Cerpen - Memoar sebuah Kursi Pejabat

ilustrasi gambar kursi pejabat yang terbakar api

Aku adalah sebuah kursi, yang suatu saat dianggarkan dari uang rakyat untuk seseorang yang menyandang gelar wakil rakyat. Semua itu kulakukan untuk memenuhi takdirku sebagai pemanggul beban. Bukan hanya beban fisik, tapi juga beban dosa, beban janji palsu, beban kemunafikan yang menempel erat pada setiap serat sponsku. Kamu tahu, sebenarnya aku tak pernah memilih bokong mana yang harus kutopang. Tapi nasibku terikat padanya, sang pejabat yang kata-katanya licin seperti lendir, dan tindakannya busuk serupa bangkai yang tak kunjung dikubur.

Setiap kali ia menghempaskan bobotnya ke atasku, sponku mengerang, mengempis parah, seolah paru-paruku dipaksa menghirup udara busuk ambisinya. Sebuah decitan halus, atau mungkin jeritan tertahan dariku, selalu mengiringi tiap ia mapan di atasku. Decitanku bukan sekadar gesekan mekanis, itu adalah ratapan panjang atas sandiwara yang akan segera dimulai. Ratapan yang kian nyaring saat ia melonjak berdiri, terburu-buru mengejar untung atau menghindari buntung.

Aku saksi bisu decitan lain yang lebih menjijikkan. Decitan bernada gairah rendah, samar-samar, ketika ia meremas sandaran tanganku, yang juga tubuhku, sambil berbagi tawa bejat dengan sekertarisnya di pangkuanku. Kalian menyebutnya kerja lembur? Aku menyebutnya perzinaan yang berbau anyir, dilakukan di atas kemewahan yang seharusnya milik rakyat. Setiap serat kainku merinding, jijik, ingin muntah.

Kudengar bisikan-bisikan serak dari rapat-rapat terselubung. Di atasku, mereka, kumpulan lintah darat berjas, menyusun angka-angka palsu, membagi-bagi jatah korupsi layaknya gerombolan serigala kelaparan yang merobek-robek bangkai. Aku mendengar jelas rencana-rencana kotor untuk mengamankan proyek, tentang bagaimana meloloskan komisi jutaan, miliaran dari uang rakyat yang diperas habis-habisan. Mereka, yang mengaku wakil rakyat, tak ubahnya cacing tambang yang rakus, menggerogoti hingga negeri ini tinggal tulang belulang.

Kadang, aku ikut menanggung amarahnya. Ketika rencana jahatnya terendus, atau ketika ia dicurigai pihak pengawas, yang tak jarang adalah kroninya sendiri yang ingin jatah lebih. Ia menendang kakiku, atau meninju sandaran tanganku, bahkan menoyor kepalaku sampai aku terjungkal. Aku diam, kaku, menahan sakit, tak bisa berbuat apa-apa. Aku tahu, ini bukanlah yang terakhir, kelak ia akan kembali melampiaskan emosinya kepadaku, dengan bau kemeja yang sama, dengan nafsu serakah yang tak pernah padam.

Di luar gedung mewah itu, kadang terdengar riuh rendah teriakan. Suara rakyat yang kelaparan, yang marah, yang tertindas. Demo. Aku bisa merasakan getaran kemarahan itu menjalar dari lantai, masuk ke dalam pori-poriku. Dan saat itulah, ia, akan meremas sandaran tanganku sekuat tenaga, jari-jarinya memutih, cengkeraman ketakutan yang menular. Ia memukul-mukulkannya, seolah memaki massa di luar, padahal ia sedang memaki ketakutan yang merayapi jiwanya sendiri. Aku hanya bisa menerima pukulannya dalam diam.

Puncaknya terjadi pada sebuah acara peresmian besar. Panggung megah, karpet merah, dan sorot kamera yang membutakan setiap arah. Ia melangkah gagah, mengenakan jas yang licin dan senyum busuknya. Rakyat mengelu-elukannya dengan meriah. Tentu saja, karena mereka belum tahu bahwa itu hanya kepalsuan belaka. Ia menuju diriku, singgasana kotornya, untuk duduk dan berpidato agung, menyampaikan janji-janji surga yang ia sendiri bingung bagaimana cara menepatinya.

Namun, saat bokongnya yang angkuh itu hendak menyentuh sponsku, sebuah beban berlebih di saku belakang celananya tercantol di lekukan sandaranku. Sebuah simpul longgar yang tak kentara pada jahitan saku tersebut, secara tak terduga, merobek kainnya. Dari robekan itu, dari saku yang selama ini tertutup rapat itu, berhamburanlah setumpuk slip transfer rekening bank yang selama ini ia sembunyikan. Entah kenapa ia membawanya, mungkin ia lupa, atau takut jika ruangannya tiba-tiba digeledah oleh teman dekatnya yang lupa ia beri persenan. Tertulis jelas angka-angka fantastis, nama-nama samar, dan kode-kode proyek fiktif. Semuanya berserakan di karpet merah, di bawah sorot kamera yang tak berkedip.

Wajahnya seketika pias. Sorak sorai berubah menjadi riuh keheranan, lalu bisikan-bisikan penuh selidik. Aku hanya diam. Kaki-kakiku masih kokoh, aku masih berfungsi sempurna. Aku tidak rusak, tapi aku berhasil membongkar segala borok yang selama ini tak mampu kubungkam. Tugasku selesai. Dan ia? Ia kini hanyalah badut malang yang telanjang di panggung kebohongan. Itulah nasib bokong dan pemiliknya, yang dulu terlalu pongah untuk mendengar decitanku. Kini, decitan itu adalah tawa semesta.

***
~ asai, 2025

Posting Komentar