Cerpen - Ayam Goreng Dinda


Pagi itu, Dinda menangis di depan meja makan. Ia merasa sedih akibat kehilangan lauk makan kesukaannya, yaitu ayam goreng buatan mama.

"Mama! Ayamku hilang ... Huhuhu," rengek Dinda.

"Tadi ditaruh mana, Din?"

"Di atas meja makan Ma."

Tiba-tiba terlihat seekor kucing yang sedang berjalan santai di depan pintu belakang rumah. Dinda pun refleks mengambil sapu di samping meja makan dan diarahkan langsung ke tubuh kucing tersebut. 

"Hush ... hush ... pasti kamu malingnya!" teriak Dinda.

"Eh-eh-eh ... Dinda gak boleh asal nuduh dong. Kalau ternyata bukan kucing yang mencuri gimana?" ucap Mama sambil memeluk Dinda dari belakang, menahan niatan Dinda untuk memukul tubuh kucing yang ada di depannya.

"Sudah pasti, Ma! Siapa lagi kalau bukan dia?!" sahut Dinda dengan mengacungkan jari telunjuknya ke arah kucing yang terlihat ketakutan.

"Coba Dinda ingat-ingat lagi, apa mungkin Dinda lupa kalau tadi sudah makan ayam gorengnya?"

"Belum, Ma. Kalau Dinda sudah makan, pasti sudah merasa kenyang. Huhuhu ... Ayam goreng favoritku ... "

Melihat Dinda menangis, sang Mama menjadi tak tega. Ia berusaha menenangkan perasaan Dinda dengan mengajarkan keikhlasan.

"Din-Dinda ... dengerin Mama,"

"Huhu ..." sahutnya sambil mengangguk.

"Dinda kan enggak punya bukti apa-apa kalau si kucing lucu itu yang mencuri? Gimana kalau Dinda ikhlasin aja?"

"Tapi, Ma. Aroma ayam gorengnya tuh tadi enak banget. Dinda ingin memakannya," lanjut Dinda dengan pipi yang basah akibat air matanya.

"Kalau Dinda ikhlas, percaya deh sama Mama. Nanti pasti Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang jauuuuuh lebih baik," ucap Mama sambil menghapus air mata Dinda.

"Iya deh, Ma. Dinda ikhlas."

Dinda pun mengikhlaskan ayam goreng kesukaannya. Ia menuruti apa kata mamanya, karena percaya bahwa mama tak pernah membohonginya.

Sampai akhirnya waktu sore pun tiba. Terdengar suara motor berhenti di depan rumah Dinda. Suara motor itu sudah sangat Dinda hafal. Itu adalah suara motor papa.

"Papa pulang," ucap papa sambil membawa kantong plastik di tangan kanannya.

"Papaaaaaa ..." teriak Dinda dengan berlari dan segera memeluk papanya.

"Lihat nih, Papa bawa apa coba?" tanya papa sambil mengangkat kantong plastik yang dibawanya.

"Asyikkk ... oleh-oleh! Apa itu Pa?"

"Ayam goreng dan kentang goreng kesukaan Dindaaaaa ..."

"Yeeeeeee! Terimakasih ya, Pa." teriak Dinda dengan riang.

Dinda merasa sangat senang. Ayam goreng yang diikhlaskannya benar-bernar kembali walau dari sumber yang berbeda.

"Ini buat Mama," ucap Dinda sambil mengulurkan satu bungkus kentang goreng.

Mama menerima kentang goreng itu dengan penuh kebingungan. "Lha, Dinda enggak mau?"

"Enggak papa, Ma. Dinda ikhlas kok," jawab Dinda dengan senyuman.

"Yaampun, makasih ya Dinda?" ucap mama.

"Iya, Ma."

Dinda langsung berlari ke arah dapur untuk mengambil piring dan memakan ayam goreng favoritnya itu. Mama yang menggenggam kentang goreng masih terkejud dan merasa sangat bangga setelah mendengar jawaban dari Dinda.

"Yaampun, Papa. Kok bisa tau banget sih kalau Dinda lagi pingin Ayam goreng?" tanya Mama.

"Iya, Ma. Papa cuma merasa enggak enak saat makan ayam goreng sendirian tadi pagi. Makannya Papa belikan ayam goreng yang baru," sahut papa dengan senyuman.

"Yaampun Papaaa ... Mama kira yang mencuri ayam goreng Dinda itu kucing? Ternyata ..." ucap mama yang membuat papa tersipu malu.

TAMAT

0 Comments

Posting Komentar