Cerpen - Arem-Arem Rindu


Rindu adalah seorang bocah yang tak kenal kata lelah. Mondar-mandir di setiap sudut alun-alun kota dengan membawa keranjang berisikan makanan berbungkus daun pisang. Arem-arem, yang selalu ia tawarkan kepada setiap pengunjung dari siang sampai petang.

Waktu itu pukul setengah tujuh, bakda magrib. Kehangatan di setiap buntelan arem-arem sudah menguap. Namun masih saja ia tawarkan kepada setiap orang dengan harap masih ada yang berkenan. 

"Arem-arem, Bu?"

"Oh iya, Dik. Berapaan nih?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang duduk di kursi besi bersama anak perempuan kecilnya.

Rindu menyodorkan arem-arem yang mulai dingin itu dengan mengucapkan kata seribu. Ibu-ibu itu pun mau, dibelinya dua arem-arem dengan lempitan uang yang seakan berjumlah pas.

"Makasih ya, Bu."

Semringah terpancar indah di raut wajah. Rindu berjalan pergi meninggalkan ibu-ibu itu untuk pulang, karena terasa hari sudah petang. Ia berjalan sembari membuka lipatan uang yang dibayarkan ibu-ibu tadi.

Terkejut. Ternyata di dalam lipatan itu tidak berawalan angka dua, melainkan lima. Gegas balik badan, Rindu berlari untuk memberikan kembalian.

Seketika wajahnya tampak muram, saat melihat anak perempuan dari ibu-ibu tadi membuang arem-aremnya ke dalam tong sampah. Berjalan pelan, memberikan kembali sejumlah uang yang pernah diterimanya tadi.

"Lho, Dik? Kenapa dikembalikan?" tanya ibu-ibu itu penasaran.

"Maaf, Bu. Kata ibu saya, kalau ada yang enggak suka dengan arem-aremnya, uangnya disuruh ngembaliin aja."

Ibu-ibu itu terus saja mengeyel, memaksa Rindu untuk membawa uang yang pernah dibayarkannya. Rindu tetap menolak, karena merasa pesan dari ibunya lebih utama daripada nominal yang ada di hadapannya. 

Hari itu tak seperti biasanya. Masih terlihat banyak arem-arem yang dibawanya, sekitar setengah keranjang. Rindu sadar karena mungkin jualannya sudah dingin, malah bisa jadi sudah berlendir. Segera saja ia buka dan coba salah satu arem-aremnya, dan di makannya dengan singgah di trotoar ujung alun-alun.

Air matanya menetes pelan. Jatuh di daun pisang yang menjadi bungkus dalam genggamannya.

“Masih enak kok, kenapa dibuang?” gumam Rindu.

Terasa masih enak, masih layak. Hingga dicobanya sekali lagi di bungkus yang berbeda. Masih saja, tak ada rasa aneh di dalam dagangannya. Pertanyaan “mengapa” masih terbayang-bayang di benaknya.

Mengusap air mata, dan berjalan pelan menyisir trotoar. Sesekali Rindu mampir saat melihat pemulung atau orang berpakaian lusuh yang tidur di serambi jalan. Teringat pesan ibunya, “Ndu, kalau arem-aremnya belum habis, jangan langsung dibawa pulang ya? Lebih baik, dibagikan ke saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan.”

Air matanya kembali keluar. Terlintas ingatan tentang ibunya yang terbaring lemah di atas kasur usang. Tak tahu kenapa, setiap hari selalu saja tampak lemas. Mereka takut untuk ke rumah sakit karena tak ada biaya. Uangnya sudah habis untuk kulakan bahan baku. Walau begitu, setiap hari ibunya Rindu, Bu Hanum, masih bisa memaksakan diri untuk berdiri menanak nasi dan mengisi racikan isi, untuk dijadikannya arem-arem. Walau dibantu Rindu dan duduk di kursi tua, perannya masih tampak dominan saat proses pengolahan.

Langkah demi langkah menuntun Rindu menuju rumah. Kakinya yang seharian wira-wiri merayunya untuk duduk sejenak di bangku reyot depan rumah. Berselonjor santai, tiba-tiba di hampiri oleh aroma sedap dari dalam rumah.

"Hmm ... bau apa nih? Enaaak ..." gumamnya pelan.

Segera berdiri, Rindu mencari sumber bau dengan masuk melalui pintu rumahnya. Semakin dekat, aroma sedap itu semakin kuat. Membuatnya sedikit mempercepat langkah kakinya untuk segera melihat ada apa di dalam dapur rumahnya. Setibanya di pintu dapur, Rindu menganga, melihat ibunya mengenakan pakaian hitam berdiri tegak menghadap kompor minyak. Tersenyum bahagia, tatkala melihat ibunya tampak sehat tak seperti biasanya. Melepas keranjang dagangan, Rindu langsung berlari untuk memeluk ibunya dari belakang.

"Ibu!"

Air mata Rindu kembali keluar, menyapu debu di pipinya dengan perlahan. Ia sangat bahagia. Sudah sekian lama tak lagi melihat ibunya bisa memasak tanpa bantuan kursi tua di belakangnya.

"Eh, anak cantik Ibu sudah pulang," sambutnya sembari mengecilkan api dan berlutut menghadap anak semata wayangnya. "Eh-eh-eh ... kok nangis sih?" tanyanya pelan setelah melihat air mata anaknya.

"Rindu enggak nangis kok! Hehehe ... hmmff," jawab Rindu sambil menghirup ingusnya, yang mengalir dari lubang hidungnya. "Rindu seneng bisa lihat Ibu masak kayak dulu lagi!" lanjutnya.

Melihat wajah anaknya penuh air, baik itu keringat ataupun air mata, telapak tangan Bu Hanum langsung mengusap semuanya dengan lembut. Penuh kasih sayang, bersama senyuman hangat yang mengarah tepat ke arah Rindu.

"Terimakasih, Engkau telah menyembuhkan Ibuku!" batin Rindu penuh syukur.

Merah. Jejak usapan ibu di wajah Rindu meninggalkan sebuah goresan. Seperti darah. Hal itu tidak disadari Rindu, karena ia masih larut dalam kebahagiaan kala melihat ibunya bisa berdiri tegak saat memasak. Ia tak peduli walau melihat wajah ibunya lebih pucat dari hari-hari sebelumnya. Yang Rindu tau, ibunya sudah sembuh.

Tiba-tiba Rindu berlari menuju kamar, meninggalkan ibunya yang masih berlutut. "Mau ke mana, Ndu?"

Rindu tak menjawab. Ia tetap berlari menuju kamar, seperti sedang ingin mengambil sesuatu. Selagi menunggu, Bu Hanum mencuri kesempatan untuk menutup rapat-rapat mulutnya dengan telapak tangan kala merasa batuknya sudah tak tertahan. Walau sebenarnya suara batuk itu terdengar pelan, namun Rindu tak menghiraukannya karena percaya bahwa ibunya sudah sembuh.

Tak butuh waktu lama, Rindu kembali ke dapur membawa celengan ayam di tangan kecilnya. Dilihatkannya celengan itu ke arah ibunya dengan gerakan mengangkat-angkat kecil, memberitahukan bahwa celengan itu sudah cukup berisi.

"Ini buat Ibu," ucap Rindu pelan dengan penuh senyuman.

Setiap hari, Rindu selalu menyisihkan uang saku yang diberikan ibunya sebelum berangkat jualan. Walau tak banyak, Rindu tak pernah ragu untuk memasukkan ke dalam celengan ayamnya. Harapannya, tabungan itu bisa digunakan untuk proses pengobatan sang ibu tercinta.

"Ini apa, Ndu?" tanya Bu Hanum, yang seolah-olah tidak tahu tentang apa maksud Rindu.

Rindu melepas celengan dari genggamannya. Pecah sudah. Rindu cukup terkejut, karena uang di dalam celengan ayamnya terlihat lebih banyak dari perkiraannya.

"Ya ampun ... banyak banget, Ndu!" ucap ibu dengan ekspresi kaget.

Setiap Rindu pergi, diam-diam Bu Hanum turut serta memasukkan uang simpanannya ke dalam celengan ayam tersebut. Ia berharap bahwa uang yang selama ini ia simpan bisa berguna untuk kebahagiaan dan kebutuhan anak satu-satunya itu di masa yang akan datang.

"Ini buat Ibu. Karena Ibu sudah sembuh, jadi enggak perlu periksa kan? Kita bisa jalan-jalan, Bu. Yeee!" ujar Rindu dengan menari-nari kegirangan.

"Emm.. Oke deh!" jawab Bu Hanum sambil mengangguk. "Setelah ini Ibu akan ke rumah Pak RT untuk minta tolong mengirimkan pesan ke Om Ridwan supaya besok bisa jemput kamu, Ndu."

"Om Ridwan ayahnya Zahra, Bu?" tanya Rindu dengan wajah berseri-seri.

"Iya, Ndu. Om Ridwan, adik laki-laki Ibu yang sering ke sini saat lebaran tiba," jawab Bu Hanum.

"Berarti kita akan ke Jogja dong, Bu?!" tanya Rindu.

Rindu langung berteriak kegirangan setelah melihat ibunya mengangguk dengan senyuman. "Asyiiik!" teriak Rindu bahagia. "Ayo, Bu. Kita siap-siap!" lanjutnya penuh semangat.

Langsung berlari ke arah kamar. Diambilnya semua pakaian terbaik dan dimasukkan ke dalam tas lusuh bekas milik ayahnya. Ini kali pertama Rindu jalan-jalan ke luar kota. Rindu sangat berbunga-bunga.

Bu Hanum menyusul pelan. Berdiri di bibir pintu, dan tersenyum lepas kala melihat wajah anaknya berseri-seri.

"Tapi Rindu harus janji, jangan nakal ya di Jogja?" tanya Bu Hanum.

"Pasti, Bu! Rindu janji! Rindu enggak akan membuat Ibu malu!" tegas Rindu.

Bu Hanum tersenyum mendengar jawaban anaknya. "Hmm, Rindu lapar enggak?" tanya Bu Hanum tiba-tiba, yang membuat Rindu teringat sesuatu.

"Eh! Ibu yang masak beraroma enak itu kan?" sahut Rindu diiringi pose berdiri dan berlari menggeret tangan ibunya. "Ayo Bu, Rindu lapar banget nih! Hehehe."

Petang itu, Rindu sangat senang. Kala melihat ibunya tersenyum bahagia dan juga memasakkan opor ayam kesukaannya. Bisa dibilang jarang, mungkin hanya setahun sekali pada momen lebaran Rindu bisa menikmati sepiring nasi bercampur opor kesukaannya itu. Bukan karena tak mau, tetapi memang keterbatasan modal pangan yang memaksa keluarga Rindu berada di situasi tersebut.

Walau begitu, hal itu tak pernah membuat Rindu malu ataupun mengeluh. Baginya, apapun itu makanannya akan terasa nikmat jika dimakan berdua bersama dengan ibunya. Rindu selalu bersyukur di dalam keadaan apapun. begitulah yang selalu diajarkan Bu Hanum di setiap harinya.

"Bu, emnyak bngettt! Hmmm," ujar Rindu sambil mengunyah nasi.

Hal itu membuat Bu Hanum tersenyum lebar. Mungkin ia merasa bangga karena bisa membahagiakan anaknya dengan cara yang sederhana.

"Rindu makan dulu ya? Nasinya dihabiskan. Ibu mau ke Rumah Pak RT dulu buat kabarin Om Ridwan. Nanti kalau Ibu belum pulang, Rindu langsung tidur saja ya? Supaya besok saat berangkat ke Jogja tidak ngantuk di jalan," pamit Bu Hanum dengan senyuman sambil berjalan keluar rumah.

"Siap bu!"

Rindu pun segera menghabiskan nasi dan opor di piringnya, bersiap-siap untuk liburan di hari esok. Berjalanlah ia ke kamar mandi, mencabut tutup gentong dan segera mencuci piring bekas makannya dengan gegas. Sekalian ia cuci kaki dan menggosok gigi mungilnya dengan sikat yang telah usang.

Setelah selesai semuanya, Rindu langsung lari menuju kasur dan menarik selimut lusuhnya. Sembari terpejam, ia bayangkan indahnya Kota Gudeg dengan segala pernak-pernik alam yang begitu istimewa. Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara lelaki tua yang melarang Rindu untuk melanjutkan pejamannya.

"Bangun! Ayo bangun!"

"Hmm ... Kapan sampai Om? Rindu masih ngantuk nih. Hoaaaaaamm," jawab Rindu sambil menggeliat.

Mata Rindu langsung terbeliak kala merasakan tarikan paksa di tangan kanannya. Ia melihat gemerlap lampu merah di atas mobil yang banyak orang-orang berlarian di sektarnya. Sementara menggenggam satu arem-arem di tangan kiri, Rindu melihat ke arah bawah. Terlihat jalanan seperti berjalan sendiri ke arah belakang. Pada akhirnya, Rindu didudukkan di atas kursi mobil yang dipenuhi orang-orang jalanan. Rindu pun semakin bingung saat melihat orang-orang yang sering ia bagi arem-arem saling bercucuran air mata dan berteriak minta tolong.

"Ada apa ini, Bu?" tanya Rindu kepada ibu-ibu tua yang menggendong anak kecilnya di gendongan jarit.

"Kita digaruk Satpol PP, Nak." jawab singkat ibu-ibu itu.

Tersadar. Lelah akibat berjalan berkeliling alun-alun seharian, membuat Rindu tak sengaja memejamkan matanya di emper jalan setelah membagikan sisa arem-arem dari keranjangnya. Mata rindu pun tiba-tiba meneteskan sebutir air yang kemudian diikuti butiran-butiran air yang terus mengucur tanpa henti. 

Sesampainya di Dinas Sosial, Rindu hanya bisa diam dan menangis di pojokan. Ia tekuk dan rapatkan kedua kaki di dada dengan dekapan erat dari kedua tangan mungilnya. Rindu hanya memikirkan ibunya yang belum makan siang ataupun malam. Terus menangis hingga akhirnya mendengar suara teriakan yang memanggil namanya dengan lantang.

"Rindu!"

Tak asing. Rindu merasa hafal betul warna suara yang menyerukan namanya. Rindu langsung berdiri dan mencari sumber suara. Terlihat sesosok pria berjas hitam yang melambaikan tangannya ke arah Rindu. Hal itu langsung membuat Rindu tak ragu melangkahkan kakinya menuju ke sumber suara.

"Om Ridwan!" teriak Rindu yang langsung memeluk kaki Omnya tersebut dengan sangat erat.

"Pulang yuk, Ndu? Ibumu sudah menunggu di rumah." ajak Om Ridwan dengan suara lembut.

Tanpa menjawab, Rindu langsung melangkahkan kaki dengan menggandeng tangan Om Ridwan dengan sangat erat. Berjalan pelan menuju tukang ojek pesanan Om Ridwan, diangkatnya ketiak Rindu dan didudukkan tepat di belakang sopir ojek yang mengenakan jaket berwarna hijau muda.

"Ndu, nanti setelah sampai rumah jangan kaget ya?" ucap Om Ridwan pelan dengan tatapan sayu ke arah Rindu.

Rindu hanya mengangguk pelan dengan air mata yang semakin deras. Dalam perjalanan menuju rumah, Rindu tersenyum tipis saat mengingat mimpi yang baru saja terjadi. Ia masih mengingat jelas raut wajah ibunya yang tersenyum cantik saat pamit keluar rumah.

"Ibu, aku rindu," batin Rindu sambil menggenggam arem-arem di tangan kirinya.

*****

Judul    : Arem-Arem Rindu
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Post a Comment