Kesalahan Mendidik Anak - RenunganMalamKamis#2


Anak adalah darah daging dari orang tuanya. Apakah benar? Ya, sering kita dengar perumpamaan seperti itu. Namun, jika darah daging kenapa masih banyak kejanggalan yang terjadi? Misalnya, perihal tingkah laku anak yang menurut orang tuanya salah. Banyak anak yang mendapat prilaku disalah-salahkan oleh orang tuanya sendiri.

Memangglah, jika seseorang melakukan hal yang dianggap salah pasti akhirnya akan menimbulkan kekesalan hingga kebencian. Namun, jika itu terhadap seseorang yang disebut darah dagingnya, apakah harus diperlakukan sama? Atau malah lebih parah?

Mengingatkan seseorang memang bukanlah kesalahan, namun memaksa seseorang mungkin bisa menjadi salah satu kesalahan. Bagaimana bisa, kita tau bahwa kebenaran itu relatif. Geser sedikit saja, kebenaran itu bisa menjadi salah saat kita berubah sudut pandang. Seperti melihat angka enam, yang jika kita lihat dari arah sebaliknya akan menjadi angka sembilan. 6 = 9.

Terkadang peringatan dari orang tua terlalu sulit untuk dimengerti seorang anak. Jelas saja, cara berpikir anak dengan orang tua sudah pasti berbeda. Seharusnya, jika ingin membenahi anak seoorang orang tua harus berpikir dengan bagaimana cara anak berpikir. Selain peluang diterima anak lebih besar, orang tua juga bisa lebih mengenal anaknya sendiri, atau bisa disebut juga dengan lebih dekat dengan darah dagingnya.

Hal yang perlu disorot adalah ketika anak melakukan kesalahan, lantas orang tua membandingkan anaknya sendiri dengan anak orang lain. Entah anak orang lain yang lebih menurut, atau yang lebih ahli perihal mendapat nilai tinggi di rapornya. Bukannya anak menjadi lebih baik, malah anak akan menjadi insecure, yang pada akhirnya akan mencari pelampiasan kesal, dan yang tak terduga bisa berakhir di kemungkinan terburuk. Saat semua itu terjadi, akhirnya orang tualah yang akan menyesal.

Memang tak ada orang tua yang berharap anaknya akan sesat, tak tau jalan pulang, lupa kodratnya, maupun hal-hal terburuk lainnya. Namun, berjaga-jaga apa salahnya? Terkadang orang tua malas untuk menanyakan tentang alasan anak yang dianggap berbuat tidak pada tempatnya, dan langsung menghakimi dengan cara menyalah-nyalahkan, membanding-bandingkan, bahkan parahnya ada yang sampai melakukan kontak fisik yang menyakitkan. Mereka bilang, itulah cinta mereka. Apakah benar cinta itu harus diwujudkan dengan ketidak asrian? Bukankah dengan cinta itu sebenarnya tentang keindahhan? Ya, orang tua yang tunduk pada ambisinya terkadang buta, tak bisa membedakan nafsu dengan perasaannya.

Orang tua sering lupa, bahwa mereka seharusnya berpuasa di dalam kehidupannya. Menahan diri untuk tidak terlalu nafsu tentang cita-citanya, yang berakhir memaksa seseorang yang selainnya untuk menjadi seperti keinginannya.

Apakah salah? Jelas tidak. Orang tua juga punya hak untuk berharap yang terbaik untuk anaknya. Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah tentang sadar diri. Sebelum adanya hak, pasti ada kewajiban, Apakah semua kewajiban sudah dilakukan? Apakah kwajiban yang diakukan sudah sempurna? Jika hal awal saja belum dimengerti jelas, sebaiknya lebih harus fokus diperbaikan daripada langsung meloncat ke titik penagihan. Seperti yang kita tahu, tagihan akan menjadi tak karuan saat proses kerja sebelumnya awut-awutan.

Joe Azkha

0 Comments

Posting Komentar