Resensi Novel Guru Aini - Andrea Hirata (2020) - Lengkap dengan Sinopsis, Review dan Amanat


Pada kesempatan kali ini anaksenja.com akan membahas sebuah novel yang sangat epic, yang terlahir dari seorang penulis ternama yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bidang sastra, tidak lain dan tidak bukan adalah dia, sang maestro, Andrea Hirara, dengan karyanya yang berjudul Guru Aini. Buku ini merupakan buku ke-12 ciptaan Andrea Hirata sejak 2005 silam lewat novel legendarisnya yang dicetak berulang-ulang kali di berbagai penjuru dunia, yakni Laskar Pelangi.

Novel yang bertemakan sains ini merupakan prekuel dari ‘Orang-orang Biasa’ yang dirilis pada tahun 2019. Konon katanya, novel ini Andrea Hirata ciptakan dengan kurun waktu hampir dua tahun. Coba kalian bayangkan, dua tahun, waktu yang bisa dibilang cukup lama untuk menghasilkan sebuah karya, dan itu tidak main-main. Pastinya riset dan segala hal sudah dipersiapkan matang-matang oleh Bang Andrea, dan terbukti, mimin menitihkan air mata di beberapa bagian. Yah, untuk lengkapnya nanti mimin bahas di bagian Review!

Yuk, kita langsung bahas sinopsisnya dulu!

Sinopsis Novel Guru Aini

Pada suatu daerah di Sumatera sana, tinggallah seorang anak yang sangat mengidolakan guru matematikanya saat ia mengenyam pendidikan di sekolah dasar, yang bernama Bu Guru Marlis. Anak itu bernama Desi, Desi Istiqomah. Ia merupakan seorang wanita yang sangat tangguh, cerdas dan berpendirian teguh. Terbukti dengan ia mengenyampingkan semua kemungkinan tentang segala macam peluang pekerjaan/profesi, dan ia hanya memilih satu, yakni guru, guru Matematika.

Desi Istiqomah, atau yang kerap dipanggil Desi ini kemudian mengikuti program pendidikan guru Matematika dan mendapat sertifikat pendidik, sehingga ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan harus siap ditempatkan di manapun ia ditempatkan. Sebenarnya ia mendapat jatah untuk memilih di mana saja untuk lokasinya mengajar karena ia merupakan lulusan terbaik, namun ia lebih memilih untuk mengikuti undian seperti teman-temannya karena ia merasa bahwa sudah seharusnya seorang “pengabdi” itu siap di tempatkan di mana saja.

Setelah undian dilakukan, sebenarnya ia mendapat tempat di salah satu kota ternama di Sumatera sana. Namun karena kemurahan hatinya, ia rela menukarnya dengan jatah teman yang ditempatkan di pelosok desa. Dan, inilah awal mula cerita ini berawal. Menjadi seorang guru, guru Matematika, Guru Desi.

Bu Desi mendapatkan sepatu olahraga dari ayahnya, yang merupakan kado teristimewa untuk menemani anaknya bergelut dengan dunia pendidikan di jauh sana, menjadi seorang guru di pelosok desa. Bu Desi memiliki tekat yang kuat, ia akan selalu memakai sepatu pemberian ayahnya itu sampai kapan pun juga. Sampai akhirnya ia mengganti sepatunya saat bertemu dengan seorang murid yang sangat bebal dengan Matematika. Ia adalah Aini, Nuraini binti Syafrudin, membawa nama ayahnya, Syafrudin.

Review Novel Guru Aini

Novel ini merupakan buku ke dua, setelah novel Talijiwo ciptaan Sujiwo Tejo yang pernah mimin khatamkan. Novel Guru Aini ini mimin baca melalu buku aslinya, yang dipinjamkan dari rekan guru honorer Bahasa Indonesia. Yah, walau sebenarnya sudah banyak novel yang ingin mimin baca, tapi entah kenapa tak pernah rampung. Mungkin karena minat baca mimin kurang mantap. Tapi walaupun begitu, mulai sekarang mimin tekatkan untuk selalu mengkhatamkan semua bacaan yang ada di depan mimin.

Kesan pertama membaca judulnya, mimin kira novel ini menceritakan tentang seorang siswa yang mengagumi gurunya yang bernama Guru Aini. Ternyata semua itu salah kaprah, karena ternyata Guru Aini ini adalah berarti Gurunya Aini, Bukan Bu Guru Aini. Hal ini merupakan kekecewaan yang sangat menakjubkan.

Bagaimana tidak takjub? Mulai dari alur, tokoh, latar, percakapan, gaya bahasa, dan hal lain pendukung novel ini dengan mudah bisa mimin imajinasikan. Bak menonton film dengan segala efek kamera dan suaranya. Untuk keseluruhan, mimin acungkan jempol yang setinggi-tingginya dah buat Bang Andrea. Mantap boi!

Walau pun ini merupakan buku kedua yang pernah mimin khatamkan (membaca sampai selesai), namun mimin bisa terbawa suasana dan sangat jatuh kedalam alur cerita yang sangat menakjubkan. Pada suatu bagian, mimin bisa terpingkal-pingkal, pada suatu bagian yang lain, mimin bisa terisak tangis, nyerocos terus seperti di tinggal kekasih.

Bagian tersedih adalah pada saat sang ayah mengikat tali sepatu olahraga yang dihadiahkan kepada anaknya dengan cara seperti mengikat tali sepatu pemain sepak bola. Hal ini bisa ditemukan di bagian-bagian agak awal, saat Desi Istiqomah yang hendak menaiki bus untuk pergi mengabdi menjadi guru Matematika di pelosok desa nan jauh di sana. Kemudian ada lagi saat Aini meminta untuk pindah ke kelas Guru Desi, yang merupakan seorang murid, yang juga merupakan anak dari murid Bu Desi yang sangat bebal Matematika. Dan satu lagi yang paling parah, dibagian ending cerita, saat Aini gagal masuk ke Fakultas Kedokteran karena tak memiliki biaya.

Hal ini sangat menjengkelkan. Mimin kira setelah gagal dan pulang ke kampung halaman bisa bertemu dengan Bu Desi, dan dibantu administrasinya agar tercapai cita-citanya. Hal ini mimin tebak karena pada halaman belakang masih ada banyak halaman, yang mimin anggap terdapat penyelesaian cerita yang bahagia. Namun harapan mimin pupus, saat mengetahui Aini belum bertemu dengan Bu Desi dan tertera tulisan “TAMAT”, karena di beberapa lembar banyak halaman yang mimin pegang dengan tangan kanan hanya berisikan profil dan beberapa pajangan karya dari Bang Andrea Hirata. Sebel banget! Dan mimin berhrap, satu atau dua, bahkan sepuluh tahun lagi muncul novel yang berjudul “Guru Aini 2”, atau “Dokter Aini”, dan judul-judul lain yang berisikan tentang lanjutan cerita dari si mantan bebal matematika ini, si Aini, Nuraini binti Syafrudin, membawa nama ayahnya, Syafrudin. Semoga Bang Andrea sehat selalu, panjang umur, lancar ide, dan segala-galanya tentang kebaikan agar masih bisa terus menulis dan memberikan ilmunya kepada para pembaca karyanya. Aamiin.

Menurut mimin, novel ini mampu mewakili para manusia golongan bawah. Seperti para anak yang seharusnya mendapat hak belajar secara merata, kisah ketidak adilan yang dirasakan guru honorer, dan juga jeritan-jeritan manusia pelosok desa yang dalam tanda kutip memiliki kekurangan perihal materi. Sangat lugas Bang Andrea menggambarkannya di dalam karyanya ini, sampai-sampai mimin merasa miris dan sangat sedih, tat kala melihat sesuatu yang jarang terlihat.

Amanat dari Novel Guru Aini

Bicara tentang amanat, mungkin sangat banyak sekali nilai-nilai dan hal baik yang bisa kita ambil dari karya ke-12nya Bang Andrea Hirata ini. Namun ada beberapa hal yang sangat mendasar dan perlu di ketahui karena sangat bermanfaat untuk bekal hidup dan saat menjalani kehidupan. Berikut ini beberapa amanat yang mimin dapatkan setelah membaca tamat Novel Guru Aini.

Amanat pertama ini mimin peroleh dari tekad Bu Desi, yang juga ditanamkan di hati murid kebanggaannya, yakni Aini, Nuraini binti Syafrudin, membawa nama ayahnya, Syafrudin.

“Gantunglah cita-citamu setinggi-tingginya. Jangan pernah takut untuk jatuh, karena memang semua hal indah memerlukan pengorbanan.”

Jika amanat yang ini, mimin dapatkan dari usaha keras Aini yang selalu digempur suara pesimis dari lingkungannya. Namun ia tak gentar untuk terus melaju dan bertaruh dengan tekat bulatnya.

“Jangan dengarkan omongan orang yang membuatmu patah arang. Teruslah bangkit dan teruslah bangkit lagi tat kala jatuh. Sebab, usaha tak akan pernah menghianati hasil.”

Amanat ini mimin dapatkan dari keoptimisan Bu Desi, yang percaya bahwa suatu saat akan mendapatkan murid idamannya. Walau pernah dikecewakan oleh Debut Awaludin, namun ia kembali mendapat angin segar setelah menemukan ide untuk menyisipkan ‘kalkulus’ di metode pembelajarannya kepada si Aini.

“Percayalah, suatu saat pasti ada masanya.”

Kamu bisa mendapatkan amanat ini dibagian Aini memohon kepada Bu Desi untuk dimasukkan ke kelasnya, padahal ia tahu bahwa ia tak memiliki bakat apapun tentang matematika, hanya bermodalkan tekat dan cita-cita untuk menjadi dokter, demi bisa menyembuhkan ayahnya yang terkena virus tak terdeteksi. Aini sangat jujur, tidak pernah mencontek, bahkan cara mencontek pun tak tahu.

“Jujur adalah kunci kepercayaan.”

Satu lagi, ini bisa di dapat setelah menamatkan novel ini.

“Tabahlah, semua cerita  tak selalu berakhir bahagia.”

Apakah kamu memiliki amanat lain setelah selesai membaca novel ini? Tentu punya dong pastinya! Yuk, silakan kamu tulis di kolom komentar yah! Mari saling berbagi ilmu selagi kita memiliki, walau itu hanya sedikit, mumpung masih ada kesempatan.

Baiklah, mungkin ini dulu yang bisa mimin bahas mengenai novel menakjubkan yang sepertinya akan selalu mimin ingat sepanjang masa, Guru Aini, Gurunya Aini. Novel ini sangat mimin rekomendasikan untuk kalian semua, disegala usia dan pekerjaan, karena memang isinya sangat global dan bermanfaat. Jika disuruh ngasih rating, mimin kasih bintang 4.9 deh! Karena memang jos bangettt!

Jika ada kesalahan, mohon dikoreksi, dan jika ada kebaikan semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca review singkat dari Novel Guru Aini, sampai jumpa di postingan selanjutnya!

2 comments

  1. Wah ... Salam buat rekan guru honorermu semoga dilancarkan rejekinya .... Amin

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon