Aku adalah Hujan. Entitas purba, penanda siklus, dan ironisnya seringkali menjadi sasaran caci-makimu, makhluk yang menyebut dirinya paling beradab di muka bumi ini, siapa lagi kalau bukan manusia. Kisahku bukan sekadar tetesan air dari langit, tetapi sebuah perjalanan panjang, lahir dari sebuah pertautan yang mungkin tak pernah kau bayangkan.
Aku terlahir dari sebuah pelukan hangat antara genangan air yang tenang, yang mungkin kau pandang tak berarti, dan sinar mentari yang perkasa, yang kerap kau sanjung seolah ia satu-satunya sumber kehidupan. Dari pertautan itu, bukan dalam wujud ovum dan sperma, melainkan sebuah energi halus yang tak kasat mata, aku mulai menguap. Aku bangkit, meninggalkan dasar yang sunyi, menuju ke atas, melayang-layang dalam dimensi udara. Rasanya seperti dibisiki panggilan agung, untuk menyatu dengan miliaran jiwa-jiwa sejenisku yang juga sedang menari di angkasa raya.
Di sana, aku berpilin, bersentuhan, dan memadat. Aku, bersama saudaraku yang tak terhitung jumlahnya, masuk ke dalam sebuah karya kandungan raksasa, yang sering kau sebut dengan Mendung. Di sana, aku terbentuk, memadat, hingga matang dan siap. Kau mungkin tak tahu, bagaimana aku bersabar menanti waktu yang tepat untuk dilahirkan. Sebuah penantian penuh harap, sebelum akhirnya aku akan menjelma, kembali ke bumi, dalam wujud yang beragam.
Sejatinya, aku tak selalu merasakan apa yang disebut dengan kelahiran. Ada saatnya aku gugur, sirna sebelum waktunya. Kadang, angin datang, tak terduga, menerpaku hingga bubar, tercerai-berai. Atau, mentari, yang dahulu ayahku, memancarkan cahayanya terlalu terik, seolah cemburu melihatku berdiam dalam mendung. Aku kembali menjadi uap, lenyap tanpa sempat jatuh sebagai tetesan. Juga karena kelembapan, suhu udara, atau faktor-faktor lain yang bagimu mungkin remeh, namun bagiku adalah penentu keberadaan. Sungguh, aku terlahir dari cinta antara genangan dan mentari, sebuah kehendak semesta. Namun, seperti juga hatimu, cinta bisa pupus, terenggut oleh amarah angin atau keserakahan panas yang berlebihan. Ini sepertimu, manusia, yang kadang memulai sebuah hubungan dengan niat tulus, namun berakhir pahit karena ditiup oleh badai ego, diracuni nafsu, atau terkikis oleh keangkuhanmu sendiri.
Tapi, saat aku berhasil melalui itu semua, kelahiran seperti sebuah keajaiban. Aku hadir dalam berbagai rupa. Kadang aku datang sebagai gerimis, tetes-tetes kecil nan lembut, sekadar menyapa dan membasahi tanah kering atau ubun-ubunmu yang menguap karena berpikir keras tentang hal-hal duniawi. Kau mungkin tak merasakanku, atau menganggapku hanya sekadar lalu. Kadang aku datang sebagai kabut, tipis seperti selubung, memeluk gunung-gunung dengan syahdu. Kadang juga aku menjadi rintik, tetesanku lebih nyata, menciptakan melodi yang menenangkan saat menyentuh atap atau dedaunan. Dan di puncaknya, aku menjadi hujan deras, melimpah ruah, menghapus debu-debu, menyegarkan segala yang haus.
Walau aku sering berwujud beda, hakikatku tetaplah sama, yakni sebagai air hujan. Aku berasal dari sumber yang sama, membawa esensi yang sama. Bukankah ini mirip kau, manusia? Meski kau berparas beda, berwarna kulit tak sama, atau bersuara nyaring-serak, pada dasarnya kau adalah makhluk yang sama. Memiliki jiwa, hati, dan kerap kali, kebodohan yang sama dalam menilai dan menghakimi apa dan siapa pun.
Lalu, ketika aku jatuh ke bumi, penerimaanku pun beraneka rupa. Begitu pelik, layaknya kau menerima takdir hidup.
Ada tanah yang kering, merindukanku. Ia membuka pori-porinya, menerima setiap tetesanku sebagai anugerah. Dengan sabar, ia menyerapku, membiarkanku mengalir dalam dirinya, hingga ia subur dan kehidupan baru tumbuh dariku. Tanpa protes, tanpa keluh. Sebuah penerimaan yang murni.
Namun, ada juga dedaunan yang terlalu rapuh, yang menyambutku dengan gegap gempita, namun tak kuasa menahan gempuranku. Mereka tak sanggup, lalu patah, hanyut, remuk dalam derasnya aliranku. Sebuah gambaran kerapuhan jiwa yang tak siap menanggung beban.
Lalu sungai, ia seringkali menjadi wadah paksaan. Aku datang dari segala penjuru, memenuhi dirinya hingga meluap, membanjiri, bahkan merusak. Ia tak pernah memintaku, tapi aku terus dijejalkan padanya. Kau tahu, bencana seperti longsor dan banjir, seringkali kau tudingkan padaku. “Ini semua karena Hujan!”
Betapa lucunya. Bukankah bukan aku penyebabnya? Melainkan tangan-tangan serakahmu yang tanpa ampun menebang pohon di punggung-punggung bukit, merenggut perlindungan alami. Aku hanya menjalankan tugas, mengairi. Kau yang menciptakan kehampaan, membuat tanah tak berdaya.
Kau juga dengan santainya membuang sampah-sampah busukmu ke dalam aliran sungaiku, membangun dinding-dinding kokoh tanpa celah resapan, seolah bumi ini hanya panggung bagi keangkuhanmu. Lalu, ketika aku tumpah ruah, sesuai fitrahku, saluran airmu mampat, dan permukimanmu terendam. Kau berteriak, “Hujan jahat! Hujan penyebab bencana!”
Apakah aku harus mengubah esensiku agar sesuai dengan keangkuhanmu? Aku hanyalah air, aku hanya menuruti takdirku. Kekacauan itu, bukan ulahku. Itu pantulan cermin dari segala keegoisanmu.
Dan penerimaanmu, para manusia, oh sungguh menarik untuk diamati.
Ketika aku turun, kau berkata "acara piknikku batal! Hujan sialan!" Seolah alam harus tunduk pada jadwalmu yang kaku.
"Aku telat ke kantor! Ini gara-gara Hujan!" Seolah jalan tak pernah macet tanpa hadirku.
"Jalanan licin, aku terpeleset!" Bukankah karena kau yang tak hati-hati? Tapi aku yang menjadi terlihat jahat?
Petani meratap, "tanamanku ambruk semua! Hujan ini tak punya hati!" Seolah aku bisa mengerti kalender panenmu.
Pedagang kaki lima mengeluh, "daganganku sepi, tak punya payung, Hujan membuatku rugi!" Apakah aku harus menahan diri agar kau tak kehilangan untung?
Dan yang paling membuatku tergelitik, saat kau sendiri menciptakan banjir karena kesemena-menaanmu pada alam, lalu kau menudingku sebagai biang kerok. "Hujan bang*sat, bikin kami mengungsi!" Sungguh, tak ada yang lebih munafik dari hati yang menyalahkan takdir atas hasil dari perbuatannya sendiri. Kau, yang tanpa henti merusak, mencemari, memangkas kehidupan, namun berharap semesta melayani keinginan picikmu.
Namun, di antara samudra kebencian itu, ada secercah cahaya yang selalu membuatku merasa tak sia-sia. Mereka adalah jenis manusia langka, yang hatinya terbuat dari emas murni. Seperti seorang kakek tua yang tak pernah lelah mengayuh becaknya, Pak Darmo.
Saat itu, aku turun dengan derasnya, menceritakan segala gejolak batinku pada bumi. Pak Darmo, dengan becak tuanya yang ringkih, sedang membawa seorang nenek tua langganannya, yang bebannya melampaui separuh bobot tubuhnya. Di tengah derasnya aliranku, di tengah pandangan mata-mata yang mengeluh, Pak Darmo justru tersenyum. Senyum yang begitu tulus, seolah ia sedang bercanda dengan semesta.
"Alhamdulillah, Bu, udan deres. Rezeki, Bu," ujarnya.
Si Nenek, bingung. "Loh, Pak, rezeki bagaimana? Ini basah semua, sampai rumah juga masih jauh."
Pak Darmo tertawa kecil, suara tawanya seolah membasuh kekeruhan. "Nggih, Bu. Kalau Hujan begini, mengayuh becak justru terasa lebih ringan, Bu. Tak mudah gerah. Lagipula, ini semua berkah dari Gusti. Pasti ada hikmahnya."
Ia terus mengayuh, menembus genangan-genangan air yang kuciptakan. Senyumnya tak pudar, malah semakin merekah. Ia tidak berusaha mengubahku. Ia tidak mencoba mengatur takdirnya. Ia hanya menerima. Ia bersyukur, tak peduli aku datang atau tidak. Karena ia percaya, aku berasal dari Sang Pencipta, sepertinya, yang pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Ia menyadari, semua ini telah termaktub dalam rencana agung semesta. Tugasnya hanya menjadi saksi, menikmati, dan mensyukuri segalanya dengan senyuman.
Ini bukan tentang aku, Hujan, semata. Ini tentangmu, manusia.
Para pembenci Hujan, sesungguhnya mereka membenci segala hal yang tidak sesuai dengan rencana picik mereka. Membenci kenyataan bahwa semesta ini jauh lebih besar, lebih agung, dan tak tunduk pada kehendak ego mereka yang sempit.
Dan kalian tahu? Semesta ini tak pernah peduli pada segala keluh kesah atau makianmu. Aku akan tetap turun pada waktuku, sungai akan tetap mengalir, tanah akan tetap menyerap. Teruslah membenci, teruslah menyalahkan, teruslah merusak. Toh, aku akan tetap ada, terus menjadi saksi bisu dari segala tingkah polahmu.
Atau… mungkin sudah saatnya kau meniru senyum tulus Pak Darmo? Hiduplah. Terimalah. Bersyukurlah. Karena pada akhirnya, segala yang terjadi adalah bagian dari harmoni yang tak terlukiskan. Kau hanya perlu menjadi bagian dariku, terima dengan damai.