Cerpen - Orang Gila Selalu Punya Pembela

Cerpen ini akan menggugah perasaanmu, menjawil kesadaranmu tentang kehidupan di sisi lain.

Usaha salon yang dibuatnya terpaksa ditempelkan label kuning bertuliskan "POLICE LINE DO NOT CROSS." Yang berwarna hitam. Para warga ramai berkumpul di sekitar rumah.

Sosok wanita berusia 37 tahun, dengan paras wajah wagu, bengong, tatapan kosong. Duduk meringkuk, memeluk kaki. Jilbabnya sedikit berantakan. Ramai-ramai suara di luar terdengar jelas sekali.

"Suamine, uis, Aku telepon mau, jerene, tiap bulan dikirimi duit tiga juta, sampai sampai suaminya hidup di Jakarta dengan cari cari kerjaan sampingan lain. Suamine kue batur, batur kentel, dia juga keheranan kenapa istrinya sampai tega gorok anak sendiri, darah dagingnya sendiri.

"Malah harusnya aku yang stres di sini, eh malah dia yang begitu. Mau buka usaha salon aku turutin, kok jadi orang ngerasanya kurang terus. Ingkar banget sama nikmat-nikmat Gusti Pangeran.

"Gitu Jo, ceritanya."

"Aku tah Ja kalau punya istri kayak gitu, tak semebeleh sekalian. Bikin nyeseki Urip bae lah, asu."

"Yang benar kamu Jo!?" Seru Jaja. "Iya beneran, buat apa sih punya istri kok enggak waras, mending nikah lagi, cari yang waras. Nikah sama orang gila hanya ada dua manfaatnya," Jaja ngucek-ngucek mata, mulutnya berlagak ngeselin. 

"Apa!? Apa kamu bilang!? Ada manfaatnya juga ya ternyata nikah sama orang gila!?" Tangan Jaja spontan memegang jidat Jojo, lalu telapak tangannya dipindakan ke pantatnya. "Kamu yang enggak waras Jo Jo. Hah, sudah sudah, makin enggak jelas kalau cerita cerita sama kamu tah." Ketusnya.

"Heh Ja, kamu saja yang kurang pergaulan. Segala sesuatu pasti ada manfaatnya Ja." Makin berkerut dahi Jaja. Baru Jaja ingin balas bicara sudah dipotong oleh Jojo, "manfaat yang pertama, menjadikan pribadi pribadi suami bermental sabar di atas rata-rata suami pada umumnya." Jaja tercengang. 

"Kedua, menjadikan suami punya jalan pintas menuju kewalian, sebab semua orang tahu, semua orang mungkin bisa jadi wali murid, tapi hanya sedikit wali sejati di bumi ini." Ketika sedang asyik asyiknya mengadu banyolan beberapa aparat kemanan datang dan segera menyingkirkan oeang-orang yang berada paling dekat dengan rumah pelaku pembunuhan anak.

Kreekk, pintu dibuka oleh salah satu aparat kemanan setempat, diikuti oleh beberapa aparat lain yang ikut masuk. Mereka berjumlah lima orang tepatnya. Baru masuk para aparat itu langsung menutup hidung mereka masing-masing, warga sekitar yang mengintip dari jendela menerka-nerka. "Jangan-jangan tuh orang enggak pernah mandi, pantas saja setan sukses membisiki untuk membunuh anaknya sendiri."

Spekulasi makin memanjat tajam, berita pun tersebar ke seluruh penjuru desa bagai hembusan angin yang menerpa siapa pun. Para warga yang masih mengintip kedatangan para aparat keamanan itu heran, pelaku pembunuhan itu terlihat santai tanpa beban, malah lebih sering terlihat senyum senyum sendiri.

"Ibu harus ke kantor dulu ya, nanti di sana ada tempat khusus buat Ibu, Ibu enggak usah repot-repot pusing-pusing mikirin mau masak apa hari ini, esok, bahkan lusa. Di sana sudah ada yang masakin ya Bu ya, siap pindah sementara ke rumah baru?" Instruksi dari salah seorang aparat kemanan dengan seragam yang bertuliskan "Bagong".

"Waaah, Acik acik, kapan tuh Pak saya bisa seperti itu?" Tanyanya sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seperti seorang anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan mainan oleh orangtuanya.

"Tentu secepat mungkin, sekarang ini juga ya Bu."

"Akhirnya aku bisa bebas, bisa makan dimasakin tanpa repot-repot mengatur uang belanja yang harus cukup untuk sebulan. Luar biasa makasih Gusti, makasih Gusti, makasih Gusti." Berkali-kali pelaku bersujud sembah. Aparat kemanan hanya bisa pasang wajah prihatin sambil menggeleng ringan dan tak lupa berkali-kali mengambil napas karena saking baunya ruangan itu.

"Kasihan juga kalau suami punya istri kayak dia, semi gila. Kalau aku, mungkin sudah kubakar habis!" 

"Hey Bleng, bengong mulu, yuk berangkat. Tuh lihat Ibu itu sudah jalan ke mobil." Bleng sedikit mengguncangkan wajahnya, lalu segera ikut masuk ke mobil tugas. Dengan sedikit terkejut disertai keluhan lirih dalam hati, ini juga, atasan yang sok belagu, percuma sercarmuk kayak apa pun di depan masyarakat, citra kita semua tetap busuk! Cih!

**

Di depan pusara. Seorang pria berusia 45 tahun termenung begitu mendalam, pikirannya terbang melayang-layang, menerawang awal mula kisah pernikahan dengan istri pembunuh anaknya sendiri. 

Kaut setan! Menyesal juga akhirnya dahulu telah memaksa diri ini agar menikahinya. Orang enggak waras sebenarnya kelihatan sejak awal mula bersitatap. Mengapa aku malah lebih memilih memaksakan diri, lalu berkhayal suatu hari dia bisa berubah. Sial betul memang Kaut itu!

Tiga lemparan tanah dilemparkan ke atas kuburan anaknya. "Sabar ya Nak, maafkan Ayah ya, Ibumu memang sejak kecil tidak dipersiapkan untuk menjadi orang tua yang utuh, jadi sekarang yang kena imbasnya kita; aku, kamu, dan dua kakakmu."

**

Di rumah mertua dengan udara yang cukup panas, tapi masih saja dipaksakan dibilang "adem." Adem kepalakau bau menyan. Kipas sengaja tak dibeli. Ibu dan Bapak mertua hadir di depan. "Xon," panggil Ibu mertua dengan kepala tertunduk, merasa bersalah. Bapak mertua matanya memerah. Entah itu asli atau imitasi. "Kamu tahu kamu sudah semaksimal mungkin menafkahi istri dan keluarga kecilmu. Tapi pasti itu masih kurang. Makanya Kaut jadi stres." Pria berusia 45 tahun itu tersenyum palsu. "Iya Pak, kalau anak Ibu dan Bapak nikah dengan orang lain, mungkin sudah lama tak ada lagi di dunia ini." Ibu otomatis terangkat kepalanya. Bapak pun memegang dadanya, jantungnya terasa sakit.

"Maaf. Bukan saya mau bela diri. Tapi coba lihat kedudukan masalah ini. Saya sudah kasih seluruh gaji saya. Saya di tempat kerja tidur di sembarang tempat, makan numpang numpang di teman. Cari tambahan untuk biaya hidup sendiri di sana. Pak, Bu. Anak kalian itu sudah tak cantik, tak beretika, berwatak selingkuh, manipulator ulung. Apa hal-hal itu yang kalian banggakan. Itu semua bukan kebanggaan, tapi kebobrokan, bukan begitu?" Mereka terdiam, bingung mau membalas apa. "HEH XON! KALAU NGOMONG JANGAN SEMBARANG YA!" Tiba-tiba saja dari balik tirai seorang pria tersulut emosi, berdiri di dekat mertuanya Xon.

Dengan tenang, karena memang tak salah. Suami dari Kaut itu menimpali, "bukan sembarangan Bang. Ini fakta. Kalau masih belum percaya diuji coba saja." Xon pergi.

***

karya: halubz

Posting Komentar