Siang ini rasanya laper banget. Entah kenapa, padahal sudah makan siang dan ngemil kerupuk yang aku goreng sendiri, ibuku sering beli dan nyetok kerupuk mentah di lemari untuk lauk makan. Menjelang asyar, tiba-tiba aja kepikiran mie ayam. Pas banget, sejak pagi ada rencana untuk buang sampah, karena sudah menggunung sampai tumpah-tumpah. Semua ini karena pikiran "ntar aja, pasti kebuang kok", dan nyatanya gak kebuang-buang.
Selesai meringkas sampah ke dalam plastik besar, langsung aja kutancap gas menuju ke tempat pembuangan sampah yang terpusat di dekat lapangan sepak bola kampungku. Supra X 125 yang selalu setia menemaniku bertahun-tahun ini berjalan pelan mengantarkanku.
Kecepatan hanya sekitar 15 sampai 25 km/jam. Kenapa pelan? Karena motor tuaku ini habis turun mesin yang kedua kalinya dalam kurun waktu yang sangat singkat, yakni sebulanan. Sudah jelas karena kebodohanku sendiri. Turun mesin yang pertama kali terjadi sebelum Idul Fitri, kemudian langsung kupakai untuk bersilaturahmi ke luar kota bersama keluargaku. Sebelumnya aku kira bunyi "tik-tik-tik" lirih dari mesin adalah hal wajar, karena baru aja ganti dalaman mesin dan butuh adaptasi. Eh, ternyata itu adalah sumber awal dari kerusakan parah yang kedua kalinya, sehingga pada bulan berikutnya aku servicein lagi dan turun mesin lagi. Gakpapa lah, buat pembelajaran kedepannya.
Ku berhenti di pinggir jalan, berdiri dan menengok ke dalam tempat pembuangan sampah yang pintunya tertutup. Tempat sampahnya beratap dan memiliki pintu besi setinggi pinggang. Karena badanku cukup tinggi, jadi bisa ku tengok dari atas. Aku takut, jika kulempar asal dari jalan bisa mengenai kepala orang yang sedang memulung di sana. Karena pernah, saat dulu membuang sampah hampir saja mengenai orang yang sedang mengais sampah, mencari botol atau kardus bekas yang bisa dijual kembali.
Perjalanan kulanjutkan. Sempat terlintas, "apa gak usah makan mie ayam ya? Ntar jadi gak sehat kalau kebanyakan, karena kemarin abis makan mie sapi di Jogja, dan kemarinnya lagi juga makan mie ayam di warung milik teman?". Tapi setelah melihat banyak motor terparkir di depan warung mie ayam favoritku, pikiran itu langsung lenyap begitu saja, dan setir motorku otomatis berbelok untuk berkumpul dengan motor-motor yang tengah bersantai di sana.
"Satu ya, pak."
"Nggih, mas," jawab mas-mas yang sedang mengaduk mie di dalam panci besar.
Mataku memindai cepat dan langsung mendaratkan pantatku ke salah satu kursi panjang yang kosong. Ku ambil selembar tisu yang disediakan gratis, kugunakan untuk mengelap meja, karena sebelum duduk terlihat bercak-bercak tak bersahabat yang kemungkinan adalah sisa-sisa keikhlasan dari pembeli sebelumnya.
Sembari menunggu pesanan datang, ku ambil ponsel dari saku celana kiriku. Scroll-scroll gak jelas, dengan harapan bisa menyingkat waktu agar mie ayam dapat segera hadir di hadapanku.
Terlintas sepotong ingatan, dua hari lalu, saat aku ngucing di angkringan bersama teman dari tempat kerja lamaku. Entah kenapa dia sering random ngajak sesuatu, dan akunya juga iya-iya aja, padahal biasanya aku sering males kalau diajak acara dadakan. Mungkin karena akunya memang pas lagi longgar, atau mungkin karena amalan baiknya yang begitu banyak sehingga aku diutus semesta untuk menurutinya.
Temanku cerita, bahwa ia mengalami hal yang mengejutkan. Ia merasa kisah dalam novel yang sedang dibacanya seolah mencerminkan kehidupan yang ia alami di dunia nyata. Katanya novel dari Nh. Dini, yang entah judulnya apa aku lupa, di dalam novelnya membahas tentang wuwung, atau bagian paling atas dari atap rumah yang berfungsi untuk penutup pertemuan genting dari dua sisi berlawanan. Saat itu ia juga sedang memperbaiki atap rumahnya, karena sudah tua dan mungkin bocor, sehingga dia mendapat informasi mengenai apa saja yang harus dilakukan, yang keputusan terakhirnya adalah mengganti semuanya dengan rangkaian baja ringan, karena di novelnya bilang lebih baik di perbaiki semua supaya sempurna. Mengingat ini adalah novel lawas, pasti tidak membahas tentang baja ringan. Jadi temanku berimprovisasi sendiri, dengan pengetahuan dan keyakinannya, beserta restu orang tua dan istrinya yang tinggal di satu atap yang sama.
Aku pun tertarik dengan novel dari Nh. Dini, yang langsung aku cari di aplikasi iPusnas, dan aku pilih dengan judul "Janda Muda:Kumpulan Cerita Pendek". Aku pikir, mungkin bisa membaca satu sampai dua cerita untuk mengisi waktu luangku dalam penantian mie ayam.
Beberapa halaman awal aku buka, kutemukan sebuah kutipan dari Rendra:
"ya, kita telah sama-sama menjadi saksi dari suatu kejadian,
yang kita tidak tahu apa-apa,
namun lahir dari perbuatan kita."
Saat mencoba mencerna dan memikirkan apa maksudnya, tiba-tiba terdengar sepenggal suara dari sebelah kananku.
"Mas?" langsung ku tengok. "Mie ayam pangsit biasa nggih, mas?"
Ternyata mie ayamku sudah jadi. Gak jadi deh baca satu atau dua cerita dari buku yang baru saja aku pinjam. Tapi aku bertekat, nanti akan ku teruskan bacanya, jika sempat.
Langsung kuletakkan ponsel di seberang mie ayam, dan ku bumbui dengan toppingan kecap dan saos menurut feelingku. Tapi ada yang janggal, tempat sambal lepas dari pandangan. Tak tersedia di mejaku. Kepalaku otomatis berputar seperti kepala burung hantu yang mencari mangsa, yang akhirnya tertemu di meja belakangku. Pas gak ada orang, langsung aja kuangkut.
"Minum apa, mas?" tanya bapak-bapak berkumis dari arah belakang warung ke pengunjung yang duduk di sebelahku.
"Es teh, pak."
"Kalau, mas?" berpaling menanyaiku.
Karena aku gak bawa uang banyak, langsung saja aku jawab dengan lantang.
"Air putih, pak"
Selain sehat, air putih juga terkadang gratis. Lumayan uangnya bisa kusimpan buat bayar parkir atau jajan kojek yang lewat di depan rumah sore hari nanti.
Terkadang tenggorokanku gak nyaman saat makan mie ayam yang kategorinya manis diselingi dengan minuman manis, seperti teh atau jeruk manis. Kalau air putih tuh rasanya enak aja di tenggorokan, seperti menetralkan, menciptakan jeda di tengah cita rasa yang begitu indahnya, memberikan kesegaran tersendiri, atau ya, karena memang lebih ramah di kantong.
Selain itu, aku juga sadar diri, jika aku merupakan keturunan dari pengidap diabetes. Nenekku adalah almarhumah yang pernah mengonsumsi obat-obatan puluhan tahun, demi mengontrol tekanan gula darahnya. Walau nyatanya obatnya jarang diminum, karena males katanya. Tapi ia lakukan dengan penuh sadar diri, dengan mengurangi makan dan minum-minuman manis. Ia juga rajin berpuasa diusianya yang sudah tidak muda. Selain itu ia juga tidak pernah makan berlebihan. Hanya secukupnya saja. Jika memiliki makanan lebih, ia selalu ingat dengan anak cucunya. Salah satunya adalah aku, yang sering disebut dengan sang penampung makanan, entah bersumber dari beli sendiri, didapatnya seusai menghadiri pengajian, atau diberi oleh kerabat yang lainnya.
Hal tersebut mengingatkanku untuk selalu menjaga diri dari gula, tidak berlebihan untuk makan, dan juga untuk selalu berbagi kepada sesama jika mendapatkan rejeki lebih.
Seperti hilang kendali, tiba-tiba sadar bahwa mie ayamku tinggal sedikit. Kenikmatan itu hanya tinggal seuprit, dan aku sedikit menyesalinya. Kenapa bisa aku menyia-nyiakan berhelai-helai mie yang sangat nikmat itu, hanya karena pikiranku mengembara ke mana-mana.
Tapi tak apa, ku nikmati saja sepucuk mie ayam ini dengan sangat hikmat. Ku seruput pelan kuah kentalnya yang pedas manis, kuserot pelan satu demi satu mie yang tersisa, sambil kuimbuhi sawi yang sangat mantap. Hamburan ayam-ayam kecil ku serok dengan sendok stainless yang entah sudah masuk ke berapa ribu mulut semasa kerjanya sebagai perabot di warung mie ayam tersebut.
Dan, hmm... Mie ayam itu telah berlalu. Entah kenapa momen paling seru dan perpisahan selalu bersahabat di ujung pertemuan. Kenangannya masih tersisa di rongga mulut, aroma khasnya masih berkolaborasi dengan udara di dalam tubuhku, menciptakan sensasi tersendiri, yang hanya bisa di nikmati oleh para pecinta mie ayam di seluruh penjuru negeri. Aku beruntung masih bisa makan mie ayam hari ini.
~ Joe Azkha, 31/05/2026
