Cerpen - Anak Langit yang Terkubur di Bumi


Sejuk sepoi angin mengibas pelan di permukaan wajah. Berjalan menelusuri sungai, kunikmati kepermaian desaku. Terlihat goyangan padi di samping kiri, begitu lihai mereka berjamaah menari-nari. Sedangkan di sebelah kanan, terlihat beberapa benda terapung laju bersama derasnya arus sungai.

Macam-macam warnanya, ada hijau, coklat, dan kuning. Beberapa warna itu hanyut dengan ugal-ugalan, saling bertabrakan dan terkadang salah satu dari mereka membelah diri bagaikan ameba, terutama yang berwarna kuning.

Ada satu warna yang menarik perhatianku, yaitu warna coklat. Tampak besar, benda itu perlahan mendekatiku. Kuamati dengan teliti, benda berwarna coklat itu terasa mirip denganku. Tak lain dan tak bukan, dia adalah seorang manusia yang mengapung bersama unsur-unsur lain seperti benda berwarna kuning yang tadi sudah membelah diri. Serentak aku teriak dan berlari sekecang-kencangnya, agar seluruh semesta bergetar oleh suaraku.

“Tolong! Tolong! Ada mayat!!!”

Aku berteriak sampai suaraku habis, karena letak dari sungai itu memang cukup jauh dari peradaban. Desaku sangatlah luas. Saking luasnya, terkadang aku sering tersesat karena sifat lupaku lumayan cukup akut. Kakiku terus berlari menuju desa yang kutinggali.

“Toloooooong ... ada mayat!!!”

“Di mana?!” tanya Pak Huda, seorang bencong tua yang sudah taubat.

“Di sungai sana itu, Pak! Tolong panggilkan semua warga!”

Pak Huda langsung berlari menuju masjid. Ia umumkan berita duka yang tidak disangka-sangka oleh siapa saja.

“Pengumuman! Ke sungai yuk! Ada barang bagus nih!!!”

Keterangan tentang apa, siapa, bagaimana, dan mengapa tak ia jelaskan sama sekali. Namun hal itu lah yang membuat semua warga tergerak dan berlari menuju sungai.

Sungai tempatku menemukan mayat pun kini ramai. Bapak-bapak, ibu-ibu, om-om, tante-tante, mas-mas, mbak-mbak, dik-dik, bro-bro, yang-yang, beb-beb, cuk-cuk, hingga nenek-nenek pun ada. Semua lengkap tersedia.

“Lah, ini kan Diki?!” ujar Pak Farid, kepala dusunku.

“Apa?! Diki, anaknya Pak Langit yang juragan sapi itu?!” tanyaku bingung.

“Lah! Ini kan saudara kembarmu!” ucap Pak Huda sembari menepuk kepalaku.

“Oiya ya. Hehehe ... Makanya kok aku ngerasa mirip gitu,” ucapku tersipu malu. “Hah?! Berarti dia adikku dong?! Adikkuuuu!!! Tidaaaaakkkkkk!!!”

Tersadar dalam kebingungan warga, aku menangis dengan penuh duka. Adikku, yang selama ini aku anggap seperti saudara sepupuku sediri meninggalkanku tanpa pamit. Sungguh sedih, aku tenggelam dalam tangis yang sangat kejer.

Biasanya, setiap hari Diki selalu menjadi teman bermainku. Siang, malam, bahkan sampai begadang  pun ia selalu menemaniku bermain capsa. Terakhir bertemu empat hari lalu, pernah cerita ingin menemukan musuh baru yang lebih hebat daripada aku. Kukira bercanda, sepertinya ia benar-benar merealisasikan tekadnya.

Beberapa warga pun membantuku mengangkat jenazah kembaranku menuju rumah. Tersambut haru, kedua orang tuaku langsung mengikuti irama tangisanku. Mereka menangis sedu kala melihat salah satu anaknya pergi dengan jalur yang tidak keren.

Engas dari badan kembaranku ini sangatlah sengak. Menjegal-jegal indra penciuman para pelayat yang berkerumun di depan rumah. Mereka tampak sibuk menutup hidung, sampai-sampai lupa tentang harus bagaimana cara memperlakukan jenazah yang benar.

“Ayo mandi!” teriak Pak Huda. “Kok diem aja sih?! Ayo buruan mandi! Bau!”

“Sini, Kamu aja yang aku mandiin!” teriak bapakku penuh emosi. “Yaampun nak, kemarin itu kamu pamit untuk swimming, kok malah flying sih?! Huhuhu ...” lanjutnya penuh tangis.

Selain sengak, bau alkohol juga tercium samar dari tubuhnya. "Apa Diki judi di tempat Pak Slamet ya?!" batinku curiga.

Pernah ku dengar, ada posko judi yang terletak di ujung desa sebelah. Tempat itu terkenal seram, berisi preman-preman atau penipu ulung. Setiap orang yang masuk ke sana tak pernah terlihat lagi. Namun aku tetap harus berpikir positif. Karena yang ku kenal, Diki adalah orang yang tolol. Ia pasti tak mengenal alkohol.

Terdengar lirih beberapa gunjingan dari warga yang merayap pelan di telingaku. Mungkin ayah dan ibuku juga mendengarnya, karena itu mereka langsung mengambil tindakan. Tak ingin menanggung malu lebih lama, ayahku pun langsung memproses pemakaman kembaran kandungku dengan tempo yang sesingkat-singkatnya.

Selamat jalan kembaranku, semoga kematianmu bermanfaat untuk akhirat.

*****

Judul    : Anak Langit yang Terkubur di Bumi
Penulis : Joe Azkha
Tahun   : 2020

0 Comments

Posting Komentar