Cerpen - Keputusasaan Asa yang Telah Putus


"Aku capek!"

"Ya, aku juga merasa bahwa hubungan ini sudah terlalu melelahkan. Lebih baik kita sudahi saja," sahut Yudha sembari pergi, meninggalkan Zida sendirian di bangku taman.

Perseteruan di antara mereka selalu terjadi setiap hari. Tak pernah henti, bak laju roda di atas aspal. Sejenak sepi kala petang, kembali ramai kala siang.

Apa saja bisa dipermasalahkan. Entah itu keterlambatan, kesibukan, dan masih banyak selainnya. Termasuk juga perbedaan pendapat, yang masih menduduki peringkat pertama sebagai landasan keributan yang terjadi.

Sesekali Zida mengalah, namun tak teranggap dan kembali terpancing marah. Sering terjadi. Kapan pun, dan di mana pun. Zida memang sering memaksakan kesabarannya, kendatipun tak pernah berhasil karena bukan wataknya.

Hal yang sangat dibenci Zida adalah pemaksaan sabar. Wajib harus memahami makna apa di balik kata pedas yang diucapkan Yudha. Hal itu sangat menggeramkan, karena melawan gawan bayinya.

Selain tak sabaran, cara berpikir Zida adalah alasan dasar untuk Yudha melakukan ucapan-ucapan liar. Bukan pisuh ataupun hinaan, tetapi satire yang teramat tajam. Hal itu dapat menyayat perasaan Zida hingga menimbulkan beberapa tangis ditiap derap berjalannya waktu.

Berbeda dengan Yudha. Tak pernah marah, namun sifatnya sangat menyebalkan. Kata-katanya lumayan pedas. Tak pernah dipikirkan, semua dilontarkan begitu saja semaunya. Semua itu ia lakukan untuk membela dirinya, saat niat baiknya tak teranggap dan tertindas.

Yudha merasa, bahwa semua yang dilakukannya selalu salah. Hobi, teman bermain, bahkan saat mencoba melakukan kegiatan sosial pun bisa dicari titik salahnya. Ketelatenan Zida dalam mengulik sisi buruk segala hal selalu mengusik ketenangan hidup Yudha. Membuatnya tak pernah benar, kecuali saat melakukan hal-hal yang menyangkut kebahagiaan Zida.

Padahal, rencana untuk menuju jenjang yang lebih serius sudah sangat di depan mata. Tinggal beberapa bulan lagi,  sesuai tanggal yang pernah mereka sepakati. Namun entah kenapa, semakin dekat malah semakin hilang. Kehilangan keyakinan untuk bisa bersama-sama menuju masa tua dan bahagia.

Saat itu sore hari, setelah jam pulang kerja. Saat senja menyipit manja di sela-sela awan yang tampak merona. Mereka membuat janji untuk bertemu. Membahas pilihan akhir, antara lanjut dan berkahir.

Beban dan pertimbangan sudah mereka pikirkan jauh hari. Dipersiapkan untuk disimpulkan bersama-sama demi jawaban pasti. Tak tahu, mereka sudah benar yakin atau hanya sebatas spekulasi.

Langkah kaki Yudha terdengar hilang. Zida pun gercep tengok ke arah Yudha. Tampak henti, berdiri membelakangi. Langsung ia usap air matanya dan utarakan pertanyaan riskan.

"Kau yakin, semua berakhir di sini?!"

Yudha tetap membelakangi, dan menjawab dengan tipis. "Ya."

Kembali kucur. Air mata Zida merambat deras, menyapu bedak yang mendempul tipis di pipinya. Merunduk, meratapi ucapan yang melahirkan penyesalan. Tangannya menutup rapat, berharap bisa menahan eluh yang keluar tanpa permisi.

"Apa kamu juga yakin?" ucap Yudha sembari balik badan, menampakkan air mata yang disembunyikannya pula.

Gelap menyelimuti senja dengan begitu cepat. Ia gulingkan kain hitam pekat dengan motif rintik terang, seakan-akan turut berduka atas sesuatu yang baru saja tiada. Rasa sudah teraniaya terkarenakan emosi yang mengambang. Sabar melaju hilang diculik asa setengah matang. Keputusan yang mereka buat telah melahirkan penyesalan baru, yang melekat erat di relung kalbu.

***

Judul    : Keputusasaan Asa yang Telah Putus
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Post a Comment