Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 5)


<<sebelumnya di bagian 4...

Ketakutan membuat Aska hilang kesadaran. Ia berteriak seperti bayi yang tidak diberi asi selama beberapa hari. Ketika sepersekian detik setelah Aska menghentakkan jeritannya, tangan yang semula dari cengkraman di bahu kanannya berubah menjadi dekapan di mulutnya.

“Jangan berisik! Ssssttttt!!!”

Aska melirik ke arah kanan dengan penuh kemerindingan. Tampak makhluk berambut gondrong sedang melotot ke arahnya. Hal tersebut membuat matanya kembali terpejam dan mengoyak-oyakkan tubuhnya agar lepas dari jeratan.

“Lu bisa diem gak, bencong!” bentak makhluk gondrong tersebut.

“Hmm mmm,” ujar Aska sembari menganggukkan kepalanya.

Tangan yang menutup mulut Aska pun dibukanya dengan perlahan, mengantisipasi jika ada teriakan susulan. Masih dalam keadaan terpejam, Aska mendapat tepukan kembali di bahu kanan.

“Lu tau gak, ini tempat tuh cukup engap. Udah berjam-jam gue nunggu di sini untuk dapet momen terbaik tapi malah lu rusak! Udah bawa cemilan jadi terasa gak enak! Padahal dikit lagi tadi gue bakal dengar suara-suara indah. Arrgghhhh... Lu tau gak sih, harusnya tuh elu...” nyerocos makhluk gondrong tersebut tak berhenti.

Perlahan Aska memberanikan diri untuk membuka matanya kembali. Ia percaya bahwa itu adalah suara manusia. Dilihatnya seorang lelaki yang mengenakan baju biru tua dengan kumis tebal yang sedang berceloteh sendirian, sembari mengacung-acungkan tangan seperti sedang berceramah. Seketika itu hati Aska terasa lega, ternyata bukan sesuatu yang selama ini ia takutkan.

“Iya broo, ya sorr...” sahut Aska belum rampung.

Sebelum Aska mengucapkan kata maaf, ia kembali terpaku. Matanya melotot karena melihat sesosok bayangan hitam besar di belakang cowok gondrong tersebut. Tanpa pikir panjang, ia balik kanan grak dan lari terpontang-panting tanpa meninggalkan sepatah kata pun.

Sesampainya di rumah, Aska langsung membersihkan diri dan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Rasa takutnya akan pengalaman di bawah tangga fakultas teknik telah tertutupi oleh rasa kecewanya kepada seorang wanita.

“Tadi itu dia ngapain sih sebenernya?!” gumam Aska sembari membaringkan badannya di atas kasur.

Aska merupakan seorang mahasiswa yang malas berolah raga. Maka dari itu, tubuhnya berasa sangat lemas akibat berlari dengan jarak yang cukup jauh. Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan merenung, dan tak lama setelah itu ia terpejam melewati dinginnya malam.

Riuh sinar mentari menggugah-gugah diri dari balik tirai. Aska pun bersiap-siap untuk berangkat lebih awal dari biasanya karena ingin kembali fokus keskripsinya. Ia ingin menemui Bu Pina, yang merupakan dosen pembimbingnya untuk mengatur ulang jadwal ujian proposal yang sebelumnya telah gagal.

“Berangkat ya, Mak,” ucap Aska sembari mencium tangan ibunya. “Hmmmfffff!!! Kok tangan Mamak pesing sih? Mamak belum cebok ya?!” ujar Aska sambil mengerutkan wajahnya.

“Mamak abis nyuci celanamu, Paijo! Udah gedhe masih ngompol bae, kamu tau gak tadi mamak muntah 7 kali saat nyuci celanamu itu?!” tegas ibunya Aska dengan sedikit emosi.

“Muehehehe... Mungkin kena kencing setan itu, mak. Aska berangkat dulu ya, mak? Dadahh....” jawab Aska sambil berlari meninggalkan rumah.

“Bocah gendheng!” teriak ibunya Aska dari mulut pintu.

Aska bukan berasal dari keluarga kaya, namun tidak juga berasal dari keluarga miskin. Ia sebenarnya adalah anak pungut yang ditemukan oleh Bu Fatma, yang merupakan nama dari ibu angkatnya Aska. Ia merupakan janda separuh baya yang tidak memiliki anak. Walaupun bukan anak kandung, Bu Fatma sangatlah menyayangi Aska. Bahkan rasa sayangnya melebihi cintanya kepada anak kandungnya yang belum ada.

Sejak kecil, Aska hidup bersama ibunya dengan mengandalkan ketela. Belakang rumah Aska terdapat kebun ketela yang lumayan cukup luas. Ketela tersebut mereka olah menjadi berbagai hal, seperti ceriping, gethuk, potil, dan lain sebagainya. Beberapa di antaranya dijual di pasar, dititipkan ke warung-warung sekitar, maupun dijual online oleh Aska.

Setiap pagi, Aska sering mencari tebengan untuk mengantarkan pesanan dari langganan-langganannya. Hal tersebut sering membuatnya terlambat untuk berangkat lebih awal ke kampusnya.

Walau sebenarnya kendaraan pribadi sangatlah penting untuk medongkrak kinerjanya, tapi Aska enggan untuk meminta kepada ibunya. Aska memang seorang mahasiswa yang bisa dibilang tidak pintar, tetapi ia selalu sadar bahwa dengan berusaha itu jauh lebih berharga daripada hanya sekadar meminta.

0 Comments

Post a Comment