Cerpen - Utang


Sore itu Pak Agus sedang santai di teras rumah. Membaca koran yang menjadi langganannya, sambil menyeruput teh hangat dengan sangat jenak. Tak lupa dengan cemilan dalam toples yang diletakkan di samping cangkir.

"Tehnya mau tambah lagi, Mas?!" tanya Bu Agus, yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

Pak Agus tersentak kaget. Suara Istrinya begitu lantang dan menggelegar. Ia pun langsung menengok ke arah kiri, arah pintu masuk. "Lah, buat apa?!"

"Kok buat apa. Ya buat diminum to, Mas?!" sahut Bu Agus bingung.

"Duh, Dik ... Kamu pingin suami gantengmu ini kena gula? Won ya baru saja kamu kasih Mas secangkir teh manis, sekarang malah langsung ditawarin nambah." 

"Oh iya lupa, hehehe ... ya maaf mas!"

Banyak hal unik yang dimiliki Bu Agus, salah satunya adalah pelupa. Sebenarnya dia sangat ahli dalam mengingat suatu hal. Namun, dia juga lebih ahli untuk melupakan suatu hal. Selain pelupa, hal unik yang dimiliki Bu Agus adalah sifat adil. Adil dalam menyeimbangkan kekurangan dan kelebihannya tersebut.

Nama asli Bu Agus adalah Cylcya Styrofoam, namun kerap dipanggil dengan nama Bu Agus. Bukan karena apa-apa, hanya karena tetangganya selalu kesulitan saat memanggil nama aslinya.

Bu Agus merupakan salah satu sisa-sisa jaman penjajahan. Ia adalah wanita keturunan komunis Belanda. Tak tahu silsilahnya bagaimana hingga bisa melahirkan seseorang sepertinya, yang tidak mencerminkan kebelanda-belandaanan sama sekali. Wajah dan posturnya sangat mirip dengan gadis-gadis pribumi, yang membedakannya hanyalah rambut pirang yang ada di ketiaknya.

Setelah dilamar Pak Agus, ia menjadi seorang mualaf. Walaupun belum terlalu taat, namun semangatnya untuk mengenal agama Islam bisa dibilang cukup tinggi. Terlihat dari kebiasaannya, setelah mendengar adzan langsung berlari menuju masjid.

Tiba-tiba muncul Cipto dari arah gerbang, menyapa manja dengan senyuman penuh maksudnya. "Sore Pak Agus. Enak nih sore-sore gini ngeteh. Hangat ya, hehehe."

"Wah-wah-wah, sini Cip, duduk sini!" Sembari mempersilahkan Cipto untuk duduk, Pak Agus menitip pesan kepada istrinya. "Dik-dik, tehnya jadi tambah deh."

"Gimana sih, Mas?! Yaudah bentar, tak bikinkan dulu!" jengkel Bu Agus sambil masuk ke dalam rumah.

Pak Agus tersenyum, merasa bangga memiliki istri yang patuh, walau sering mengerundel.

"Gimana nih kabarnya? Sehat sentosa kan, Pak? Kok kelihatannya ..." celetuk Cipto sambil mengelus-elus dengkul.

Memotong omongan, Pak Agus langsung fokus tentang maksud kedatangan Cipto. "Sttttt ... Udah to, nggak usah basa-basi, langsung ke intinya saja. Ada apa??"

"Nganu Pak Agus, nganu ... "

"Hush! Dari dulu udah kubilangin jangan panggil pak, panggil Gus aja."

"Yaampun, lupa. Maaf ya Pak."

"Elhadalah, udah dibilangin nggak usah manggil pak kok malah ngeyel!"

Cipto pun langsung mengeplak jidatnya. "Oh iya. Jadi gini, Gus ... "

"Lha gitu, kan enak. Aku jadi ngerasa seperti anak kiyai."

Cipto diam sejenak, memikirkan akal-akalan Pak Agus yang selalu demen dimuluk-mulukkan perihal panggilan. Seingatnya, dulu saat pertama kali kenal dengan Pak Agus ia diminta untuk memanggilnya dengan sebutan Syekh A'ag, beberapa bulan kemudian berganti menjadi Habib Agus, hingga sekarang berubah lagi menjadi hanya Gus. Sebenarnya, hal itu membuat Cipto sedikit gusar.

"Apa? Apa? Kamu mau ngomong apa tadi?" tanya Pak Agus sambil mengangkat-angkat kepalanya.

"Gini, Gus. Saya kan punya anak ya, anak saya ada empat ..." ujar Cipto belum selesai, yang kembali lagi dipotong oleh Pak Agus.

"Iya, anak kamu empat. Kalau anak kamru? Ya emprat dong ya?! Huahahaha ... Emprat Cip! Hahaha ... Ha-ha-ha ... Em ... Ehem-ehem. Oke, Cip. Silahkan lanjut, anak kamu empat lalu kenapa?!"

Pak Agus sedikit mutung saat melihat Cipto tak merespon plesetan lucunya. Cipto pun terlihat melongo, merasa bingung karena tak mengerti maksud Pak Agus.

"Ayo ngomong! Malah domblong!" bentak Pak Agus sambil menggebrak meja.

"Asu, kaget!"

Gertakan Pak Agus mengagetkan Cipto. Membuatnya tak bisa mengontrol kata-kata. Hal itu membuat Pak Agus geram, karena merasa dikatai oleh tamu sore yang tak diundangnya.

"Lambemu, Cip! Ayo kalau ngajak berantem! Maju!"

Cipto pun memohon-mohon, mengemis maaf karena ia benar-benar tak sengaja mengucapkan pisuhan itu. Dengan segala cara, alhasil ia bisa sedikit meredakan emosi Pak Agus.

"Jadi gini, Bib. Eh, Tadz. Eh, Apaan sih?!"

"Gus!" jelas Pak Agus.

"Oh iya. Gini, Gus. Intinya aku mau pinjem duit," terang Cipto dengan lantang.

"Berapa?"

"Enggak banyak kok, Gus. 10 juta saja."

"Gila kamu, Cip! Kemarin kamu pinjem 3 juta aja sampai sekarang gak ada kabar kok ini malah mau nambah tiga kali lipatnya lagi!"

"Udah, enggak papa Gus. Aku bisa jaga rahasia kok, aku gak akan bilang ke isrimu deh. Ya?" rayu Cipto dengan senyuman maut.

"Gundulmu plontos! Yang pegang duit itu aku Cip! Istriku mah enggak tau apa-apa tentang duit!"

Pak Agus adalah seorang pekerja lepas, penjual onderdil sepeda. Kerjaannya yakni mencari rosokan-rosokan sepeda untuk diambil bagian-bagian penting yang bisa dijualnya kembali dengan harga tinggi. Hasil dari menekuni jual beli onderdil itu sangatlah menjanjikan, terbukti ia bisa mendapat pengakuan sebagai salah satu orang terkaya di kampungnya.

"Yah ... Jadi enggak bisa nih, Gus?"

"Maaf nih, bukannya enggak bisa. Tapi aku enggak enak ama istriku kalau aku selalu kasih pinjam kamu. Iya aku tau, kamu itu teman terbaikku, tapi kan ya ..." sahut Pak Agus belum usai.

Cipto memotong pembicaraan, ia menawarkan jumlah pengembalian yang lebih dari jumlah peminjamannya. "Yah, padahal ini mau aku gunakan untuk usaha Gus. Rencananya akan ku kembalikan semuanya menjadi 15 juta."

Tawaran Cipto membuat Pak Agus berpikir cepat. Pak Agus pun langsung tergiur dengan tawaran tersebut.

"Kamu yakin, Cip? Kamu enggak lagi bohongin aku kan?"

"Yaelah Gus, kek sama siapa aja. Kamu tau sendiri kan aku ini orangnya gimana?" jawab Cipto sambil menghentakkan kerah bajunya.

"Iya, berulang kali utang dan gak pernah bayar."

Cipto langsung melotot kaget setelah mendengar ujaran Pak Agus. "Eh, bukan yang itu, Gus! Aku kan kalau janji selalu ditepati. Seperti kemarin itu, aku pernah janji buat bawain oleh-oleh dari Surabaya. Iya kan?"

"Iya sih, tapi ya jangan cuma sisa dong. Masak, Spikoe Resep Kuno cuma setengah bungkus doang?" sahut Pak Agus dengan tatapan sinis.

"Ya ampun Gus, jadi orang kok itungan banget. Itu kan hanya untuk meminimalisir kemubadziran di dalam dunia permakanan. Harusnya kamu berterimakasih dong, bukan malah nyindir!" 

"Siapa juga yang nyindir, aku tuh terang-terangan goblok! Mau ngutang malah nyolot!" bentak Pak Agus yang beranjak dari tempat duduknya.

Cipto pun kaget. "Eh, enggak pak! Eh, maaf, Gus. Aku tuh lagi bingung soalnya. Tolong aku, Gus. Huhuhu."

Tiba-tiba Cipto menangis. Menutupi kedua matanya dengan tangan dan tersedu dengan haru. Hal itu membuat Pak Agus menjadi iba dan tak enak hati untuk melanjutkan emosinya.

"Kamu kenapa, Cip?" tanya Pak Agus dengan lembut dan kembali duduk.

"Gini, Gus. Huhuhu ... sebenarnya aku sedang di ... huhuhu."

"Sedang di rumahku?" tanya Pak Agus.

"Bukan!" bentak Cipto.

"Hoaahh!" kaget Pak Agus. "Kalau nangis yang sopan dong, Cip!" lanjutnya sambil memukul bahu Cipto.

"Jadi, kemarin tuh gini, Gus," jawab Cipto sambil mengusap air matanya. "Ada seseorang berjaket kulit datang ke rumahku, dia menagih uang bulanan yang belum aku bayar. Udah 6 bulan aku enggak bayar cicilan," lanjut Cipto.

"Emangnya, kamu utang buat apa, Cip?" bingung Pak Agus.

"Dulu istriku ingin mobil, dia ngancem kalau enggak dibeliin bakal pisah ranjang denganku. Lha aku kan bukan dari keluarga kaya? Dan ... "

"Kalau gak kaya ya gak usah sok-sokan pinjem duit dong, Cip. Yang realis aja jadi orang," sela Pak Agus.

"Aku belum selesai cerita, Pak!" tegas Cipto.

"Gus!"

"Ya sorry, Gus!"

"Santai dong!"

"Iya santai!"

"Belum santai, Cip!"

"Iyaaaa ... san ... taaaaaiii ..." ucap Cipto sambil tersenyum paksa. "Mungkin besok aku udah gak menetap di kampung ini lagi karena rumahku akan disita," lanjutnya.

"Emang, yang bakal kesita rumah kamu yang mana? Kamu kan ngontrak di kontrakan Bu Sis, Cip?" sahut Pak Agus yang membuat Cipto terskakmat.

"Eh, ya ... Yang di desaku sana Gus!" elak Cipto wagu.

"Nah to, bohong lagi. Hayoooo ..." ucap Pak Agus dengan senyuman yang sangat lebar. "Bulan kemarin kamu pinjem duit buat bayar sekolah anakmu yang mau masuk SD favorit. Padahal kan kamu baru nikah 4 tahun yang lalu. Itu sebenarnya anaknya siapa sih, Cip?" lanjut Pak Agus.

"Anaaak ... ya anakku lah! Aku kan nikah ama janda. Itu sunah, Gus. Makannya ngaji yang bener!" tegas Cipto.

"Iya deh ngaji yang bener, berarti kamu tau hukumnya pinjam duit harus dikembalikan secepatnya dong?" sindir Pak Agus.

"Ya ... ya tau lah, Gus. Tapi ngajiku belum sampai sana, masih dalam tahap kesopanan dalam meminjam duit," elak Cipto yang membuat Pak Agus semakin tak yakin untuk meminjamkan uangnya lagi. "Ayo dong, Gus. Plis, 5 juta aja gak papa deh," lanjut Cipto.

"Lah, nanti rumah di desamu bakal ..." ucap Pak Agus belum rampung.

"Udah to, Gus. Itu biar jadi urusanku sendiri. Tolong pinjami aku uang, aku udah kalah banyak semalem. Aku janji bakal balikin secepatnya dengan berkali-kali lipat deh!" ceplos Cipto tak sengaja.

Pancingan Pak Agus berjalan lancar. Sebelumnya, ia sudah mendengar banyak cerita dari bibir-bibir tetangga bahwa Cipto merupakan penjudi ulung. Kemampuannya dalam berjudi sudah tidak bisa diragukan lagi. Katanya, Cipto pernah terlihat membawa uang sekantong plastik penuh seusai pulang dari kampung sebelah, yang dikenal sebagai kampung tempat berkumpulnya para penjudi.

"Jadi bener ya kalau selama ini kamu pinjem duit itu untuk judi?"

Cipto kembali terskakmat. Ia sangat kaget karena tak sadar sudah menceritakan kebiasaan buruknya di depan ladang perutangannya. Ia merasa sangat malu, sampai-sampai air matanya pun keluar lagi dengan suasanya yang berbeda dari sebelumnya.

"Maaf ya, Gus."

"Udah, gak papa. Berapa sih sebenarnya utangmu?" tanya Pak Agus lirih.

"3 juta setengah, Gus. Sebenarnya aku malu buat hutang lagi ke kamu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah tak ada yang percaya denganku lagi. Semuanya sudah menilaiku buruk. Aku sudah tak punya nama di kampung ini, Gus."

Pak Agus langsung menepuk pundak Cipto dengan lembut. "Cip, aku pinjamin lagi tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Gimana?"

"Apa itu syaratnya, Gus?"

"Kamu harus janji gak akan judi lagi setelah ini. Kalau kamu mengingkari, aku gak akan bantu kamu lagi setelah ini. Gimana?"

"Terimaksih, Gus!" ucap Cipto sambil meraih dan mencium tangan Pak Agus yang singgah di pundaknya.

"Udah-udah, gak usah cium-cium tangan segala. Udah, Cip!"

"Pokoknya aku janji, Gus. Janji!" ucap Cipto sambil terus mencium tangan Pak Agus.

Senyuman tergambar di wajah Pak Agus. Ia merasa bangga ketika melihat sahabatnya kembali ke jalan yang benar. Ia pun membiarkan Cipto menciumi tangannya karena merasa bahwa itu bisa membuat sahabatnya bahagia.

Terlihat melewati gerbang rumah yang terbuka, Bu Agus berjalan pelan dengan mencincing tas kecil. Hal itui menciptakan satu pertanyaan di benak Pak Agus.

"Udah, Cip! Malu diliatin istriku!" lirih Pak Agus sambil menarik tangan dan mengusap-usapkannya di bajunya akibat basah dari ludah dan air mata Cipto.

Cipto pun lansung mengusap mukanya dengan lengan baju dan menatap Bu Agus dengan penuh senyuman.

"Lho, Dik? Kamu itu dari mana? Teh hangat buat Cipto mana?" tanya Pak Agus.

"Lah, kamu gak denger adzan magrib, Mas? Udah gelap gini juga kamu malah asyik-asyikan cium tangan sama Cipto. Ra nggenah!" sahut Bu Agus yang berjalan cuek menuju pintu samping rumah.

Mengobrol dengan Cipto membuat Pak Agus lalai dengan kewajibannya. Adzan tak terdengar, lampu rumah pun tak dinyalakan. Sudah pasti setelah ini akan mendapat hujaman emosi dari sang istri.

"Yaudah, Cip. Gak usah minum teh ya! Ayo masuk rumah, kita magriban bareng. Biar istriku gak marah sama kamu!" bisik Pak Agus.

"Lha, kok aku?" bingung Cipto.

Cipto pun menuruti permintaan Pak Agus. Ia langsung beranjak dan berjamaah di rumah Pak Agus. Memang sudah menjadi kebiasaan semua hal yang diminta Pak Agus selalu Cipto turuti. Hal itulah yang membuat Pak Agus menganggap Cipto sebagai teman baiknya.

Seusai sholat magrib, Pak Agus secara diam-diam mengambil uang simpanannya di dalam bagasi mobilnya. Ia memang ahli dalam menyembunyikan harta, karena ia sangat tau bahwa itrinya sangat ahli dalam membelanjakan harta. Dan setelah menerima pinjaman, Cipto pun pamit dengan raut muka bahagia.

"Ingat janjimu, Cip!" bisik Pak Agus.

"Siap Pak!"

"Gus!"

"Oh iya, Siap Gusssss."

Cipto pun pulang dengan tenang, meninggalkan Pak Agus yang was-was diterjang pertanyaan dari istri tercintanya.

"Udah pulang, Mas?" tanya Bu Agus.

"Udah, Dik. Hehe ..." ucap Pak Agus sembari berjalan masuk ke dalam rumah.

"Mau ke mana, Mas?" tanya Bu Agus yang merangkul bahu Pak Agus dengan lembut.

Rangkulan Bu Agus membuat Pak Agus merinding seketika. "Hwwhhh ..." rinding Pak Agus. "Cipto enggak pinjem duit banyak kok, Dik. Gak papa ya? Jangan marah plisss ... Mas mohon jangan marah, Dik," rengek Pak Agus sambil mencium tangan istrinya.

"Gak akan marah kok, Mas. Aku malah bangga punya suami sepertimu. Mau menolong temannya di tengah kesulitan. Aku bangga padamu, Mas," ucap Bu Agus dengan senyuman.

Pak Agus merasa terenyuh mendengar pernyataan dari istri tercintanya. Dikira akan mendapat amukan yang mengerikan, tau-taunya malah mendapat pujian dan dukungan penuh. Sungguh, sore itu adalah sore yang penuh makna bagi Pak Agus.

Tiga hari berlalu. Seperti biasa, Pak Agus selalu santai di depan teras dengan secangkir teh dan koran di tangannya. Menikmati angin sore dengan santai sambil menyeruput tipis teh manis buatan istri tercintanya.

"Nikmat duniawi," gumam Pak Agus.

"Mau tambah tehnya, Mas?!" teriak Bu Agus dari dalam Rumah.

"Enggak, Dik."

"Oke, saya buatkan lagi!"

"Enggak Dik!"

Tiba-tiba Cipto muncul dan duduk di bangku kosong sebelah Pak Agus. "Halo, Gus!"

"Walah!" kaget Pak Agus. "Kalau datang mbok ya salam dulu! Atau SMS dulu gitu, kalau aku jantungan gimana!" lanjutnya.

"Hehe, maaf nih maaf. Aku ke sini mau kasih kabar gembira soalnya. Biar surprise gitu lho!" jawab Cipto dengan gagah.

"Emang ada kabar gembira apaan, Cip?"

Cipto pun mendekatkan wajahnya dan berbisik, "tapi kamu harus janji, jangan marah Gus. Gimana?"

"Iya deh janji. Ada apa?"

"Aku mau bayar utang! Aku lunasi semuanya!" bisik Cipto sedikit tegas.

"Weleh, kok bisa! Jangan bilang kalau kamu main ju ..."

"Ssttt!" potong Cipto sambil menaruh jari telunjuknya di mulut Pak Agus. "Gak usah banyak bacot. Sekarang aku udah banyak duit. Aku udah beli satu rumah mewah di perumahan kota. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, Gus. Kalau mau mampir, SMS aja ya!" lanjut Cipto sembari mengeluarkan seikat uang dari dalam tasnya.

"Tapi, Cip. Aku kan ..."

"Udah to, Gus! Jangan seperti bayi. Ribut mulu! Nih uangmu, makasih ya sebelumnya!" potong Cipto dengan senyuman sombong.

"Ini Mas tehnya," ucap Bu Agus yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

"Yaudah, minum dulu Cip?" tawar Pak Agus sambil mengambil secangkir teh dari nampan yang dibawa istrinya.

"Ups.. Sorry Gus! Aku udah ada acara. Lain kali ya? Babaaaay!" pamit Cipto.

Cipto pun langsung pergi tanpa menerima tawaran teh dari Pak Agus. Hal itu membuat Bu Agus sedikit geram dan sebal.

"Sini mas tehnya, buat aku aja!" ucap Bu Agus sambil merebut secangkir teh dari tangan suaminya. "Itu si Cipto kesurupan apa sih? gak sopan banget!"

"Udah lah Dik. Biarkan saja. Toh itu bukan urusan kita. Yang terpenting, kita doakan aja biar dia cepet sadar dan kembali ke jalan yang benar. Kita kan gak tau, kapan kita dipanggil dan apakah kita sudah cukup bekal untuk menghadapNya," ucap Pak Agus.

"Maksudnya?!" bentak Bu Agus sambil melirik ke arah meja. Dilihatnya seikat uang yang menimbulkan kecurigaan di benak Bu Agus. "Ini uang hasil judi, Mas?" lanjutnya.

"Eh, kok sampai sana sih. Kita kan sedang membahas tingkah laku Cipto yang gak sopan?" bingung Pak Agus yang mengambil ancang-ancang untuk lari ke dalam rumah. "Aduh, perutku mulas. Bentar ya, Dik," pamit Pak Agus yang berlari masuk ke dalam rumah.

"Maaaaaasss Agoooooooosssssss!"

TAMAT

0 Comments

Posting Komentar