Analisis Film Tilik - Lengkap dengan Review, Sinopsis, Nilai-Nilai, Makna, Amanat dan Kesimpulan



Analisis Film Tilik - Film berjudul Tilik adalah film pendek yang dirilis pada tahun 2018. Film ini menjadi viral saat di terbitkan kembali melalui channel youtube Ravacana Films pada bulan Agustus 2020 yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY.

Banyak yang mengatakan bahwa film ini 0% edukasi. Apakah benar demikian? Kenapa bisa muncul persepsi itu? Apakah kamu juga memikirkannya demikian? Mari kita bahas tuntas semuanya bersama anaksenja.com!

Sebelum melakukan analisis film pendek Tilik, untuk lebih baiknya kita ketahui dulu tentang cuplikan dan beberapa nama aktor yang ada di dalam filmnya.

Tentang Film

Film Tilik ini merupakan film pendek yang terpilih oleh Official Selection Jogja - Netpac Asian Film Festival 2018 Official Selection World Cinema Amsterdam 2019, sehingga menjadi juara di acara Piala Maya 2018.

Aktor yang berada di film ini di antaranya adalah Tutik, Krismiyati, Sukamti, Lastriyatun, Ambar, Mardiyah, Suniyati, Tuminah, Lestari, Tri, Tumijem, Wajiyem, Rondiyah, Martini, Titik, Nganti, Suryanti, Asti, Saerah, Wiwid, Darmi, Suharji, Poniran, Sukriyanto.

Untuk keterangan lebih lengkapnya, bisa kamu lihat di diskripsi vidio Youtubenya langsung.

Sinopsis dari Film Pendek Tilik

Kata "tilik" berasal dari bahasa Jawa, yang berarti jenguk. Dalam film ini, kata tilik memiliki makna menjenguk orang yang sakit, yaitu Bu Lurah. Ada hari di mana Bu Lurah sakit dan dirawat di rumah sakit kota. Para ibu-ibu desa pun berombong-rombong untuk menjenguk (tilik) Bu Lurah, menggunakan truk yang dipelopori oleh ajakan Yu Ning.

Saat perjalanan menuju rumah sakit, para warga (ibu-ibu) asyik menggunjing salah satu tetangganya yang bernama Dian.

Dian adalah seorang kembang desa yang diidam-idamkan banyak pria. Status hubungannya tidak diketahui, maka dari itu para warga desa, terutama ibu-ibu sering menggunjingkannya karena suami dari mereka ada yang beberapa tergoda oleh sosok Dian.

Sisi Negatif dari Film Pendek Tilik

Siapa yang ngakak saat menonton film ini? Tentu di antara kalian pasti ada, apalagi yang memang mengerti bahasa Jawa dan beberapa karakteristik orang-orangnya di daerah tertentu. Namun, sadarkah kamu kalau kamu sedang menikmati sebuah keburukan? Beberapa hal negatif yang terdapat di film Tilik ini adalah sebagai berikut.

1. Menggunjing

Menggunjing atau yang kerap disebut dengan menggosip adalah salah satu kebiasaan yang sering dilakukan oleh gerombolan ibu-ibu. Bukan hanya ibu-ibu, bahkan bapak-bapak atau para remaja juga melakukannya. Hal ini sudah menjadi budaya di negara kita. Sulit untuk menghilangkannya, karena mimin sendiri kalau sedang melakukannya merasakan nikmat yang bukan main.

Walaupun mengasyikkan, namun membicarakan aib orang lain, apalagi belum jelas kenyataannya, bisa menjurus ke fitnah. Seperti yang di katakan Yu Ning, "fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan lho". Daripada membicarakan keburukan orang lain, lebih baik kita diam atau melakukan hal lain yang positif. Seperti membaca buku, belajar, aktif dalam kegiatan sosial, atau hal lain yang intinya kesibukan positif.

2. Marah-Marah

Ada adegan di mana Bu Tejo dan Yu Ning ribut karena perbedaan pendapat. Bu Tejo yang kekeh dengan pendapatnya bahwa Dian bukan gadis baik-baik dan Yu Ning yang kekeh membela Dian, walau mereka berdua tidak mengetahui sebenarnya Dian seperti apa.

Sebenarnya, kebenaran itu memang tak harus dipaksakan. Setiap orang pasti memiliki sudut pandang, penilaian, tingkat rasa dan pengalaman yang berbeda. Maka dari itu, alangkah lebih baik jika kebenaran yang kita miliki jangan dipaksakan kepada orang lain. Hal tersebut dapat menciptakan pertengkaran dan menodai persaudaraan antar manusia.

3. Melawan Hukum

Ada bagian di mana saat truk melewati kawasan yang ada polisinya, semua bersembunyi dengan merunduk agar tidak tertilang. Sudah tertulis diperaturan bahwa truk terbuka tidak boleh membawa penumpang di baknya, karena itu sangat membahayakan. Namun masih saja ada di beberapa daerah yang melakukan hal seperti ini. Mungkin karena biayanya yang murah dan lebih bisa membawa banyak angkutan daripada menyewa bis yang notabenenya mahal.

Selain itu, ada bagian di mana para ibu-ibu tidak terima bahwa sebenarnya mereka sedang melanggar peraturan lalu lintas. Menurut Mimin pada bagian ini malah melemahkan polisi sebagai penegak hukum. Ia tidak tegas dan malah kalah dengan desakan ibu-ibu yang memaksanya untuk meloloskan saja.

Tindakan ini tidak patut dicontoh. Seharusnya ada tindakan yang benar, baik untuk penegak hukum atau warga negara yang baik. Jangan melanggar dan patuh pada aturan.

4. Batasan Umur yang Kurang Tepat

Dalam awal filmnya dituliskan batas umur untuk "13 tahun ke atas". Namun nyatanya, banyak hal-hal dewasa yang seharusnya tak pantas di pertontonkan untuk usia dibawah 18 tahun. Anak-anak, cenderung meniru apa yang dilihatnya. Apa lagi di jaman yang sekarang ini, semua bisa diakses siapa saja tanpa terkecuali.

Ada salah satu guyonan yang di lontarkan untuk Bu Tejo, kurang lebih seperti ini. "Tapi nggak takut dengan ularnya Pak Tejo kan, Bu?". Usia 13 tahun biasanya berada di jenjang SMP kelas 1, baru lulus SD sudah dijejali hal-hal berbau dewasa yang membuatnya penasaran. Apakah itu baik untuk perkembangannya?

Alangkah lebih baik jika batasan umurnya ditinjau kembali. Sesuaikan semuanya dengan penuh pertimbangan, agar krisis pendidikan di negeri ini bisa lumayan tertolong.

5. Perselingkuhan

Plot twist yang ada di film ini sangat mengejutkan penontonnya. Terlihat di bagian ending dari film Tilik ini. Ternyata, orang yang dibela mati-matian oleh Yu Ning adalah sosok yang digunjing habis-habisan oleh Bu Tejo. Bagaimana tidak, terlihat dengan jelas saat Dian mengatakan bahwa "Fikri masih belum bisa menerima ibu baru, Mas". Fikri adalah anaknya Bu Lurah, sedangkan bapaknya Fikri adalah Suaminya Bu Lurah, berarti kan yang mengelus-elus kepalanya Dian itu adalah ...

Ya, dia adalah Gotrek. Supir truk yang mengantarkan para warga untuk menjenguk Bu Lurah. Eh, kok sepertinya ada yang salah? Kita sedang bahas siapa sih? Coba kamu isi bagian rumpang itu di kolom komentar, soalnya Mimin belum tau. Hihihi 😁

6. Pendapatmu

Untuk poin ke-6 ini, Mimin persilakan kamu untuk mengutarakannya di kolom komentar. Apakah masih ada hal kurang baik lain yang kamu temukan di film pendek berjudul Tilik ini? Mari kita diskusikan lebih lanjut di kolom komentar!

Sisi Positif dari Film Pendek Tilik

Setelah membahas sisi negatifnya, tidak afdol jika tidak diimbangi dengan bahasan sisi positifnya bukan? Mari kita bahas bersama-sama!

1. Jangan Meniru

Enam poin di bagian sisi negatif (termasuk pendapat pribadimu) di atas merupakan contoh-contoh hal buruk yang seharusnya kamu jauhi, bukan malah ditiru. Kamu harus sadar bahwa semua itu bukanlah hal yang pantas diterapkan di kehidupanmu.

Jangan menggunjing, takutnya nanti mengarah ke fitnah. Jangan marah-marah, karena damai sebenarnya lebih indah. Jangan melawan hukum, jika kamu membenci koruptor atau penjahat-penjahat lainnya. Jangan selingkuh, karena setia itu lebih dihargai Tuhan. Dan jangan-jangan, kamu sering melakukan semua itu ya? Hayo ngaku. Jangan bohong. Hihihi ...

2. Berpikir Positif

Seperti tokoh Yu Ning, yang selalu berpikir positif tentang Dian. Ini adalah contoh yang baik, karena jika kita tidak tahu keadaan yang sebenarnya lebih baik tidak mengira-ira tentang sesuatu hal yang buruk. Seperti menuduh, membuka aib buruk orang lain, bahkan memfitnah. Beberapa contoh itu lahir dari pikiran negatif. Seharusnya kita tidak perlu memikirkan keburukan orang lain demi menghibur diri, karena selain buang-buang waktu juga membuat dosa.

3. Rasa Kebersamaan

Sesama manusia adalah saudara. Apalagi tetangga, adalah orang-orang yang tinggal di dekat kita. Bahkan saking dekatnya, terkadang jadi terasa seperti keluarga. Jika kamu tinggal di desa, hal seperti ini sudah sangat lumrah. Menjenguk, melayat, bahkan berkunjung untuk saling bermaaf-maafan saat lebaran secara berbondong-bondong. Rasa kebersamaan di desa memang tak ada lawannya, walau terkadang juga ada yang individualis tapi bisa dikatakan jarang ditemukan.

Amanat yang Bisa Diambil dari Film Pendek Tilik

1. Jangan Bangga Menjadi Orang Jahat

Terlihat jelas, tokoh Yu Ning yang berperan protagonis di sini malah selalu mendapat hal yang sial. Dari membela Dian yang ternyata salah, sampai mengajak semua tetangga untuk menjenguk Bu Lurah tapi tidak kesampaian.

Bu Tejo menang banyak. Dia sangat bangga atas kemenangannya yang ditandakan dengan melihat Yu Ning sedih. Ini bukan contoh yang baik, seharusnya kita jauhi sifat ini. Ingat, hidup di dunia ini bukanlah akhir dari segalanya. Semua pasti akan ada balasannya, walau di dalam film ini tidak terlihat dampak apa yang diterima si pihak antagonis.

2. Jangan Takut Menjadi Orang Baik

Walau si tokoh protagonis selalu mendapat kesialan, sebagai penonton yang cerdas kita tidak boleh turut serta menyalahkannya. Seharusnya kita contoh beberapa kebaikan yang sudah dicontohkannya. Seperti berpikir positif, menjauhi fitnah, mengajak kebaikan dengan menjenguk orang sakit, dan hal-hal lain yang sekiranya bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi. Semua itu seharusnya bisa membuat kita menjadi lebih sabar dalam menjalani hidup, dan juga lebih ikhlas saat bertemu hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kesimpulan dari Film Pendek Tilik

Film pendek yang berjudul Tilik ini menampilkan kisah sehari-hari yang sering terjadi di sekitar kita. Menggunjing, menghina, bercanda, maupun hal-hal baik yang beberapa di antaranya sering terjadi di kehidupan kita. Terasa sangat dekat, sehingga menciptakan rasa senang saat menontonnya. Hingga saat postingan ini dibuat, vidio film pendek Tilik yang berada di kanal youtube Ravanca Films, baru 6 hari diupload sudah ditonton lebih dari 11 juta viewers. Sungguh mengesankan. 

Namun, seharusnya kita jangan hanya menikmati film ini sebagai hiburan semata. Kita harus jeli dalam mengambil hal baik di setiap bagiannya, supaya bisa bermanfaat untuk kita menjadi lebih baik ke depannya. Semoga artikel ini bermanfaat buat kamu. Silakan tulis pendapatmu tentang film ini di kolom komentar. Kritik artikel ini jika ada yang menurutmu salah, mari kita temukan kebaikannya bersama-sama!

Ingat Pesan Bu Tejo!
"Dadi Wong Ki Mbok Sing Solutip!"

0 Comments

Posting Komentar