Cerpen - Ikan dalam Akuarium


Sendiri tak berarti sepi. Sepenggal kalimat itu mampu menghakimi seekor ikan di akuarium kecil, yang hanya bisa bergerak ke depan, belakang, samping, atas dan bawah secara kontinu. Walau sebenarnya ia punya pilihan untuk loncat dan keluar demi bebas, tapi hanya beberapa ikan yang memilih pilihan itu untuk lepas dari jeratan kekang yang selalu menghantuinya, dan ada beberapa ikan juga yang tidak memilih pilihan itu karena ia berpikir, bahwa itu hanya akan merugikannya karena bisa membunuhnya dan menyakiti orang-orang disekitar yang menyayanginya.

Siapa dia? Orang-orang yang memilih untuk merawatnya dengan segala usaha yang dimilikinya. Memberikan tempat tinggal (akuarium) terbaik (semampunya), memasok air bersih agar nyaman untuk ditinggalinya, menyiapkan makanan-makanan yang sekiranya disukainya, bahkan mengajaknya bermain dengan jari-jari yang ia tempel dan gerak-gerakkan di kaca rumahnya. Orang itu akan sedih jika tau, sesuatu yang disayanginya mati akibat pergi dengan melompat ke luar rumah yang sudah disiapkan secara matang-matang. Kesedihan itu bisa saja mengguncang jiwanya dan berakhir ke kemungkinan terburuk, yaitu bunuh diri.

Harga yang mahal untuk satu nyawa, pun hanya untuk sekelas peliharaan. Seperti arwana yang memiliki harga selangit, atau ikan-ikan langka, besar, dan unik seperti hiu maupun paus, pasti memiliki harga yang mahal. Bahkan harga itu tak selalu melulu diukur dengan materi, dengan harga yang sangat jauh mahalnya hingga tak terkira berapa nominal untuk bisa membelinya, sampai-sampai tak bisa terbeli karena terlalu tinggi. Ya, harga diri, harga mati yang selalu paten untuk bekal di kehidupan duniawi.

Saat sesuatu yang disayanginya, yang selalu dilindunginya, yang selalu dirawatnya direndahkan, dicaci, dimaki, bahkan dibunuh, maka sebuah emosi akan muncul, dan itu adalah sebuah bentuk perlindungan untuk menjaganya, menjaga sesuatu yang sudah mendarah di dalam harga dirinya. Sangat tidak elok jika sumbu pendek selalu dikedepankan demi memenuhi keinginan diri tanpa memikirkan pengorbanan besar yang akan terjadi seusainya. Ya, hal itu sangat terlihat keji, bahkan untuk seukuran hewan peliharaan.

Bukankah seseorang yang merawatnya dengan sepenuh hati itu bisa diibaratkan seperti seorang orang tua? Ibu mungkin? Yang kita tau, kasihnya tak akan pudar walau anaknya membangkang tak karuan, mencaci dan menghianatinya sedangkal-dangkalnya. Apakah pantas untuk berdurhaka kepadanya? Apakah itu cara yang pas untuk mengucapkan sebuah ucapan terima kasih kepadanya? Jika iya, lakukanlah. Tutuplah telingamu dan melompatlah. Teruslah maju sesuai cita-citamu, sebuah kebebasan yang membinasakan semua cinta-cintaanmu, yang akhir ceritanya juga akan membinasakanmu, sebinasa-binasamu dalam penyesalan yang tak bertuan.

Sampai pada akhirnya ikan itu tetap memilih untuk melompat. Tamat...

***

Ikan dalam Akuarium
Joe Azkha
2021

0 Comments

Posting Komentar