Apakah kebenaran masih layak diperjuangkan? Sebuah pertanyaan terbesit di dalam pikiran, saat sesuatu yang diyakini adalah kebenaran disangkal atau direndahkan oleh orang lain.
Misal, aku yakin benar bahwa makanan buatan ibuku adalah makanan terenak yang pernah kumakan. Apakah itu salah? Bisa iya bisa tidak. Menjadi benar karena itu yang aku alami dan rasakan. Bisa menjadi salah jika itu diucapkan oleh orang lain, yang belum pernah kualami ataupun rasakan, karena merasa benar bahwa yang terenak tetaplah masakan milik ibuku.
Terdengar janggal, karena jika dilihat lebih saksama ada ego yang menempel pada kebenaran tersebut. Saling beradu bahwa masakan terenak adalah masakan dari ibunya masing-masing. Melindungi pendapat "masakan ibuku lebih enak" saat ada orang lain yang berkata "tentu masakan ibuku jauh lebih enak", atau ketika ada orang lain yang mencicipi masakannya dan berkata "masakan apa ini? terlalu asin!".
Kebenaran seakan menjadi sesuatu yang harus disepakati oleh siapapun, tak terkecuali. Harus setuju akan kebenaran tersebut, tidak boleh tidak. Jika tidak setuju akan dikucilkan, dianggap salah, pengganggu, perusak suasana, dan lain sebagainya.
Apakah benar menghakimi orang lain dengan berlandaskan pada kebenaran sepihak yang kita yakini benar?
Coba begini, "bagiku, masakan ibuku adalah masakan terenak,". Cukup diyakini saja di dalam, tidak perlu diutarakan atau dibawa keluar (dari diri). Lalu mendengar orang lain berkata seperti itu, walau tetap menyangkal "bagiku, masakan ibuku adalah masakan terenak," namun itu hanya terbesit di dalam hati maupun pikiran saja. Apakah akan timbul pertikaian?
Ada yang jauh lebih hebat, yakni tidak hanya memendam, namun mengerti jika setiap orang memiliki kebenarannya masing-masing. Misal, "bagiku, masakan ibuku adalah masakan terenak. Ini hanya bagiku, belum tentu bagi yang lainnya, karena tidak semua orang memiliki selera sepertiku."
Contoh tersebut masih melekat pada kebenaran masing-masing. Memang, apakah bisa jika tidak melekat pada sebuah kebenaran? Jawabannya kembali pada masing-masing individu. Jika mampu mengalami bahwa kebenaran hanyalah kebenaran, ia terbentuk dari pengalaman, pengetahuan, dan segala jenisnya termasuk ego, maka ia akan mengerti bahwa sesuatu yang dianggap kebenaran itu hanyalah sebuah konsep.
Konsep mampu dibuat, diyakini, atau dialami oleh siapa pun. Jika konsep mampu lahir dari siapa pun, apa pun, dan di mana pun, maka konsep berarti tidak lagi memiliki hierarki eksklusif, melainkan menjadi sebuah jaringan yang demokratis, inklusif, dan tak terbatas. Siapa pun mampu mem-branding konsepnya, yang berarti setiap individu memiliki kebenarannya masing-masing.
Apakah kebenaran masih layak diperjuangkan, jika setiap makhluk memiliki kebenarannya masing-masing?
Joe Azkha, 2026
