Cerpen: Sindiran Teman


"Hari gini masih suka posting masakan?! Norak!"

Kalimat itu aku temukan di status whatsapp teman sekelasku, Erna. Status tersebut muncul setelah aku memposting hasil masakanku. Sebenarnya tak ada masalah, namun entah kenapa itu cukup mengganggu pikiranku.

***

Setahun yang lalu, tepatnya sebelum aku lulus kuliah, aku memiliki lingkungan persahabatan yang sangat membuatku nyaman. Kami saling suport satu sama lain. Mengerjakan tugas kuliah bersama, saling membantu saat salah satu di antara kami kesusahan, main ke suatu tempat bersama-sama, bahkan sampai merayakan suatu acara bersama-sama dengan penuh bahagia.

Aku masih ingat, saat aku berada ditanggal yang sama dengan tanggal kelahirkanku. Saat itu aku merasa diasingkan. Sahabat yang biasanya mendekat tiba-tiba menjauh tak terikat. Saat aku membutuhkan bantuan, tak ada yang datang.

Saat itu ada tugas kelompok yang sangat membutuhkan kerja sama tim. Aku berada di kelompok tujuh, bersama Erna, Adel dan Syifa. Mereka adalah sahabat terbaikku, teman sekelas sejak masuk di fakultas ekonomi.

Tugas yang diberikan cukup berat, yaitu menganalisis produk-produk yang ada di pasar tradisional. Kami sepakat, kami akan menganalisis perbandingan produksi bawang putih di pasar tradisional kabupaten Magelang. Pembagian tugas sudah dilakukan sejak pertama kali kelompok tujuh dibentuk. Aku dan Erna mendapat jatah observasi di pasar tradisional Kaliangkrik. Sedangkan Adel dan Syifa mendapat jatah observasi di tempat lain.

Sesuai kesepakatan, Minggu pagi, di mana keadaan pasar saat ramai penjual maupun pembeli. Aku sudah menunggu Erna di parkiran pasar Kaliangkrik. Cukup lama, sampai-sampai tak terasa aku sudah menghabiskan sebungkus jenang abang yang ku beli di nenek-nenek tua. Tiba-tiba kantong celanaku bergetar melalui ponsel yang aku selipkan.

Kulihat ada pesan masuk dari Erna, yang membuat perasaanku sedikit kesal. "Aduhhh ... hari ini aku ada acara mendadak nih, blusukannya besok saja ya?"

Tanggung, mau pulang tapi sudah sampai di lokasi. Daripada sia-sia, akhirnya kuputuskan untuk melakukan observasi sendiri. Cukup berat hati, namun harus tetap kujalani.

Seusai kegiatan, aku pun pulang walau dengan hasil kurang maksimal. Tak apa, yang penting aku sudah berusaha. Kubuka grup whatsapp kelompok tujuh, dan ku kirimkan hasil observasiku. Tak lama kemudian, entah kenapa semua anggota menyalahkanku. Mengataiku egois, tak menganggap punya teman, bahkan ada yang mengatai hasil observasiku begitu buruk dan tak layak dimasukkan dalam laporan.

Sangat sakit dan begitu marah, saat Erna mengeluarkanku dari grup whatsapp kelompok tujuh secara sepihak. Ingin ku tanyakan langsung secara pribadi, namun tak bisa karena sepertinya aku telah di blokir olehnya. Begitu juga Adel dan Syifa, mereka semua juga memblokirku secara serentak. Aku merasa sangat sendirian, menangis di sudut kamar dan tak ada yang menenangkan.

*

Hari berikutnya, aku berangkat ke kampus dengan perasaan tidak mengenakkan. Katup mataku tampak bengkak, akibat menangis semalaman. Kumasuki kelas dengan rasa malu. Tak kulihat adanya salah satu dari ketiga sahabat terbaikku yang juga merupakan anggota kelompok tujuh di dalam kelas. Apakah mereka masih dendam kepadaku? Tanyaku dalam batin dengan penuh rasa penasaran.

Sampai jam pulang, masih saja tak terlihat. Ketiga sahabatku entah kemana. Aku pulang dengan penuh kesedihan. Penyesalan selalu muncul berkepanjangan. Selalu menyalahkan diri sendiri akibat tindakan keegoisan.

Ku buka pintu rumah dan kuucapkan salam dengan penuh pasrah. Muncul dari balik pintu, ketiga sahabatku melempar telur, gandum dan buntelan air ke arahku. Seketika kaget, tubuhku bergetar senang.

Ternyata, di balik semua kejadian ada sebuah perencanaan. Perayaan akan hari kelahiran dilakukan dengan cukup mengesankan. Ada cerita, disetiap bercak gandum dan lengketnya kuning telur yang terjereng di atas lantai teras rumahku. Sungguh, kenangan itu sangat membekas dan menempel keras tak mau lepas.

***

Jarak dan waktu memisahkanku untuk hidup di lingkungan yang berbeda. Banyak masalah-masalah kecil yang terjadi di antara kami. Dari tak bisanya aku menghadiri acara pelantikannya Erna menjadi istri, perayaan ulang tahun Syifa di rumah neneknya, hingga beberapa ajakan Adel untuk main bersama. Mungkin semua ini memang salahku, yang tak pernah bisa meluangkan waktu seperti dulu.

Ingin kutanyakan langsung tentang maksud dari status yang dibuat Erna. Tapi niatku hanya sekadar niat, tak pernah kesampaian karena hati tak enak. Takut jika akhirnya malah membuat masalah yang lebih besar lagi. Aku selalu berharap, persahabatan kami akan terus langgeng walau tak saling jumpa di dunia nyata.

Kini semua tak lagi sama. Aku telah lepas dari segala masalah perkuliahan. Hidupku baru, walau masih melanjutkan tulisan di dalam catatan kehidupan yang sama. Aku selalu berharap, ada kejutan indah di setiap masalah yang terjadi di dalam hidupku, seperti beberapa tahun yang lalu.

0 Comments

Posting Komentar