Kelelawar, Kali, dan Pengendara Motor : Sebuah Cerpen

Sebuah cerpen kehidupan tentang kelelawar, kali, dan pengendara motor
Gambar Ilustrasi Cerpen Kelelawar, Kali, dan Pengendara Motor

Kelelawar terbang sore itu di atas kali, ke sana kemari, hati pun tak henti-henti meradang, meratapi kondisinya sendiri, "Albert sudah punya rumah, Rebto punya royalty dari bukunya, dan itu sudah berjalan belasan tahun, Kalimbem punya tabungan tanah belasan meter di tiga tempat, Dairin setiap minta perlatan, bahan masak, apa pun keperluan dapur suaminya langsung mengabulkan. Aku, hanya kelelawar betina yang tenang, tepatnya pura-pura tenang terbang lontang-lantung melintasi kali keruh." Wushh! Betina nokturnal itu mengepakkan sayapnya, berkeliaran di atas kali sore hari menjelang malam. 

Salah satu pengendara motor melihatnya, tersenyum. Andai aku bisa sesantai setenang itu menjalani hidup, tentu macet, asap kendaraan, cemberutan istri, kelabilannya yang selalu wajib harus dimengerti, biaya nafkah harian, dan kewajiban lain yang tak pernah meringankan pundak. 

"Kelewap! Kelewap!" Kepakan sayap Khufasyah pergi meninggalkan kali, kembali untuk menemui sanderanya, baginya hanya dengan seorang anak lelaki itu dia bisa merasa menang dari berbagai kondisi. 

Setelah Khufasy, suami dari kelelawar itu pergi, tanpa ada lagi kata terakhir. Bahkan kepergiannya sangat tak disangka. Tersadarlah akan beberapa kekejian yang pernah diperbuatnya.... 

Setelah pernikahan singkat antara Khufasy dan Khufasyah, satu tahun berlalu, mereka belum juga dikaruniai anak, hingga pada pekan ke 53 Khufasyah mengkhianati suaminya. 

Ia pergi, berkencan dengan pejantan lain, bermesraan, hingga menyuruh pria itu untuk melamarnya. Padahal, Khufasy sedang berjuang serius memeras keringat mengais penghidupan di negeri orang. 

Komunikasi harian, palsu. Ucapan cinta, pesan rindu, semua imitasi. Di balik tabir, terungkap yang memang harus terurai. 

Khuafsy bukan pria lugu yang selama ini sebgaimana istrinya kira. Mata elangnya tersebar di mana pun wanitanya berada.

Pengadilan tiba, semua keluarga istrinya minta maaf, begitu juga Khufasyah. Tahun kedua mereka dikarunia seorang anak lelaki yang—sangat berharga, setiap siapa pun yang bertemu dengannya, rasa ingin memiliki, mengasuh, menyayangi muncul begitu saja. 

Biar waktu telah berlari dan tak dapat dikejar lagi, pijakan luka itu tak lekang dari hati Khufasy. Ternyata—karunia anak belum cukup untuk membuatnya sadar. Istrinya kembali berulah, bermain kembali dengan pria asing, bertingkah angkuh di depan suami, bertekak keras kepala di hadapan pria legalnya. 

Ini, sudah saatnya aku mengenali batas tanpa drama. Khufasy pergi, dengan makna pergi tanpa diskusi. 

Penduduk setempat mencibir Khufasyah, "Sudahlah berupa buruk, ganjen, keras kepala, pemalas. Udah syukur ada lelaki yang rela pura-pura suka, cinta kepadanya, malah dikhianati lagi. Wanita dungu!" Kata kelelawar betina ketika berkumpul dengan sesama ibu-ibu di ranting pohon. 

"Orang tua, seluruh keluarganya pun membelanya itu yang lebih membagongkan. Mereka tuh keluarga paling caper di kampung ini, bilangnya sih bantu warga, berusaha jadi panutan. Padahal semua itu palsu, hanya kedok untuk menutupi kebobrokan citra asli keluarga mereka." Timpal yang lain, kelewap! Kelewap! Tawa mereka begitu renyah sore menjelang gelap itu. 

"Pantaslah, mana ada pria waras yang sudi hidup bersamanya. Rugi dunia akhirat. Hahaha!" Kelewap! Kelewap! Banjir tawa para ibu-ibu penghuni ranting pohon beringin. 

*

Pengendara motor tak pernah bisa mengurai badai di perjalanannya, air mata yang terurai lebih sering membuatnya kecil. 

"Shinbo," Panggil istrinya kali itu dengan senyum, senyuman yang rasanya paling lebar selama hidup bersama istrinya. "Kamu itu kerja tiap hari, bagus. Tapi, aku ingin bertanya satu hal: kapan kamu kayanya?" Pria itu termangu, melepas helmnya perlahan, menaruhnya di tempat helm, gerakannya lambat, seolah seluruh sendinya macet. 

"Onigasima. Aku minta maaf, kalau selama ini belum bisa menjadi kaya, seperti suami suami temanmu, yang bisa membelikan apa pun yang istrinya minta." Seuntai senyuman paling busuk menjawab, "Permintaan maaf saat ini tak penting dan buat apa minta maaf. Jauh dari itu semua. Mengapa tak mencoba untuk jadi kaya secepat mungkin, sesulit itukah membahagiakan aku. Ikrarmu di depan orangtuaku, ternyata palsu kan?" Petir tak ada, angin tak menderu, bumi tak mengguncang tapi hati Shinbo hancur. 

"Kalau sejak awal kamu tak yakin bisa membuatku bahagia, kenapa malah nekat menikahiku? Hey—" Suara istrinya kini menanjak pelan tapi pasti, kalau begini caranya, aku yang malu ke mana-mana. Teman-temanku sudah beli motor keluaran terbaru, mobil, renovasi rumah, beli tanah buat tempat tinggal anak di masa depan. Tabungan emas berpuluh kilo gram." Tatapan Onigasima kini sangat melecehkan pria itu. 

"Kerja hanya kurir doang, pendapatan enggak seberapa. Ibu, bapak, adik-adikmu merongrong terus. Mereka itu udah gila ya! Kamu, kita! Kita ini udah nikah Bo!" Shinbo terbelalak, tak kuat lagi dia menahan yang selama ini dia tahan. "Sima," Panggilnya tenang tapi dengan tekanan suara yang berat dan penuh beban. "Aku, tak pernah ingin menikah denganmu." Onigasima heran, sangat tak menyangka suaminya yang selama ini selalu diam ketika dicabik-cabik dengan mulut iblisnya, kini seolah seluruh ucapan kejamnya tak ada apa-apanya lagi. 

"Lantas mengapa kau menikahiku dengan mendatangi keluargaku berkali-kali?" Shinbo sekarang tersenyum lepas, seolah bebannya yang selama ini dipanggul ingin ditumpahkan sekarang juga. 

"Seorang pria di hari, jauh sebelum kita berbicara saat ini memohon kepadaku agar menikahimu. Katanya: hanya kamu yang bisa menikahi wanita paling terkutuk, terburuk, terbangsat yang pernah ada sepanjang sejarah Desa Kuldara. Sudah tak terhitung berapa banyak pria yang ditidurinnya. Anehnya lagi, dia berwajah jelek, bau, pemalas, paling tukang caper publik—dan yang jauh paling mengalahkan sejarah buruk Manuskrip Voynich.

"Mengapa aku memilihmu? Sederhana. Karena aku pun salah satu pria yang ditiduri olehnya, aku merasakan aura sok cantiknya, padahal super deeper buluk, aura sok imutnya, nyatanya badannya lebih bau dari bangkai terbau di dunia. Mengapa aku tak berontak ketika ditiduri olehnya? Simple. Aku pun suruhan salah satu keluarganya. Mengapa aku memilihmu? Kredibel. Aku sudah tak asing dari semua bukti yang telah kutemukan. Kamu memang seorang penyabar, bahkan sosok nyata kesabaran yang pernah ada di bumi."

*

Onigasima berjalan sayu di pinggir kali keruh, seekor kelelawar terbang berdua dengan kelelawar kecil, bolak-balik mengitari kali. Terbang rendah dengan cepat. Terlihat bebas, terkesan apa pun bisa ditebas sesuka hati. "Lihatlah Nak," Katanya sambil mengepakkan sayap, "ibumu harus jauh lebih kuat dari wanita kuat itu. Biar pun dia jelek, buruk rupa tak karuan. Setidaknya masih memaksa sok pede merasa paling cantik, paling menarik sealam khayalnya. Biar pun Ayahmu meninggalkanmu, tepatnya meninggalkan kita, kita tetap kuat menahan, melawan, menerima setiap ocehan keji. Karena aku tetap yakin seyakin-yakinnya aku yang benar, Ayahmu yang salah tak terhingga persen." Kelelawar kecil menganga cukup lama, sisi kejantanannya terusik. Cukup tersinggung dan tak serta merta percaya akan ocehan ibu tua yang buruk rupa itu. 

Byur! Wanita itu menceburkan dirinya, blub... blub... blub.... Tak lagi muncul ke permukaan. Ngik! Dua kelelawar itu tersentak, mereka terbang cepat, sekitar 100 km/jam menjauh dari lokasi tempat biasa Khufasyah terbang bebas di hampir tiap sore hari. 

Orang-orang ribut, berkumpul terlalu ramai di pinggir kali keruh. Tim siap cepat tanggap telah berhasil mendapatkan jasad wanita itu. Tapi, nyawanya sudah tak tertolong lagi. 

Rumah Sakit Advent.

Seorang bayi berhasil diselamatkan, identitas Ayah dari bayi sukses ditemukan. Kini anak itu tumbuh kembang oleh seorang Ayah yang memang telah lama ditinggalkan oleh istrinya. Biar pun seorang single parent, pengasuhan anak tetap tak menjadi beban apalagi hambatan. 

Kini anak lelaki itu menatap tulisan ini dengan perasaan yang sangat bercampur aduk. Mengapa kenyataan seringkali pahit? Mengenali hidup tanpa drama, menjalaninya sesuai kapasitas dan tanpa drama saat ini adalah seperti masuk ke dunia lain. 

Perbandingan itu punya manusia, tapi bukan hakikat hidup itu sendiri. Terkesan bebas, sejatinya sedang bertarung mati-matian memikul beban. Terbang rendah lagi cepat agar kita tahu ke mana harus mendarat. 

Menjadi sumber sorotan terlalu sering berakhir jadi sasaran. 

*

—Cileungsi, 25/12/25, 00.05, halub©

Tentang Penulis

Halub alumni WR Academy Malang Angkatan 58, beberapa tulisannya bisa dibaca di:

https://www.academia.edu/72569228/_Peran_Milenial_Dalam_Menjaga_Lingkungan_

https://www.anaksenja.com/search?q=Halub

https://tebuireng.online/?s=Halub

https://noveltoon.mobi/id/shortstory/49689

https://cakrawalaindonesia.id/?s=Halub

https://whatsapp.com/channel/0029VaKflAy1NCrdl4uUw71X

https://www.instagram.com/halubz/

https://www.kompasiana.com/suhailusaidkhudair0218

https://sonymdual9.gurusiana.id/sonymdual9/article/2024/6/dianggap-apa-bukan-urusan-4086080

Posting Komentar