Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 7)


<<sebelumnya di bagian 6...

Wajah Aska memerah, menjadi tempat berkumpulnya semua aliran darah. Bola matanya kompak bergerak ke satu arah, yaitu ke arah tengah jidat secara bersamaan.

“Hap.. lalu ditangkap!” ujar cewek tersebut sembari mengambil ulat dengan cepat..

Kecepatan tangan cewek tersebut berujung maut. Bukannya terambil, tetapi ulat tersebut malah tergelincir. Kembali terbang, ulat tersebut bersalto ria hingga akhirnya lepas landas di hidung Aska.

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Hal tersebut membuat Aska terkejut. Langsung saja ia berlari ke arah belakang dengan putaran cepat. Tak kenal tempat, tepat di belakang Aska terdapat beton penyangga bangunan kampus yang berdiri tegap. Sampai akhirnya, terjadilah suatu bencana.

“Braakkkkk!!!”

Benturan terjadi begitu saja tak terelakkan. Ulat bulu tersebut gepeng dan menempel erat di beton penyangga.

“Anjiiirrrr! Siapa nih yang bangun ginian di sini?!!” marah Aska sambil mengusap-usap hidungnya. “Awww.. kok pegel sih?”

Aska merasakan adanya cairan yang keluar perlahan di hidungnya. Ia pikir itu hanyalah ingus biasa, dan setelah terusap ternyata berwarna merah merona.

“Lu liat ini gak?! Ini semua ulah lu! Tanggung jawab!!!” bentak Aska kepada cewek tersebut.

Tanpa pikir panjang cewek yang ada di belakangnya menyodorkan selembar tisu dan memuntirnya. Ia tancapkan ke lubang hidung sebelah kanan yang tampak mimisan.

“Udah kan?” tanya cewek tersebut dengan wajah polos.

"Hm!” sahut Aska singkat.

Terkumpul sudah emosi Aska di kepala. Hal tersebut terlihat jelas dari kerutan dahi yang diikuti dengan tatapan tajam. Beribu makian siap terlontar untuk membalas semua rasa yang ia terima.

“Maaf?” ungkap cewek tersebut dengan mata berlinang.

“Hah?!” sahut Aska dengan wajah penuh tanya.

Emosi Aska mereda seketika. Rasa dengki yang menyelimuti hati terasa mati. Ungkapan cewek tersebut membuatnya merasa tentram. Walau pada dasarnya Aska sangat heran karena semua terasa tabu. Cewek yang tampak seperti batu mau mengaku dan memohon maaf kepadanya.

“Maaf kalau cuma satu, nih gue tambah lagi biar mirip hantu,” ucap cewek tersebut sambil memasukkan puntiran tisu ke lubang hidung sebelah kiri.

Suasana tampak begitu hening. Mereka saling bertatapan satu sama lain tanpa sepatah katapun yang terucap. Sampai pada akhirnya, napas Aska sudah tak tersisa dan langsung menghirup keras melalui mulutnya.

“HAAAAAAAHHH!!!”

“Hahaha, lucu banget sih wajahmu. Bisa merah gitu seperti ikan koi,” ujar cewek tersebut dengan tawa gembira.

“Lu mau bunuh gue?!!! Dasar anak setan!!!!!” ucap Aska sambil mencabut tisu di hidungnya dan mencoba membalas tindakan cewek tersebut.

Mereka seperti anak kucing yang sedang bermain. Berguling-guling di lantai kampus seperti dunia hanya milik mereka berdua. Tertawa, gembira, dan lupa akan segalanya. Mereka terus melakukannya hingga akhirnya terjeda saat tangan Aska menangkap kedua tangan cewek tersebut.

Posisi yang terjadi adalah cewek tersebut berada di bawah, terkapar lemas dengan tangan terikat genggaman Aska yang berada di atasnya. Mereka saling menatap dengan penuh engahan akibat lelah karena permainan setan-setanan.

“Ka? Lu lagi ngapain?” tanya Kina yang tiba-tiba berdiri di depan mereka.

0 Comments

Posting Komentar