Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 9)


<<sebelumnya di bagian 8...

Aska sangat lega setelah sadar bahwa semuanya hanyalah mimpi belaka. Beban pikiran akibat rasa penasaran yang selalu ia pendam berujung mimpi kusam. Tak pernah terbayangkan bahwa ia akan memimpikan seorang cewek yang sama sekali belum ia kenal. Pikirannya telah membuatnya kacau, maka dari itu ia ingin merefresh otaknya dengan mengajak Diki ke suatu tempat.

“Dik?”

“Ape…” sahut Diki kesal dengan masih mengelus-elus lubang hidungnya.

“Lu tau tempat yang jual minum-minuman gak?”

“Iyee.. Nape?”

“Minum yuk?”

“Eh, beneran lu, Ka?!” tanya Diki dengan sedikit perasaan kaget.

“Iya, gue lagi down berat nih.”

Tanpa pikir panjang, Diki langsung menganggukkan kepala dan berjalan mengambil langkah pertama. Kintilan Aska dari belakang diiringi dengan deruan lembut sang angin siang membuat Diki semakin bersemangat untuk berminum-minuman. Berjalanlah mereka menuju parkiran di belakang Fakultas Sastra, tempat motor Diki diparkirkan.

Selain pecandu drakor, Diki juga seorang pemabuk berat. Awal mula ia mengenal alkohol adalah dari menonton drakor. Waktu itu ada adegan seorang cowok yang sedang galau akibat suatu perselingkuhan. Aktor cowok tersebut melampiaskan kegalauannya dengan datang ke toko bir. Ia habiskan beberapa botol minuman keras sampai pagi dan diusir oleh pemilik bar. Diki sangat merasa tersentuh, dan merasa bahwa cowok yang sedang galau tersebut sejiwa dengannya.

Karena ia adalah anak kos yang tidak berasal dari keluarga kaya, ia browsing tentang tutorial mabuk low budget. Pengalaman mabuk pertamanya adalah dengan meminum pil obat sakit kepala dengan dicampurkannya minuman bersoda. Ia pun koma dan opname di rumah sakit selama seminggu penuh.

“Eh, mendingan lu yang ikut gue aja yuk, Dik! Gue tau tempat minum yang paling tepat!” ujar Aska dengan langsung mengambil posisi menyetir di motor Diki.

“Lah! Oke dah, yuk cus wushhh!”

Mereka pun berangkat dengan dekapan erat. Diki sangat takut karena kecepatan 45 Km/jam yang Aska ambil, dan Aska pun juga sangat takut karena dekapan Diki berjalan pelan dari arah dada ke arah perut.

Beberapa belas menit setelah itu akhirnya mereka sampai. Aska pun memarkirkan motor Diki di depan sebuah kedai yang cukup ramai.

“Tempat apa nih, Ka?” tanya Diki penasaran.

“Tempat minum-minum dong bro!”

“Lah, kita mau minum jamu?!” tanya Diki dengan sedikit nada tinggi.

“Iya dong, biar kuat!”

Melintas dipikiran Aska, bahwa ketika ia lemah seharusnya mendapat obat yang mampu membuatnya menjadi kuat. Sempat ia dengar dari obrolan bapak-bapak di kampungnya, bahwa jamu di kedai tersebut sangatlah manjur. Maka dari itu, ia mengajak Diki untuk berjamaah menikmati obat kuat.

“Gila lu, Ka! Omong dulu kek! Gue belum siap-siap bangcyat!” ujar Diki dengan penuh emosi.

“Ga perlu siap-siap. Yuk sikaaaaattt!!!” gercep Aska sambil menarik tangan Diki masuk menuju kedai.

“Ahhhh... Askaaaaa....” sahut Diki lemas dengan hanyut mengikuti tarikan Aska.

Akhirnya mereka menghabiskan beberapa gelas jamu yang berisikan obat kuat. Mereka menikmati pahitnya jamu dengan seru untuk keoptimisan yang tabu. Sampai akhirnya penyesalan pun tiba setelah lelah bekejar-kejaran dengan Diki sebelum efek dari jamu itu mereda.

0 Comments

Post a Comment