Resensi Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye (2016) : Lengkap dengan Sinopsis, Review dan Amanat


Tentang Novel "Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

( Liye, Tere. 2016. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.  Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 1-264 )
Judul  : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Tahun tebit : 2016
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 halaman, 20 cm
Cetakan     : ketiga puluh tiga April 2018
Cover : oleh Orkha Creative
ISBN : 9786020331607
           9786020384760 (digital)


Sinopsis Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye

Tentang Kasih Sayang
Tentang Hati Yang Tulus
Tentang Tanggung Jawab
Tentang Komitmen
Tentang Cinta
Tentang Rasa Yang Terpendam

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah.... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya. (Tere Liye, 2016 : 5)


Sepeninggal ayahnya tiga tahun lalu karena penyakit TBC, keluarga Tania menjalani kehidupan yang sangat berat berkecimpung dengan kemiskinan hingga berakhir pada rumah kardus. Setiap hari dari pagi sampai malam Tania dan Dede bekerja di jalanan, naik turun bergonta gantis bus sebagai pengamen. Dengan kecrekan dari tutup botol dan plastik bekas makanan ringan mereka dapat menghasilkan uang untuk mengisi perut lapar mereka. Ibu juga bekerja serabutan, namun kondisi fisik ibu sering sakit mungkin karena beban pikirannya yang setiap hari bertambah.

Kehidupan tak selamanya kelam, Tania dan Dede bertemu sosok malaikat yang baik hati saat mengamen di bus. Malaikat itu bernama Danar Danar, mereka memanggilnya Om Danar, namun dengan alasan tertentu Tania memanggilnya Kak Danar. Danar merupakan seorang penulis. Dengan bertemunya dengan Danar sangat membawa pengaruh besar pada kehidupan mereka. Danar memberikan penghidupan yang layak bagi mereka dan kembali menyekolahkan Tania dan Dede pada tingkat SD. Danar juga memberikan tempat tinggal yang layak dan modal usaha untuk ibu. Mereka saling mengikat tali kasih sayang yang kuat layaknya sebuah keluarga. Danar mengenalkan Ratna kepada ibu sebagai teman dekatnya.

Dengan modal usaha yang diberikan Danar, ibu membuat kue. Semakin hari pesanan kue semakin banyak sehingga ibu mengajak tetangga untuk membantu, dia bernama Miranti. Tak lama setelah usaha kue ibu sukses, ibu meninggalkan mereka semua karena mengidap penyakit Kanker stadium IV. Sepeninggal ibu membuat Tania dan Dede hanya mempunyai Danar sebagai tempat mereka pulang. Danar bahkan bertanggung jawab atas hidup Tania dan Dede. Selain itu Miranti meneruskan usaha kue ibu dan memberikan royalti pada Dede. Tania dan Dede murid yang pintar dan tekun sehingga mereka naik satu kelas lebih awal. Mereka bersekolah hingga jenjang universitas. Bahkan Tania bersekolah di Singapura dengan menerima beasiswa ASEAN Scholarship. Sedangkan Dede bersekolah di dekat tempat tinggalnya karena sebagai juru kunci yang mengurus pusara ibu. Danar dan Dede beberapa kali mengunjungi Tania di Singapura, Ratna juga pernah berkunjung.

Saat Tania beranjak remaja, dia mulai merasakan perasaan aneh pada Danar. Rasa aneh itu membuat Tania memanggil Danar dengan sebutan kakak, Kak Danar. Tania hanya bisa memendamnya dan sedikit berbagi pada teman sekamarnya, Anne. Anne merupakan teman satu sekolah dan satu kamar dengan Tania yang mempunyai pemikiran bijaksana dan dewasa. Saat perayaan ulang tahun Tania sweet seventeen, Danar dan Dede memberikan kejutan untuk datang ke asrama sekolah di Singapura. Disana banyak teman Tania yang berkumpul bersama, juga ada Jhony Chan yang sering menjaili Tania semenjak SMP dan ada Adi yang menyukai Tania juga semenjak mereka bersama-sama sekolah di sana. Danar memebrikan liontin dengan inisial huruf T.


Tania semakin menyadari perasaannya semenjak sudah berubah menjadi gadis dewasa dengan kecantikan dan bentuk tubuh yang mempesona. Saat itu graduation day SMAnya, dia mendapatkan predikat terbaik. Hari bahagia itu berubah saat Ratna memberi tahu bahwa tiga bulan lagi akan menikah dengan Danar. Hati Tania sangat teriris bahkan membuatnya tidak ingin pulang saat acara pernikahan mereka. Selebih itu setelah pernikahan mereka, Tania selama dua tahun tidak pulang dan hanya memberi kabar lewat chatting dengan Dede, menceritakan perasaan yang dia pendam untuk Danar. Sedangkan hubungan Tania dengan Danar semakin merenggang.  Tania mengisi harinya dengan kesibukan sebagai mahasiswi  di Commerce NUS dan owner toko kue “Mothers”. Kesibukan itu sedikit banyaknya akan membantu mengobati luka.

Tepat delapan tahun ibu meninggal, Tania memutuskan untuk pulang bersama dengan Adi. Adi beberapa kali main ke rumah Tania dan dikenalkan sebagai teman dekatnya. Namun saat Adi menyatakan perasaannya pada Tania di bawah tumpah ruahnya hujan di depan toko buku favoritnya, Tania menolak Adi dengan meninggalkannya sendiran. Sejak itu Adi mulai menjaga jarak dengan Tania. Tidak disangka Tania cepat bertemu dengan Danar dan Ratna. Hati Tania sudah  bisa menerimanya, sehingga dia sudah mau memeluk Danar dengan erat seperti biasanya.

Tania kembali ke aktivitasnya di Singapura. Enam bulan kemudian Tania lulus sebagai lulusan terbaik, tertinggi dan tercepat. Tidak ada yang datang saat graduation day. Tania bekerja di perusahaan pialang. Tania sibuk dengan pekerjaannya juga dengan email yang dikirim Ratna. Ratna selalu menceritakan kegundahan hatinya karena dirasa Danar sudah berubah. Danar sering pulang larut malam dan jarang sekali berbicara dengan Ratna. Tania menghubungi Dede lewat chatting untuk mencari tau alasan Danar bersikap seperti itu.

Tania memutuskan untuk pulang, dia tidak ingin rumah tangga Danar dan Ratna hancur. Dede menceritakan semua yang dia tahu tentang Danar pada Tania. Danar adalah orang yang membeli tanah tempat berdirinya rumah kardus yang dulu Tania tinggali yang kini berubah menjadi taman dengan pohon linden yang masih dipertahankan. Setiap malam Danar selalu duduk di sana, kemudian larut malam baru pulang. Selain itu Dede mengatakan perasaan Tania pada Danar sebelum malam pernikahan Danar dengan Ratna. Dede juga bercerita bahwa Dede menemukan file naskah di laptop Danar dengan judul “Cinta dari Pohon Linden”. Kemudian Dede mengcopynya, dengan laptop Dede Tania membacanya.

Terisak tangis Tania membacanya, ternyata perasaannya terbalaskan. Danar juga mempunyai perasaan yang sama. Liontin itu memang sepasang, liontin Danar dengan liontin Tania terdapat potongan daun Linden dibaliknya yang jika digabungkan akan membentuk daun Linden yang utuh. Bergegas Tania menyusul Danar di tempatnya dulu, rumah kardus. Mereka saling berbincang, dan Tania mengutarakan sekaligus menanyakan padanya tentang perasaan ini. Dia hanya diam dan berusaha mengelak. Bagaimana bisa dia menyukai gadis kecil yang dikepang dua? Tania menarik liontin yang dia pakai kemudian menggabungkan dengan liontinku. Tepat, potongan daun Linden di balik liontin mereka cocok digabungkan. Tania menangis dan meminta Danar kembali pada Ratna. Ratna yang selalu menunggu kedatangannya setiap saat karena Ratna sedang hamil empat bulan. Tania merasa lega sudah mengetahui apa ingin dia ketahui dan melepaskan apa yang selama ini menyesakkan hatinya. Tania kembali ke Singapura menikmati kesibukan seperti biasanya sekaligus melupakannya.


“Bahwa hidup harus menerima... penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti... pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami... pemahaman yang tulus. 
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. 
Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”
(Tere Liye, 2016 : 196. Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)

Unsur Instrinsik Dalam Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye


Tema : Cinta rahasia yang tak berujung

Alur cerita : Campuran maju mundur

Sudut Pandang : Orang pertama (Aku) pelaku utama

Latar tempat : Rumah Tania, Asrama di Singapura, Toko Buku, Bandara, Taman dengan pohon Linden.

Amanat : Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.

Tokoh dan Penokohan: 
  • Ibu  : seorang yang penyabar dan perhatian, menanggung kehidupan Tania dan Dede semenjak Ayah mereka meninggal. Dengan rasa bahagia ibu bisa melupakan rasa sakit pada fisiknya karena berkurangnya beban pikiran yang dia pendam setelah bertemu Danar.
  • Tania : gadis pekerja keras yang meninggalkan bangku sekolahnya demi untuk membantu ibu untuk membiayai kehidupan mereka. Tania adalah sosok gadis yang pintar, tekun, pantang menyerah dan konsisten hingga dia berhasil menjadi lulusan terbaik di ASEAN.
  • Dede : Adik Tania yang pandai menyimpan rahasia dan keras kepala. Dede bisa diandalakan dengan kapasitas otaknya yang bisa menyelesaikan rumitnya permainan lego.
  • Danar :  Seseorang yang membantu keluarga Tania keluar dari kondisi miskin. Danar memberikan kehidupan yang layak pada mereka, bertanggung jawab atas hidup mereka, namun memilih untuk menyimpan dan menyesali perasaannya. Kak Danar ini adalah seorang penulus yang menghasilkan banyak buku yang sering Tania dan Dede baca.
  • Ratna : Perebut hati yang pada akhirnya dikalahkan oleh sosok bayangan gadis kecil yang tumbuh cantik saat dewasa. Ratna sosok yang friendly, penyabar dan perhatian.
  • Miranti : Penerus usaha kue ibu yang adil karena tetap membagikan royalti pada Dede.
  • Anne : Teman sekamar Tania yang menjadi teman suka duka dan bijaksana dalam setiap masalah yang Tania ceritakan. Anne seperti seorang Kakak yang lebih dewasa dari Tania, namun kecantikan dan kepintaran Tania tetap tidak kalah saing.
  • Adi : teman Tania dari Jakarta yang bersama-sama sekolah di ASEAN Elementary School. Yang sejak saat pertama masuk sekolah SMP disana menyukai Tania hingga penolakan Tania pada teras toko buku yang mengesankan dengan kenangan itu.
  • Jhony Chan : Teman Tania di ASEAN Elementary School yang tingkah jailnya berarti menyukai Tania.


Plot :
  • Perkenalan : Pada saat Danar menolong kaki Tania yang tertusuk paku payung di bus dan mengantarkan Tania dan Dede pulang ke rumah kardus. Semenjak kejadian itu Danar sering berkunjung ke rumah Tania dan kembali menyekolahkan Tania dan Dede hingga lulus universitas. Danar juga memberikan kehidupan yang layak dengan membantu perekonomian keluarga tersebut serta bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka.
  • Awal Konflik : Saat Tania menyadari perasaannya pada Danar, namun Danar memilih untuk menikahi Ratna.
  • Klimaks : Ketika Tania mengetahui perasaan Danar melalui naskah Cinta dari Pohon Linden, kemudian memutuskan untuk menemui Danar. Mereka bertemu di bawah pohon Linden bekas lahan rumah kardusnya dan saling mengutarakan perasaan.
  • Anti Klimaks : Tania memberi tahu Danar tentang kehamilan Ratna yang sudah empat bulan, sehingga meminta Danar untuk kembali pada Ratna yang setiap saat menunggu kedatangannya.
  • Penyelesaian : Tania memutuskan untuk kembali ke Singapura dan melupakan perasaannya.

Unsur Ekstrinsik (Nilai yang Terkandung) Dalam Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin - Tere Liye


Nilai Sosial : Menolong orang dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharap balasan apapun, selain bisa melihat kesuksesan yang berpihak padanya. 

Nilai Moral : Mengajarkan sikap pantang menyerah dan tekun. Dengan sikap tersebut apa yang diharapkan dapat diwujudkan.

Bukan melupakan yang jadi masalahnya, tapi menerima. Barang siapa yang  bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.

~Uli

0 Comments

Posting Komentar