Makna Sebenarnya di Balik Lagu Puisi - Jikustik


Arti Lagu Jikustik Puisi - Lagu ini memiliki nilai religius yang sangat tinggi, yang menceritakan tentang kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya. Bukan mengkisahkan tentang puisi cinta kepada pacar atau seorang idaman, namun berisikan tentang alunan-alunan harapan agar bisa lebih dekat dan meningkatkan cinta kepada Sang Khalik.

Lagu yang berjudul Puisi ini sebenarnya bisa dibilang cukup lawas, yang dibawakan oleh band legend Jikustik dengan alunan pop. Pada kesempatan kali ini anaksenja.com sangat tertarik mengkaji lagu Puisi ini karena menyimpan makna yang sangat dalam, walau sebenarnya sering diartikan banyak orang bahwa lagu ini menceritakan cinta-cintaan seperti pada umumnya lagu cinta yang banyak beredar sekarang ini.

Untuk lebih lengkapnya, mari kita bahas lengkap mulai dari bait pertama!

Analisis Lirik Lagu Puisi dari Jikustik

Aku yang pernah Engkau kuatkan
Aku yang pernah Kau bangkitkan
Aku yang pernah Kau beri rasa

Pada bagian awal lagu ini menceritakan tentang kesadaran seseorang atas dirinya sendiri yang berasal dan selalu terikat kepadaNya (Tuhan). Bagi orang beragama pasti percaya bahwa dirinya merupakan makhluk ciptaan Tuhan, yang mana pernah di bangkitkan (dihidupkan) dan nantinya akan ditidurkan (dipulangkan ke alam baka). Manusia dilahirkan di dunia seperti sedang menjalankan misi, di mana ia dibebaskan untuk melakukan apapun namun sejatinya tak pernah lepas dari pertanggungjawaban yang akan ditagih di akhirat nanti.

Tuhan menciptakan rasa (perasaan) kepada masing-masing hambanya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk bekal kehidupan, agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sejahat-jahaatnya orang, pasti dia pernah meraskan bahwa dirinya sebenarnya sedang melakukan kesalahan. Namun kembali ke diri sendiri, mau merubah atau tetap bertahan dalam keburukan adalah pilihan bagi setiap indivdu, dan itu merupakan salah satu kuasa Tuhan yang berwujud kebebasan yang bersifat sementara.

Saat ku terjaga
Hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingat-Mu

Pada bagian ini merupakan sebuah komitmen dari seorang hamba kepada Tuhannya, yang ingin mengupayakan untuk selalu beriman di segala kondisi. Walau terkadang lupa, namun tidak apa-apa karena namanya saja juga manusia, pasti bisa lupa dan berbuat salah. Namun istimewanya, Tuhan selalu membuka pintu taubat kepada siapapun yang bersungguh-sungguh (ingin bertaubat).

Kapan lagi kutulis untuk-Mu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk-Mu

Puisi pada lagu ini sebenarnya bukan berartikan puisi-puisi cinta yang ditujukan kepada pacar atau seseorang yang diidam-idamkan. Puisi pada lagu ini merupakan metafora dari “doa”, yang selalu dituturkan (baik dari mulut atau batin) untuk berkomunikasi kepada Tuhannya. Salah satu macam dari doa adalah dengan memuji Tuhannya, atau dalam Islam disebut dengan berdzikir.

Tempat bersyukur dari segala nikmat akan selalu berpuncak kepada Sang Khalik (Sang Pencita), karena semuanya berasal dariNya dan pasti akan kembali lagi kepadanNya. Maka dari itu, seorang hamba yang senantiasa bersyukur pasti akan selalu melakukan puji-pujian kepada Tuhannya.

Namun pada bagian ini terdapat kata ‘kapan’ dan ‘yang dulu’, yang bisa kita artikan bahwa hal itu merupakan kebiasaan lama yang dirindukan untuk dilakukan kembali. Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa pada bagian reff ini menceritakan tentang seseorang yang ingin bertaubat, yang sempat melupakanNya (atas segala nikmat yang ada) dan ingin kembali untuk beribadah dan lebih dekat kepadaNya.

Mungkinkah Kau kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untuk-Mu

Untuk seseroang yang ingin bertaubat, pasti akan khawatir dan berpikiran ‘apakah taubatku diterma dan akan dimaafkan setelah melakukan semua dosa-dosa?’. Rasa khawatir itu wajar dan harus, karena seseorang yang sungguh-sungguh bertaubat pasti akan sepenuhnya berserah diri dan melakukan apapun demi mendapatkan ampunan dariNya, walau sebenarnya kita tau bahwa Tuhan maha pemaaf.

Mimin pertama kali dengar lagu ini sebenarnya juga menganggap bahwa lagu ini ditujukan kepada kekasih atau pujaan hati (berwujud manusia). Namun setelah menonton vidio di youtube saat Dadi, gitaris Jikustik, yang sedang mengikuti kajian Maiyah bersama Emha Ainun Najib, atau yang kerap dipanggil Cak Nun di Mocopat Syafaat, Bantul, Yogyakarta, ia menceritakan tentang latar belakang lagu Puisi ini sebenarnya bukan berisi tentang cinta-cintaan belaka, melainkan tentang rasa cinta kepada Tuhan.

Ia juga bercerita bahwa ia sempat menghilang beberapa hari saat teman-temannya sedang sibuk rekaman. Hanya membawa bekal yang terbatas, ia memberanikan diri untuk menyendiri di salah satu makam wali songo dan mematikan ponselnya agar tidak diganggu. Ia merasa lelah dengan segala rutinitasnya di Jakarta, maka dari itu ia mengasingkan diri demi mencari arti.

Dadi juga menceritakan pengalaman menyendirinya, seperti saat ia sedang kelaparan dan diberi pisang oleh penjual warung di sekitar makam, maupun saat berjumpa dengan berbagai musafir dan sering dibangunkan untuk menjalankan sholat subuh berjamaah. Setelah selesai melakukan penyendirian, ia tak langsung kembali ke Jakarta untuk menemui teman-temannya, namun pulang dulu ke kampung halamannya. Setibanya dirumah, ia langsung mengambil gitar dan alunan lagu Puisi ini tercipta sekali jadi.

Mungkin dari latar belakang lagu Puisi dari Jikustik yang sangat kental dengan pendekatan religius ini dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Tuhan, bahwasanya sebenarnya kita ini bukanlah siapa-siapa dan sudah seharusnya mencintai dan senantiasa berserah diri kepadaNya.

Jika kamu memiliki tafsir lain mengenai lagu ini, jangan ragu untuk mengungkapkannya di kolom komentar ya! Tak masalah, setiap orang pasti punya pengalaman yang berbeda-beda dan memiliki hak untuk menginterpretasi suatu karya sastra sesuai dengan pengalamannya masing-masing. Maka dari itu, mari kita temukan bersama-sama makna tersembunyi yang sebenarnya dibalik lirik lagu Puisi milik Jikustik ini!

0 Comments

Posting Komentar