratusan hingga ribuan tahun.

Aku lahir beberapa belas tahun yang lalu. Kata beberapa tetua pohon yang tumbuh di sekitarku sih akibat beberapa burung Rangkong yang pernah buang hajat beberapa kali di sekitar sini. Entah mengapa mereka membuangnya di tempat ini, mungkin bagi mereka adalah "WC umum terfavorit", karena tempatnya cukup rindang dan sejuk, membuat proses pelepasan sisa-sisa pencernaan terasa rileks dan nyaman. Pernah ada beberapa Ulin muda sebelumku yang sempat menunas, namun di antaranya mati muda karena ulah beberapa gerombolan serangga pengebor dan mamalia tanah. Mereka juga heran, mengapa aku bisa melewati fase yang penuh dengan ketidakpastian itu. Tumbuh cukup besar dan kuat, sehingga mampu melewati beberapa musim yang belakangan ini bisa dibilang cukup ekstrim.

Di penghujung Juli, beberapa pelangganku—para burung Rangkong—rajin hilir mudik tiap hari mengecek perkembangan tingkat kematangan buahku. Ada beberapa di antaranya yang sudah berwarna cokelat tua kehitaman, tatapan tajam dari salah seekor dari mereka akan segera mengincarnya. Bertengger di dahan yang besar dan kokoh di dekat gerombolan buah, seekor Rangkong menjulurkan lehernya, lalu menjepit pangkal tangkai buahku menggunakan ujung paruhnya. Satu sentakan kuatnya mampu memutuskan tangkai buahku, tanpa menjatuhkannya ke lantai hutan. Ia menghadap ke atas dan melepaskan buahnya, melemparkan buah tersebut sedikit ke udara, lalu menangkapnya tepat di pangkal paruh, dekat di tenggorokannya. Seketika itu, buahku yang licin dan keras akan langsung masuk ke temboloknya, yang kemudian akan dicerna bersama enzim kuat di dalam lambungnya. Walau begitu, biji besiku akan tetap utuh, turut terbang bersamanya hingga nanti dijatuhkan di sudut hutan lain sebagai benih kehidupan baru.

Kami seperti memiliki ilmu komunikasi multi dimensi, mampu saling mengerti, memahami, tanpa bahasa fisik yang dapat dikenali sembarang makhluk. Terutama makhluk yang sok paling mulia, sok paling pintar, sok paling mengerti, sok paling mencintai alam, sok paling peduli lingkungan, dan sok paling-sok paling lainnya, yang sejatinya hanya mereka gunakan sebagai tempat persembunyian untuk meraih keuntungan pribadi.

Walau di pelosok hutan, namun aku tak pernah ketinggalan zaman. Aku memiliki sahabat bernama Mikoriza, yang mampu memfasilitasi selayaknya internet untuk mengupdate keadaan sekitar melalui jaringan di bawah tanah. Bukan meniru teknologi fiber optic yang dipendam di bawah tanah, karena fasilitas dari Mikoriza ini sudah ada sejak zaman dahulu. Mungkin malah mereka, para makhluk yang menamai dirinya manusia yang meniru teknologi ini, dan melabeli bahwa dirinya adalah sang penemu dan sang penciptanya. Dasar, para plagiator handal yang kebanyakan gaya. Baru memiliki sedikit ilmu saja sudah merasa menjadi yang paling sok.

Pagi ini seperti biasa. Nyanyian Murai Batu, Cucak Hijau, dan Kacer saling bersahutan, seakan memamerkan keahliannya masing-masing walau tanpa ada juri yang memilih juara di antara mereka. Bagiku, kicauan mereka adalah nyanyian suci yang mendamaikan hati, menciptakan suasana hening di dalam keramaian. Sangat teduh.

Tanpa undangan. Tanpa pemberitahuan, sekelompok manusia datang, menginjak kakiku tanpa permisi.

"Ini yang kau bilang kemarin?" tanya seorang pria tua berkumis lebat yang sudah memutih, memakai topi ala koboi berwarna coklat tua.

"Iya, Pak. Gimana, bagus kan?!" jawab seorang pria yang berdiri sedikit membungkuk di belakangnya.

"Hmm... Lumayan," sahut pria tua itu, sambil menggaruk janggut gundulnya yang seperti bekas dikerok tadi pagi. "Tapi pastiin dulu! Mana increment borer-nya?"

Salah seorang dari mereka yang berpakaian jingga mengeluarkan sebentuk perkakas logam aneh berbentuk silinder panjang dari dalam tasnya. Benda itu tampak seperti huruf T, serta tajam dan memiliki ulir di bagian ujungnya.

"Ini, Pak."

Ujung alat itu cukup tajam, ia tancapkan setinggi dadanya pada kulit batangku, mencari celah di antara urat-urat kayuku. Gagang T-nya ia putar dengan sekuat tenaga, bertumpu pada seluruh berat badannya, memaksa mata ulir baja itu merobek kulit luarku yang keras.

Rasanya perih. Air mataku merembes melalui celah-celah kecil yang mungkin tak disadari siapa pun. Aku tak mampu melawan, takdir alamiku adalah diam, menyaksikan tubuhku perlahan dilumat kesakitan.

Logam dingin itu menerobos paksa secara horizontal, lurus memotong serat-serat rapat, merangsek jauh ke dalam menembus kayu gubal hingga mendekati empulur, pusat inti hidupku. Kemudian ia sisipkan sebilah lempengan besi panjang berongga serupa  sendok kecil, melalui lubang tabung bor untuk mengunci sampel di dalam. Ia putar balik arah bor satu kali lagi, demi mematahkan serat, kemudian perlahan menarik sendok kecil itu keluar dari tubuhku.

Tepat di atas sendok kecil itu, sebaris silinder kayu sekecil pensil tercabut dari ragaku. Bak akta kelahiran, di sanalah terpahat rahasia usiaku. Hanya tergambar tiga belas lingkaran tahun, cukup renggang dan samar, memberitahu mereka seberapa singkat waktu yang telah kuhabiskan untuk tumbuh di lantai Kalimantan ini. Aku masih sangat muda, belum sekokoh para leluhurku.

Salah satu pria berbaju jingga itu menghela napas, menatap sampel kayu di tangannya dengan ragu. "Baru tiga belas, Pak. Masih terlalu muda, serat kayunya belum matang sempurna untuk jadi kayu besi kelas satu."

Pria tua bertopi koboi itu meludah ke tanah, menatap batang mudaku dengan mata serakah yang tak sabaran. "Persetan dengan usianya! Tebang saja!" bentak pria tua itu sambil mengacungkan telunjuknya ke arahku. "Kita sudah mepet waktunya, dikejar deadline, pesanan sudah menumpuk! Nanti kita kehilangan pelanggan kalau pilah-pilih pohon!"

"Tapi kualitasnya, Pak..." anak buahnya mencoba memprotes.

"Ssstt!" pria tua itu mendesis sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Pembeli tidak akan tahu benar-benar berapa usia pohon ini!" lanjut pria tua itu dengan suara meninggi. "Mereka tidak akan mengecek lingkaran tahunnya satu per satu di gudang. Yang penting bagi mereka, ini pohon ulin! Titik!"

Rasanya semakin perih, kala menyaksikan raga mudaku dipaksa menjadi tumbal keserakahan. Entah, apakah leluhurku di luar sana juga mengalami hal yang serupa. Yang pasti, aku belum siap untuk mati. Aku masih ingin menikmati hidupku lebih lama lagi. Menghirup oksigen yang murni setiap pagi, mendengar celoteh hewan-hewan liar yang berlari bebas di atas kaki-kakiku atau bergelantungan di ranting-rantingku, maupun menikmati cahaya senja yang memudar perlahan di ufuk sore.

Pria tua itu memutar tubuhnya, memberikan perintah final yang bergaung bak vonis mati di telingaku. "Empat hari lagi, bawa tim lengkap ke sini. Siapkan gergaji mesin, traktor, dan semua alat yang diperlukan untuk penebangan. Kita harus bersihkan area ini dengan cepat!"

Mereka melangkah pergi, meninggalkan luka kecil yang menganga di dadaku, yang terus meneteskan getah. Empat hari. Hanya empat hari lagi, napas mudaku akan renggut di hutan Kalimantan ini.

Cita-citaku raib sudah, menjadi pilar langit, sang penjaga hutan Kalimantan yang perkasa seperti leluhurku. Aku ingin mati secara alami, ingin berjasa bagi kehidupan tanpa harus dimusnahkan. Toh jika terpaksa, aku ingin tubuhku menjadi sandaran rumah panggung adat Dayak atau sebagai lambung kapal Pinisi yang akan mengarungi samudera luas, di mana aku akan tetap hidup dan dihargai selama ratusan tahun lagi, bukan sekadar menjadi tumpukan kayu lapis murahan.

Sore ini, senja menjadi tak semenarik kemarin. Cahayanya seakan pudar, ditelan kehampaan. Seperti mendung, namun bukan mendung. Kilas abu-abu yang mengepul tipis demi tipis mulai melangit dan menghijabi prosesi penutupan hari. Burung-burung beterbangan, hewan-hewan berlarian panik, mereka berteriak sejadi-jadinya melintasiku tanpa memedulikanku.

Sang jamur Mikoriza mengirimkan pesan cepat, bahwa beberapa kilometer dari arah barat terjadi tsunami api yang cukup parah, mengakibatkan beberapa tumbuhan disconnect secara massal. Kibasan angin sawanan mempercepat peredaran api yang mengobar ke sana ke mari.

Hangat. Kehangatan itu mulai merambat ke kulit terluarku. Menjadi selimut di kedinginan malam, seakan memelukku untuk melepas rasa takut akan kematian usia muda di tangan para penjarah hutan ilegal.

Sejatinya, aku masih takut, benar-benar takut, akan ke mana aku setelah ini. Apakah aku akan pergi, lenyap begitu saja tanpa arti? Atau aku akan bertransisi ke suatu tempat yang sangat indah, bak negeri dongeng, atau yang kerap diisukan dengan sebutan surga itu, membuatku bebas untuk tumbuh abadi di sana tanpa gangguan-gangguan duniawi yang semencekat ini?

Aku tak mengerti. Yang kumengerti saat ini adalah rayapan api yang mulai melekat dari dedaunan kering yang terbang menghinggapiku satu demi satu. Kulitku mulai melepuh, tak kuat menahan panas. Air dalam tubuhku melakukan penyembuhan alami, merembes keluar untuk mengompres secara alami.

Sayangnya tak mempan. Hujan api yang beterbangan itu tak kunjung usai. Ditambah lagi ambrukan pohon Gelam, yang tumbuh di sebelah kananku. Ia terbakar di bagian bawah, menghitam, lapuk, dan ambruk ke arahku dengan tiba-tiba. Pohon yang tiap pagi memamerkan wangi atsri, kini membara dengan gila. Kulitnya yang berlapis-lapis seperti kertas kering mengelupas satu demi satu, terbang bebas di udara sebagai kelopak-kelopak bara. Ia menjerit dalam gemertak kayu yang patah, yang akhirnya tewas dengan pasrah, bersandar di pundak kananku dengan sangat keras.

Brakk! 

Laksana estafet obor, kobarannya merembet ke arahku. Pertahananku sia-sia. Jilatan panasnya meluber ke bagian atasku. Membakar sisa-sisa daun kering yang belum sempat kujatuhkan, serta menyengat tubuhku dengan paksa. Sebagai Ulin, aku tak punya kaki untuk berlari, atau sayap untuk terbang menghindari. Aku hanya memiliki ketabahan yang mengakar jauh ke rahim bumi. Dalam kepanikan yang sunyi, kuperintahkan seluruh pembuluh xilemku bekerja keras, mengalirkan sisa air dari akar menuju setiap bagian tubuh yang masih bisa kuselamatkan, semoga mampu menciptakan perisai basah untuk melawan hawa panas yang jahanam.

Kulitku merekah. Air mataku mengental, cairan yang sering mereka sebut dengan getah. Harapanku beberapa air yang kukeluarkan ini mampu memadamkan api yang terus mengunyah bagian kanan dan atasku. Sayangnya, stok airku terbatas. Kemarau panjang belakangan ini telah menguras cadangan airku, sementara api semakin gagah menghirup oksigen malam.

Satu demi satu dahan mudaku mengerut, menguning, mencoklat, lalu menghitam, sebelum luruh menjadi abu dan terbang ke segala penjuru. Pohon-pohon lain turut ambruk dan bersandar seperti Gelam, serupa api unggun yang disulut oleh beberapa obor.

Kini panasnya tak hanya membakar kulit luar. Api itu telah menyelip ke dalam dadaku, memakan serat-serat kayu besiku yang paling intim. Tubuhku yang kuat kini mulai goyang. Pandanganku mulai kabur oleh jelaga pekat. Kanopiku yang selama ini meneduhkan tanah Kalimantan telah menganga, runtuh serta hangus satu per satu.

Aku tahu, waktuku sudah tak lama lagi. Sebelum sisa tubuhku runtuh dalam abu dan menyatu dengan lantai hutan, aku menembang kata-kata terakhirku pada angin malam. Sebuah lagu pelepasan sunyi di ujung perjalanan menuju keabadian:

Aku mungkin telah beberapa kali mati
Dan aku pun hidup kembali
Tapi tak ada yang menyadari

Aku mungkin telah beberapa kali hilang
Dan kini kutelah kembali pulang
Namun tak ada yang menyaksikan

Seandainya ku tahu apa pun tentang aku
Mungkin tak kan jadi seperti ini
Kumerasa sunyi, sepi sendiri tak berarti

Bila nanti ku benar-benar pergi
Dan tak kembali, lagi untuk
Kesekian kali
Aku pergi, benar-benar pergi

Semoga ku bisa mencapainya
Pembebasan atas segalanya

*

Tak pernah ada yang tahu, kapan waktu berhenti, yang banyak diketahui adalah waktu terus berjalan dan tak dapat kembali. Tak ada yang tidak berlalu, semua akan tergilas roda waktu, tak ada yang bisa menghindar, semua atas kendali Sang Maha Waktu itu sendiri. Waktu melindas sang kemarau, melahirkan sang penghujan, yang indah dengan rintikan air Tuhan yang meruah di tiap permukaan hutan Kalimantan.

Rintik itu menetes ke pelataran, yang kemudian menderas, masing-masing air saling merangkul hingga menciptakan aliran, sebagian darinya meresap ke dalam tanah, dan menyejukkan kemasanku yang sekeras baja. Air itu seakan mengetuk pintu persemayamanku, memaksaku untuk bangun dari tidur panjang, memecah kegelapan dan perlahan mencari pencerahan.

Saat cahaya itu pertama kali menyorotku, sepucuk hijau kecil yang baru saja menghirup udara, aku bertanya-tanya, inikah surga? Inikah jawaban dari baris-baris doaku dulu sebelum kehilangan kesadaran? Apakah tanah lapang ini tempat peristirahatan terakhirku? Tak ada rerindangan pohon yang menyembunyikanku dari sengatan mentari.

Namun ada yang aneh, kenapa ada banyak bibit seragam yang berbaris rapi di mana-mana? Struktur barisannya tampak rapi, simetris, seakan ada tangan-tangan tak kasat mata yang memaksa mereka tumbuh tanpa boleh melenceng sesenti pun. Mereka tampak imut dengan beberapa helai daun yang masih segar, mengangguk-angguk tertiup angin, seakan menghinaku yang berbeda sendiri. Kuamati sekeliling, masih banyak sisa-sisa abu yang mulai menyatu dengan tanah. Mungkin ini bukan surga. Mungkin melalui kepak Rangkong, kehidupanku telah menemukan jalan untuk kembali. Tempat yang sangat asing.

Di tengah rangkaian pasukan hijau yang tertata serasi itu, aku berdiri sendiri, mencoba memulai hidup baru dan merangkai cerita baru.

Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, waktu berlalu dengan sangat cepat. Kehidupan kali ini terasa sangat sepi. Para pohon muda yang serupa itu tak pernah membalas sapaan pagiku. Mereka seakan membenciku. Apa karena aku dianggap berebut makanan dengannya? Padahal kurasa hanya menyerap makanan secukupnya, tak pernah rakus. Atau karena aku berbeda? Lantas dipandang sebelah mata? Entahlah.

Hari-hari yang sunyi terpecah oleh derap langkah sepatu bot yang berat, serta riuh suara manusia. Sepatu bot itu berwarna hitam, setinggi lutut, berlumur tanah liat kering, mereka gunakan untuk berjalan menyusuri lajur bibit-bibit muda. Celana berwarna lumpur membungkus kaki mereka, dipadu dengan kemeja lengan panjang bermotif kotak-kotak yang cukup lusuh. Caping besar mekar di atas kepalanya, menutupi wajahnya yang legam terbakar matahari.

Salah satu dari mereka yang berkumis tipis berhenti sejenak di depanku. Cukup lama memandangku dengan penuh curiga, matanya melotot di bawah naungan bayangan caping. 

"Apaan ini?" tanya seorang pria paruh baya, salah satu dari mereka. "Bentuk daunnya aneh, kaku sekali, sepertinya bukan tanaman liar biasa."

"Mungkin semacam gulma?" tebak salah satu lainnya. "Nggak penting apa namanya, tanaman seperti ini pasti hanya akan merusak sawit! Harus segera dimusnahkan ini!" lanjutnya.

"Benar juga. Dasar, tumbuhan sialan!" Pria paruh baya itu mengumpat sambil menendang beberapa daun muda pohon ulin yang baru tumbuh. Sraaakk! 

Cukup sakit. Walaupun dihina-hina, direndah-rendahkan, aku tetap tidak bisa melawan. Sudah takdirku menjadi diam tanpa suara, dan mewarnai semesta dengan segenap kehijauan untuk merajut kesegaran di sekujur tubuh bumi. Ditendang bak botol bekas yang menggelandang di pinggir jalan membuatku sadar, ternyata aku tak dibutuhkan mereka, para makhluk yang dijuluki dengan sebutan oknum manusia.

Segera ia pompa jeriken yang bertengger di punggungnya. Cairan bening kekuningan beraroma tajam yang tak pernah kukenal itu mengalir melalui selang kecil dan menyemprot tepat ke kepalaku, yang sudah lumayan rontok sejak tendangan tadi. Badan mudaku yang seumur jagung ini juga sudah bengkok karena retak parah, menciptakan banyak celah yang dengan mudah dirasuki cairan asing tadi. Mengerikan. Tiba-tiba kesadaranku memudar. Tubuhku melemas dengan cepat.

***

~ Joe Azkha, 2026

Posting Komentar