Cerpen - Apa Kau Mendengarku?

Mendapati lingkaran sunyi. Kuterkurung di dalam sepi yang kian menghantui. Wajahmu selalu muncul di dinding yang melingkariku. Coba kupejam. Malah kau muncul di dinding kelopak mataku. Kau tak anjak pergi, malah semakin mendekat dan merapat. Kau, pujaanku.


Duduk di bangku teras, ku coba nikmati kopi yang beraroma wangi. Kuseduh secara rinci, bahkan butiran gula pun aku coba hitungi. Agar semua pas, dan tepat seperti yang ku inginkan.

Kuletakkannya di depanku, agak miring di sebelah tangan kananku. Berlandas lepek kaca yang membiaskan cahaya senja, rasuk tajam ke arah mataku. Hal ini membuatku menggeserkannya lagi, hingga ujung meja. Sudah ku posisikan agar tak jatuh, dengan kuberi sedikit jarak dari hilir meja.

Kupegang gagangnya, kudekatkan ke bibirku yang siap menyeruput tipis tuk nikmati kepahitannya.

"Uhuk-uhuk-uhuukkkkk."

Perih, menyedak di kerongkongan. Entah kenapa kopi itu terasa aneh. Tak seperti biasanya. Kepahitannya mengingatkanku akan sesuatu. Sebuah sosok yang selalu hadir di tiap waktu. Waktu lalu.

*

"Aku mau tanya sesuatu nih."

"Tanya apaan?"

"Tapi aku takut kamu marah."

"Kenapa aku harus marah? Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"

"Kamu harus janji dulu, baru aku kasih tau pertanyaanku."

"Hiihhh ... Bikin penasaran! Ya, aku janji!"

"Janji apa? Yang jelas dong!"

"Iya-iyaaa ... Aku janji gak akan marah."

"Oke. Makasih."

"Eh, kok makasih sih?! Mana pertanyaannya?!"

"Lah tadi kan udah, aku tanya kamu janji apa. Dasar, cantik-cantik pikun. Hahaha."

"Kurang ajaaaarrr!!! Jangan lari woey!!!"

***

Bibirku tersengir otomatis, kala potongan-potongan ingatan tentangnya muncul di pikiran. Banyak hal yang pernah terjadi. Saling tukar pikiran mengenai hal yang tak penting, sampai melakukan hal-hal yang sama sekali tak berguna. Pengalaman seperti itu sangatlah mahal, karena bekasnya lebih kuat mengkarat daripada ingatan-ingatan lain yang mudah pupus digerus ingatan baru. 

Segala hal dapat dijadikan bahan sebagai alasan lahirnya senyuman. Membicarakan orang lain tanpa mengusik aib maupun fisik, membahas hal-hal aneh, sampai membercandai aib-aib pribadi dengan tanpa menyakiti.

Namun, semua itu lalu begitu saja. Ketika jarak mengacaukan suasana. Jarak muncul dengan tiba-tiba, menciptakan rambatan sunyi dalam hati.

Jarang bertemu, jarang menyapa. Semua rusak begitu saja. Kebiasaan nyaman yang pernah tercipta sudah rusak, tersobek oleh kenyataan yang memaksaku sadar.

Rindu terus menderu, membisik terus tak mau tau. Mengajak kaki melangkah pergi, tuk rebut kembali si isi hati.

Tak bisa. Sadar menampar memar. Luka lamaku kembali berasa saat kesabaran merayu sayu. Andai saja dulu tak kusiakan waktu, mungkin hari ini tak seperti ini.

Dengannya aku mengenal arti, hidup tak enak jika sendiri.

"Hei kamu, apa kau dengar suaraku? Aku rindu ... "

*****

Judul    : Apa Kau Mendengarku?
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Posting Komentar