Cerpen - Tangisan Bayi


Setiap seminggu sekali, setiap kepala keluarga di Kampung Harapan mendapat jadwal acak untuk meronda hingga pagi. Waktu itu Kamis malam, Pak Bangkit dan Pak Wanto mendapat jatah untuk berkeliling kampung.

“Pak Wanto, tau enggak sih. Sebenernya malam Jum’at gini afdolnya di rumah? Tadi istriku ribut mulu saat aku pamitan untuk meronda,” keluh Pak Bangkit sembari menyenteri semak-semak.

“Lah, pasti karena lagi pingin itu ya? Hayo ngaku saja, Pak!” desak Pak Wanto.

“Pingin itu apaan?!”

“Emm ... itu tuh ... ahh!”

“Ngawur! Dia marah tuh karena salah paham. Dia kira aku mau ngeranda. Istri muda almarhum Pak Joko itu kan tiap malam-malam gini selalu stay di warkopnya dengan pakaian minim,” tegas Pak Bangkit untuk meluruskan pembicaraan.

“Wuahahaha ... Dasar istri cemburuan! Tadi dia juga ngeluh ke aku lewat chat. Harusnya kan malam ini jadwalku menyelinap. Ehh, malah dapet jatah sejadwal sama kamu,” sahut Pak Wanto.

“Bentar-bentar ... Berarti?” tanya Pak Bangkit bingung.

“Aduh keceplosan,” gumam Pak Wanto pelan. “Haha, bercanda keleusss!” elak Pak Wanto.

“Haha, kamu bisa aja kamu Pak!”

“Untung aja pak Bangkit bego. Huft,” gumam Pak Wanto lagi.

Mendapat sedikit uang dari kas RT, Pak Wanto memiliki ide untuk mengiras di warung kopi Mbak Tika. Ia merupakan mantan istri dai almarhum Pak Joko. Rencananya, Pak Wanto hendak mengambil foto ketika Pak Bangkit sedang asyik mengobrol dengan Mbak Tika. Foto untuk dijadikannya alat sebagai jaga-jaga, jika saja suatu saat dibutuhkan saat kondisi terdesak. Namun ketika dalam perjalanan, Pak Wanto kebelet pipis dan langsung lari ke arah sungai.

“Bentar ya, Pak? Aku mau donor sungai dulu,” pamit Pak Wanto sambil berlari.

“Halah, sana-sana. Jangan biarkan kepesingan membanjiri celanamu! Haha,” pesan Pak Bangkit.

Sesampainya di hillir sungai, Pak Wanto langsung gegas membuka ritsleting celananya. Sebelum air seninya menyiprat, tiba-tiba ia tersentak rinding karena mendengar suara tangisan.

“Oeek ... ”

“Alamaakkk! Ada suara anak wewe nangis. Pak Bangkit! Tolong aku Pak!!!” teriak Pak Wanto ketakutan.

Gara-gara ketakutan, Pak Wanto pun tak bisa berkonsentrasi. Menyebabkan niatan kencingnya gagal total. Bukan pipis yang keluar, malah berak yang berbau tajam.

Tunggang langgang, Pak Bangkit berlari ke sumber suara dengan tergesa. “Ada apa Pak? Mmppfff ... Bau apa nih?!” teriak Pak Bangkit dengan menutup hidung. “Kamu tuh enggak ada warasnya sama sekali! Pakai pempres dong ah!” lanjutnya tegas.

“Udah dong Pak, bukan itu masalah utamanya! Kamu enggak merasa takut saat mendengar suara anak nangis itu?!”

“Mana sih? Mana?! Malah bau berak yang terasa. Oon!” jengkel Pak Bangkit.

“Ssstttt!!! Makannya jangan berisik, diam dulu dong! Konsentrasi!” bentak Pak Wanto.

“O-ooek ... ”

Terlihat sebuah keranjang berukuran tanggung mengapung pelan di tengah sungai. Pak Bangkit pun terkejut. Ia merasa bahwa sumber suara tangisan itu berasal dari keranjang tersebut.

“Ayo, Pak! Kita ambil keranjang itu! Sepertinya ada bayi di dalamnya!” ajak Pak Bangkit.

Pak Wanto hanya bisa diam menekan pantat, karena takut kuning-kuningnya meleleh jatuh dari lubang kaki celananya. “Cepat sana! Aku bantu doa dari sini!”

“Baiklah, doain abang ya?” pinta Pak Bangkit.

“Iya bang, sini kecup kening Anto duyu,”

Langsung refleks, Pak Bangkit menerapkan perintah Pak Wanto. “Muuaacchhuuuwwweeekkkkk! Juh! Huweekkk ... huoweeekkk ... juh! Kenapa kita malah jadi homo gini sih?" bingungnya.

"Kamu gila! Udah tau bercanda malah diturutin! Udah lah, cepat sana kamu jemput keranjang itu!” perintah Pak Wanto yang diikuti munculnya merah-merah di pipinya.

Melihat Pak Bangkit berenang menuju keranjang, Pak Wanto menggeliat karena mengingat masa lalunya sebelum tobat. Beberapa saat kemudian ia sadar dan langsung asal berdoa, agar Pak Bangkit tersambar buaya. Doa itu dibatin dengan canda, dan membayangkan istri cantik yang selalu ia temui ketika Pak Bangkit meronda bisa dimilikinya secara utuh.

“Hah ... hah ... byurr...” suara gebyuran renang Pak Bangkit. “Aaaaaa!!!”

Tanpa diduga, doa Pak Wanto cepat terkabul. Tiba-tiba muncul seekor buaya yang mencaplok Pak Bangkit, darahnya pun memabul di tengah-tengah sungai.

“BANGKIIITTTTT!!!”

Pak Wanto hanya bisa meratapi doanya. Doa yang tak serius, ternyata bisa kabul dan merampas nyawa sahabat terbaiknya. Ia sangat menyesal dan tak bisa bangkit setelah melihat kondisi Pak Bangkit yang sudah tak bisa kembali bangkit. Air matanya mengucur dengan sendu, terlihat jelas merambat deras di raut wajahnya.

Beberapa saat kemudian, keranjang dari tengah sungai itu pun menepi, tepat dibawah kaki Pak Wanto. Ia segera membuka dan mendekatkan kepalanya untuk melihat isinya.

“ARGGHUMMM!!!”

Usut punya usut, ternyata di dalam keranjang itu berisi bayi buaya, yang langsung menggigit wajah Pak Wanto dengan seketika. Tak disangka, sepasang sahabat mati ditempat secara tragis dijebak oleh keluarga buaya.

*****

Judul    : Tangisan Bayi
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Post a Comment