Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 8)


<<sebelumnya di bagian 7...

“Kina?” tanya Aska kaget.

Aska tak menyangka bahwa ada orang lain di sekitarnya. Sebelumnya, ia tak melihat adanya orang lain selain adik tingkat yang belum dikenali sepenuhnya.

“Ngapain lu di situ?” tambahnya.

“Harusnya gue yang tanya gituan, lu yang ngapain!” jawab Kina sedikit ngegas.

“Nganu, Kin. Nih, lagi ngehajar anak setan. Ganggu banget sih!”

“Owhh, jadi sekarang lu anak indigo?”

“Indigo pala lu!” bentak Aska tak terima.

“Lah, lalu ngapain lu guling-guling ketawa-tiwi sendirian dari tadi?”

“Lah?! Kok, sendirian?? Lu udah buta kali yak, gue kan dari tadi ama...” jawab Aska belum usai sembari menurunkan pandangannya. “Eh, lho?!!”

Aska tak melihat adanya orang lain, ia hanya melihat tangan kanannya yang memegang erat tangan kirinya sendiri. Tak ada gerakan elak, Aska yakin bahwa dia sudah memegang erat tangan seorang cewek, adik tingkat yang selalu hadir di pikirannya. Jantung Aska berdetak kencang, merinding pula seluruh badan.

“Kok ga ada, kok ilang anying!” ucap Aska kaget. “Sumpah Kin, tadi ada cewek di bawah gue!”

“Cewek mata lu, kalau mau berimajinasi jangan di kampus bego! Ga malu apa lu diliat banyak orang gini?!”

Tak terduga, setelah Aska memutar kepalanya terlihat ada banyak mahasiswa yang mengerumuninya. Sebagian dari mereka tampak menutupi mulutnya karena menahan tawa, dan sebagiannya lagi menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir melihat tingkah Aska. Entah kenapa Aska tidak merasakan kehadiran siapapun. Mukanya kian memerah akibat menahan malu yang sangat dalam.

“Kin, plis tolong gue. Sumpah, gue gak tau harus ngapain sekarang,” mohon Aska dengan penuh malu.

“Dasar cowok mesum,”. “Jijik aku liatnya, dasar payah!”. “Yaampun jijikkkkkk... Ngapain sih dia?!”. “Cowok gila, mungkin ke-malu-annya udah ga ada.”

Terdengar jelas di telinga Aska tentang gumam-gumaman yang sedang membicarakannya. Semua tampak mentertawakannya, Kina pun ikut jua. Aska merasa tak memiliki harga diri lagi. Kacau balau, perasaan Aska sangatlah tertekan oleh keadaan sekitar. Menutup telinga dan memejamkan mata, tak kuat menahan rasa dan akhirnya hanya bisa teriak dengan penuh harap.

“EMAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK!!!”

“Bacot!” ucap Diki sembari menepuk wajah Aska.

Terbuka sudah mata Aska. Tampak beberapa orang di sekelilingnya sedang melihat ke arahnya, dan tak lama kemudian kembali biasa-biasa saja.

Celingak-celinguk, sambil meraba-raba wajah Diki. Aska ingin memastikan bahwa Diki tidak lagi maya, namun nyata adanya. Terus meraba sampai-sampai masuk ke lubang hidungnya.

“Jijiiiiiik!!! Ngapain lu masuk-masuk ke lubang gue! Nafsu lu?!” teriak Diki dengan memegang hidungnya.

“He... he he he... Syukur dah kalau gitu,” ucap aska dengan senyum tipis di bibirnya.

0 Comments

Post a Comment