Menjadi Pekerja atau Pengusaha? - RenunganMalamKamis#1


Memilih memang sebuah pilihan. Terlebih lagi memilih tentang hal yang sekiranya menjadi hal dalam jangka panjang, mengingat waktu tak bisa diulang dan kehidupan di dunia hanya satu kali saja. Namun, hal yang menarik adalah tentang beberapa pilihan yang terkesan dapat menguatkan maupun melemahkan diri. Seperti pilihan perihal materi, antara pendapatan pasti dan tidak pasti.

Seperti yang kita ketahui, menjadi seorang pekerja mampu membuat diri menjadi sedikit lebih tenang. Seorang pekerja akan mendapat pendapatan yang pasti, seperti perjanjian awal, atau terus meningkat melihat jabatan maupun pangkat yang didapat. Namun, pasti selalu ada yang dikorbankan untuk segala sesuatu, seperti menjadi seorang pegawai yang harus mengorbankan nilai-nilai kebebasan di dalam kehidupan. Namanya juga pekerja, seseorang yang mendedikasikan dirinya untuk kerja, kerja dan kerja. Ya, hanya kerja.

Kenapa bisa? Bayangkan saja, seorang pekerja atau pegawai pasti memiliki tupoksinya masing-masing. Harus bekerja sesuai juknis, tidak disarankan untuk berkreasi karena dimungkinkan bisa merubah sistem yang sudah diputuskan oleh pimpinan tinggi.

Bagaimana bisa merasa bebas jika kita hanya dibentuk menjadi seorang manusia yang menurut dan dituntut untuk terus menurut, tanpa boleh berkembang sendiri dalam menentukan solusi untuk masalah-masalah yang dihadapi? Ya, pasti ada cara untuk merubah atau berpendapat, namun dengan tahap-tahapan yang diperumit pastinya akan membuat siapapun menjadi malas untuk memperjuangkan pendapat dan pada akhirnya lebih memilih untuk diam dan menurut, karena memang dibentuk untuk seragam seperti itu agar mudah diarahkan dan dikendalikan.

Hal ini berbeda jika menjadi seorang pengusaha atau freelancer, yang bisa bebas menentukan jalan hidupnya sesuai pilihan, minat, bakat, maupun hobi. Mau menjadi apa dan siapapun tak ada yang melarang, bebas menjadi apa dan siapapun sampai kapan pun. Terasa bebas dengan segala pilihan, walau sebenarnya sangat tertekan dengan pasar. Pengusaha yang tidak bisa melihat pasar pasti akan merosot atau hancur seiring berjalannya waktu, entah dari segi pendapatan maupun semangat. Hal ini terjadi karena jumlah atau waktu yang dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang didapat.

Menjadi seorang yang idialis memang penting, bisa menjadi diri sendiri tanpa tekanan dari siapapun. Namun perlu diingat, semua itu perjudian. Memanglah ada pengusaha idialis yang sukses, namun tak sedikit juga pengusaha idialis yang bangkrut dan hancur.

Semua pasti memiliki pasarnya masing-masing. Menjadi seorang penurut maupun penekat adalah pilihan masing-masing. Tentunya, pasti ada resiko di dalam setiap pilihan. Kembali ke pribadi masing-masing, ingin tersiksa di dalam kepastian atau berjuang di dalam ketidak pastian. Atau ada pilihan lain? Ya, pasti ada, dan kembali lagi, semua dikembalikan ke diri masing-masing.

Joe Azkha

2 komentar


EmoticonEmoticon