Makna Sebenarnya di Balik Lagu Usai Usia - Charita Utami & Yudhistira Mirza


Arti Lagu Usai Usia - Setelah ditelaah, lagu Usai Usia ini berisikan tentang kisah perjalanan hidup sorang manusia. Di mana kita (sebagai manusia) selalu dihimpit dengan berbagai pilihan dan pertanyaan saat mengarungi sebuah perjalanan untuk menuju ke satu tujuan yang sama, yaitu ke tempat keabadian.

Kita berada di dalam keadaan di mana rasa percaya selalu dilemahkan oleh rasa kewas-wasan. Pertanyaan seperti 'apakah iya?', 'memang iya?', 'masak gitu sih?', 'kayaknya gak gitu deh?', dan lain sebagainya selalu membuat kita bimbang tatkala mengambil suatu pilihan untuk dijadikan dasar sebagai bekal seusai fase kematian.

Pada lagu ini, kita diajak untuk mengenal diri sendiri sebagai 'manusia' dan 'sadar' akan perannya masing-masing. Apa benar bawha kita ini benar-benar manusia? Mari kita sadari dengan mengkaji setiap bait dari lagu Usai Usia ini bersama anaksenja.com.

" Makna Lirik Lagu Usai Usia "

Ke mana kan mengalir
Membawa jejak yang terukir
Berhenti di pesisir
Menjadi perhentian yang terakhir

Pada bagian ini menceritakan tentang seseorang yang dilanda kebimbangan hidup. Tak ada yang bisa menjamin pasti kita akan menjadi apa setelah fase kematian tiba. Yang kita yakini adalah adanya dunia baru yang akan menjadi wadah untuk kita (manusia), di mana kita akan disibukkan dengan segala pertanggung jawaban dari hal-hal yang telah kita amalkan saat hidup di dunia.

Saat hidup di dunia, kita selalu dihimpit dengan segala pertanyaan yang manakala bisa menyesatkan maupun membuat kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Seperti baik dan buruk, tinggi dan rendah, cinta dan benci, maupun antonim lain yang selalu menjadi pertimbangan di dalam pikiran kita. Namun semua itu hanyalah bagian dari sebuah proses perjalanan hidup yang nantinya akan menuntun kita ke titik pemberhentian terakhir, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan 'akhirat'.

Raga... ini...
Untuknya
Jiwa... ini...
Bersamanya

Sebagai umat yang taat, kita selalu diajarkan untuk terus berusaha menjadi lebih dan lebih baik lagi daripada sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah dengan membiasakan diri agar bisa lebih dekat dan semakin dekat kepadanyaNya. Kedekatan itu kita olah dari rasa (cinta) yang tulus sebagai bentuk abdi kepadaNya, sehingga menciptakan suatu kepasrahan, menyerahkan dan meluapkan segalanya untukNya, termasuk jiwa dan raga. 

Melindungi
Mengasihi
Menumbuhkan dan menghidupkan
Saling menjaga hingga...
Usai

Pada bagian reff ini berisi tentang tugas manusia yang seharusnya manusia lakukan tatkala hidup di dunia. Saling melindungi, mengasihi, menumbuhkan (seperti merawat anak maupun mengajarkan kebaikan kepada sesama), menghidupkan (berkembang biak, memacu semangat hidup bagi sesama), dan saling menjaga hingga usai (mati).

Semua tugas ini terkadang kita lupakan karena keegoisan kita yang terlalu tinggi. Sudah terbiasa manja dengan iming-iming duniawi, sehingga berat dan buta untuk melakukan segala kewajibannya. Kita  akan coba membahas poin-poinnya satu persatu, agar tidak rumpang dan jelas.

Melindungi. Poin pertama ini adalah hal yang wajib dilakukan untuk mempertahankan sesuatu yang kita sayangi. Apabila kita sayang kepada manusia, maka sudah selayaknya kita harus melindungi (semua) manusia yang sekiranya sedang tersiksa (tertindas, maupun hal-hal yang menciptakan rasa terancam) oleh para makhluk-makhluk yang selalu mengaku sebagai manusia. Jangankan arti 'melindungi', arti dari 'manusia' pun mereka tak tau karena terlalu sibuk dengan tujuan 'entah'nya.

Mengasihi. Sebenarnya ini adalah dasar dari sebuah 'rasa'. Seperti Tuhan, yang selalu mengutamakan 'kasih' dari segala kebaikan-kebaikan yang hendak maupun telah diberikanNya. Kita sebagai ciptaannya seharusnya sadar dan wajib meniru sifat ini, supaya masing-masing dari kita bisa menumbuhkan rasa saling menjaga, melindungi, dan sifat-sifat lainnya yang sekiranya bisa menumbuhkan suatu 'kedamaian'.

Menumbuhkan dan menghidupkan. Ada dua proses di dalam fase menumbuhkan, yakni pada sebelum sesuatu (manusia) menjadi hidup dan setelah sesuatu itu menjadi hidup. Kita sering sebut itu dengan proses, proses membuat manusia dan proses mendidik manusia. Kita sebagai manusia memang tidak bisa menciptakan manusia lainnya tanpa kehendak Tuhan, karena kita hanyalah sebuah sarana atau jalan untuk terciptanya seorang manusia. Bukan menciptakan, melainkan menjadi media akan suatu ciptaan. Jadi, kata 'menciptakan' di sini bukan berarti tentang menciptakan 'manusia sebagai makhluk',  melainkan menciptakan 'manusia sebagai manusia' dengan cara mendidik dan membimbingnya dengan segala usaha dan ilmu pengetahuan yang pernah kita dapat untuk bekal menuju ke kehidupan sejati (akhirat).

Saling menjaga hingga usai. Setelah fase mengasihi, melindungi, menumbuhkan dan menghidupkan, secara otomatis pasti sifat 'menjaga' sesama (keluarga, lingkungan, atau manusia itu sendiri) akan tumbuh dengan sendirinya. Dan semua itu akan berlangsung hingga usai, hingga napas tak berhembus dan jiwa terlepas dari raga.

Jika mampu melakukan atau membiasakan semua ini, sudah pasti akan menjadi bekal yang cukup untuk dibawa ke ruang abadi. Tinggal kepasrahan kita kepadaNya, melakukan semuanya karenaNya dan hanya berharap kepadaNya. Toh, kita berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya bukan?

Ke mana kan mengalir
Berhenti di pesisir
Ke mana kan mengalir
Berhenti

Dan, kembali lagi disibukkan dengan berbagai pertanyaan, kebimbangan, nilai-nilai, sudut pandang, maupun tujuan-tujuan tatkala mengambil keputusan untuk dijadikan tumpuan dalam proses menuju keabadian. Hal yang sebaiknya disikapi terlebih dahulu adalah tentang bagaimana 'mengenal diri sendiri'. Mencari arti tentang 'aku', agar bisa mengerti tentang 'kamu, dia dan mereka', untuk bisa  merasakan betapa indahnya menjadi 'kita'.

Lagu Usai Usia yang diptakan oleh Yudhistira Mirza yang arasemennya dibuat bersama Charita Utami ini dikemas dengan sangat sederhana. Mendengarkannya pun sangat enak, tidak menyakiti tellinga dan lumayan lembut untuk masuk ke relung rasa.

Apabila kamu memiliki pendapat lain tentang lagu ini, silakan tulis saja di kolom komentar. Curahkan pikiranmu untuk berbagi kepada sesama demi kebaikan bersama.

0 Comments

Posting Komentar