Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 15) END


<<sebelumnya di bagian 14...

“Haha, udah gedhe kok main pisau-pisauan sih. Sini pinjem!” tawa Aska sembari merebut pisau. “Pisau mainan kek gini mah gak mempan cuy, nih liat. Hyaatttt!!!” lanjutnya dengan mengarahkan mata pisau ke perutnya.

“Jlebbb!!!”

“Ehh.. kok? Ini pisau beneran?!”

Detak jantung Aska berhenti sejenak. Ia terkejut karena salah mengira sehingga membuatnya benar-benar tertusuk. Lambat laun, resapan darah di baju putihnya mulai tampak. Begitu cepat resapan tersebut sehingga merah sudah perut Aska dalam beberapa saat.

"Iya, hehehe..." sahut cewek tersebut dengan cengengesan.

"Maksudmu apa?!"

"Kan tadi aku udah ngomong, aku udah pingin banget... Pingin banget membunuhmu."

Kini Aska menjadi linglung. Bingung melihat pisau dan darah di perutnya. Harapan liarnya, berubah petaka dalam seketika.

Pikirnya, ia akan kehilangan lebih banyak darah jika mencabut pisau di perutnya. Maka dari itu, ia lebih memilih tersungkur di lantai kamar mandi dan menutup lubang di sekitar pisau yang menancap di perutnya.

"Jawab bangsatt! Ngapain lu ingin bunuh gue?!"

"Lu bego atau emang gak ada otak?! Lu sadar gak sih, kalau lu udah menyiksa kakak gue?!" tegas cewek tersebut sembari menjambak rambut Aska.

Semakin merasa bingung, Aska sama sekali tak mengerti. Tak ada yang ia kenali selain Kina di malam itu. Misteri tersebut terus berputar-putar di benak Aska hingga akhirnya muncul suatu kesimpulan yang masih belum dipastikan.

"Kina kakak lu?!"

"Iya, dan lu udah bikin dia depresi karena gagal lulus tahun ini! Dia udah dapet tawaran kerja dengan gaji selangit. Dan elu, malah ancurin semuanya gitu aja!" ujar cewek tersebut yang ternyata adek perempuan dari sahabatnya, Kina.

Tersedak kaget, Aska semakin stres karena banyak kejutan di hadapannya. Aska tak mengetahui apapun mengenai kegagalan yang Kina hadapi.

"Eh, apa mungkin gara-gara waktu itu?!!" batin Aska.

Terlintas tentang satu kejadian. Hamburan kertas yang terjadi akibat tabrakan beberapa hari laludi depan ruang dosen.

"Setelah nabrak, kertas itu berhamburan. Kemudian setelah itu, tiba-tiba Kina nampar muka gue. Itu pasti tumpukan lembaran skripsi?!" cakap Aska dalam pikiran.

"Sekarang lu inget? Hah?! Ada beberapa bagian skripsi yang hilang, dan itu tepat di halaman pengesahan. Yang ada tandatangannya Pak Heri, dosen yang udah mati beberapa Minggu lalu!" ujar adek Kina sembari memperkasar jambakannya di rambut Aska.

"Aaa.. ahhh.... Sakit cok! Iya gue inget sekarang. Lalu apa hubungannya ama lu yang mau bunuh gue?!" tanya Aska penasaran.

"Kakak pertama gue, yang suka semedi di bawah tangga teknik bilang kalau lu pernah nguping saat gue CODan ekstasi, di WC ini!"

"Anjayyyyy... Cowok aneh itu ternyata kakaknya juga!" batin Aska. "Oh iya, satpam di depan kampus itu kan bapaknya Kina?! Bangsat! Ngapain sih aku berurusan dengan keluarga psikopat seperti ini! Taiiiiiikk!!!!" lanjut Aska membatin ria.

"Sekarang lo ga bisa kabur lagi, hahahaha.... Selamat mati pelan-pelan, sayang... Sampai jumpa di neraka.. hahahah...." ujar adek Kina dengan tawa setannya.

Cewek tersebut langsung berdiri dan mengguyur tubuh Aska dengan seciduk air kloset yang sudah disiapkannya sedari tadi. Kehilangan banyak darah dan siraman air kloset membuat tubuh Aska semakin terasa dingin. Cewek itu pun pergi dan mengunci pintu kamar mandi dari luar, meninggalkan Aska yang menggigil kedinginan.

Air mata pun tak terbendung. Rasa sesal karena mengabaikan seorang sahabat mematirasakan rasa sakit akibat tusukan di perutnya.

Rasa ingin mengulang waktu selalu di panjatkan Aska dalam detik-detik terakhirnya. Ingin sekali ia di beri kesempatan sekali lagi untuk bertanggung jawab atas tindakan bodohnya kepada Kina.

Tak ada yang datang. Aska pun sendirian di temani kucuran darah yang semakin memutihkan bibirnya. Tampak sekali sangat pucat.

Semua kesalahan datang, membanjiri pikiran Aska. Satu-satunya yang kini terlintas di pikirannya wajah dari ibunya. Aska merasa sangat begitu menyesal, karena selalu menyusahkan dan membuat ibunya emosi setiap hari.

Tangisnya semakin haru. Duka, lara dan derita menjadi satu dalam cerita.

"MMMAAAMMMMMAAAAAAAKKKKKKKKKKKK!!!!"

Aska terbeliak seusai berteriak. Terlihat jelas di sekitarnya ada beberapa orang yang tampak tersenyum sembari mengusap air mata. Ibunya, Kina, Pak Dokter, bahkan Indah pun terlihat meneteskan air mata setelah melihat kejadian menakjubkan di hadapannya.

Seketika Aska langsung mengangkat baju yang menutupi perutnya. Tak terlihat adanya jahitan maupun perban. Dalam kebingungan, terjangan dekap langsung dilakukan oleh Ibu Aska. Terasa hangat dan sangat nyata. Tanpa sengaja, air mata Aska tiba-tiba ikut serta dengan mengalir di pipinya. Aska pun langsung membalas dekapan ibunya walau dengan infus di tangannya.

Kina tampak bahagia, ketika melihat Aska kembali ada. Ia sangat bersyukur bisa ikhlas memaafkan dan langsung membawa Aska ke rumah sakit, setelah terjadi suatu insiden di depan halte. Aska pinsan di tengah jalan setelah mendengar bunyi klakson suara anjing. Ia sangat trauma mengenai segala hal yang berbau anjing, karena pernah digigit kemaluannya ketika menggoda seekor anak anjing milik tetangga.

Selain Kina, Indah juga tampak menangis bahagia. Ia merasa tidak dirugikan karena Aska tidak jadi mati. Ia mengingat janji Kina yang akan menjadi anggota MLM, jika mau mengantar Aska ke rumah sakit tanpa kehilangan nyawa.

“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanya Aska linglung. “Eh, Kin.. Kina. Mana adik, kak.. kakak dan bapak lu?!” lanjutnya terbata-bata.

“Maksud lu?!” bingung Kina. “Lu lupa ya, kalau kemarin melayat ke rumah? Mereka bertiga kan meninggal karena kecelakaan di depan halte deket kampus.” lanjut Kina yang membuat sekujur tubuh Aska merinding dan kembali pinsan.

~TAMAT~

0 Comments

Post a Comment