Cerpen - Mola dan Moli


Mola dan Moli
karya : Caca

Dahulu kala, tinggal seorang pengusaha kaya bernama Balfir. Usahanya sangat maju dan berkembang pesat di setiap penjuru desa. Tak heran jika ia bisa mengadopsi beberapa hewan peliharaan di rumah megahnya. Dari sekian hewan peliharaan, hanya sepasang hewan yang menjadi kesayangannya. Dia adalah Mola dan Moli, sepasang kucing berbulu lebat yang sangat lucu dan imut.

Mola dan Moli dibeli Balfir dari seorang pegawainya yang sedang membutuhkan uang. Karena dermawan, Balfir membelinya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga yang ditawarkan. Hal itu membuat pegawainya sangat senang dan bahagia. Balfir memang terkenal rendah hati kepada semua orang.

Suatu ketika, Balfir sedang merasa bosan. Ia pun ingin menggunakan waktu luangnya untuk bermain bersama sepasang kucing kesayangannya.

"Mola? Moli? Di mana kamu?" panggil Balfir dari depan pintu rumahnya.

"Meawww ..." sahut Moli yang berjalan pelan dari arah kolam ikan.

"Lucunya ..." puji Balfir sambil mengelus-elus kepala Moli. "Di mana Mola?" tanya Balfir setelah sadar bahwa Moli tak bersama Mola.

"Meaawwww?" sahut Moli dengan wajah bingung.

Tiba-tiba lewat seorang wanita separuh baya dari dalam rumah Balfir. Dia adalah Yuka, seorang pembantu baru yang datang dari desa sebelah.

Balfir pun melambaikan tangan dan memanggil pembantunya, "Yuka! Sini, tolong aku."

"Ya? Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Yuka.

"Siang ini aku tak melihat Mola. Tolong cari dia, aku sudah tak sabar ingin bermain bersamanya." pinta Balfir.

"Baik, Tuan."

Yuka pun pergi mencari Mola dengan wajah yang sangat kesal. Walaupun pembantu, ia tak pernah senang jika mendapat perintah dari majikanya.

Tanpa sepengetahuan siapapun, niat Yuka bekerja di sana hanya untuk menguasai semua harta milik Balfir. Maka dari itu, apapun pasti akan dia lakukan demi mendapatkan impiannya tersebut.

"Awas kau Balfir!" ucap Yuka dalam Hati.

Yuka pun langsung pergi menuju gudang. Ia buka selendang yang menutupi sesuatu di sudut belakang gudang. Terlihat sebuah kandang kecil di balik selendang itu, ia pun langsung menarik dan menatap kandang itu dengan sangat tajam.

"Hai Mola? Apakah kamu tau bahwa majikanmu sedang mencarimu? Dan mungkin, besok kamu tidak akan pernah melihatnya lagi. Hahaha," tawa Yuka sambil menengadah ke arah langit.

Tanpa sadar, Yuka lupa menutup pintu gudang secara rapat. Moli yang juga sedang mencari Mola pun tak sengaja mengintip Yuka dari celah pintu tersebut. Dilihatnya Mola yang terkurung di dalam kandang  besi yang cukup sempit.

Raut wajah Mola terlihat sangat pucat. Moli yang melihatnya dari celah pintu gudang pun takut untuk langsung masuk dan menyelamatkan Mola. Ia takut apabila di masukkan kedalam kandang yang sempit bersama Mola.

"Tunggu saja kucing manis. Kau akan ku susulkan ke Tuanmu setelah ini. Hahaha," tawa Yuka yang beranjak pergi keluar gudang.

Moli yang melihat Yuka berjalan menuju pintu langsung mencari tempat bersembunyi. Ia sangat takut dan tak berani melawan, mengingat tubuhnya yang kecil dan tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan.

"Jgleg!"

Moli mendengar suara pintu yang tertutup. Setelah melihat Yuka berjalan cukup jauh, Moli langsung berlari menuju pintu gudang.

"Meawww! Meawwwwww!!!" teriak Moli yang melompat-lompat meraih gagang pintu.

Tak lama kemudian Moli sadar, ia tak bisa membuka pintu itu dengan kekuatannya. Ia pun langsung lari menuju Balfir yang sedang duduk di teras rumah sendirian.

"Meaw! Meaaawww!!" teriak Moli sambil menggeret celana panjang Balfir.

Balfir pun bingingung, "Ada apa Moli? Kenapa kau gigit celanaku?"

Moli terus menggeram dan menggeret celana Balfir. Hal itu membuat Balfir beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Moli yang berlari menuju gudang belakang rumah.

Sesampainya di depan pintu gudang, Moli langsung melompat-lompat dan berteriak, "Meaww! Meaaaawww!!!"

Balfir pun penasaran dengan tingkah Moli yang sangat aneh. Balfir pun langsung membuka pintu gudang dan Moli langsung berlari masuk dan menggeret selendang di sudut belakang gudang. Terlihat jelas sebuah kandang yang terdapat Mola di dalamnya.

"Mola! Siapa yang mengurungmu di sini?!" teriak Balfir yang langsung membuka pintu kandang untuk membebaskan Mola.

Balfir sangat bingung dengan kejadian tersebut. Ia tak habis pikir bisa menemukan salah satu hewan kesayangannya terperangkap di dalam kandang yang tak tau milik siapa. Mola pun langsung melompat dan memeluk Moli setelah keluar lewat pintu yang sudah dibukakan Balfir.

"Andai ku tau siapa yang melakukan ini, tidak akan kuberi ampun!" marah Balfir.

Mendengar perkataan Balfir, Moli langsung berlari mengajak Mola untuk mengejar Yuka. Mereka berdua meninggalkan Balfir yang masih bingung memikirkan siapa dalang di balik semua ini.

Berlari sambil mengendus jejak Yuka, Mola dan Moli melewati semak-semak dan rumah-rumah warga. Terus berlari dan sampai pada akhirnya tiba di depan rumah reyot yang sama sekali belum pernah mereka lihat. Moli terlihat bingung. Mola pun juga bingung. Akhirnya Mola mencoba memaksakan dirinya untuk mengendap-endap masuk ke dalam rumah reyot tersebut.

Pelan, pelan dan pelan. Mola gunakan bantalan kakinya untuk mengendap agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Sesampainya di ruangan tengah, Mola melihat Yuka yang sedang duduk di depan seorang wanita tua. Tidak lain dan tidak bukan, ia adalah seorang Nenek Sihir.

"Nek, tolong bantu aku!" pinta Yuka.

Nenek Sihir itu pun menjawab permintaan Yuka dengan menaburkan bunga ke dalam wadah air yang ada di depannya. "Apa yang bisa aku bantu untukmu, anak muda?"

"Aku ingin Tuanku sakit selama satu bulan penuh. Buat ia tiada secara perlahan!"

"Baiklah, saya akan membuat ramuan untuk Tuanmu," jawab penyihir itu sambil memasukkan air yang sudah ia taburi bunga tadi ke dalam botol kecil. "Hom-pim-pa ... alai-hum-gam ... breeeeng!"

Setelah mengucapkan mantra, penyihir itu memberikan botol kecil itu kepada Yuka. Mola yang melihat semua itu pun langsung marah.

"Meaaww!!!" teriak Mola sambil melompat ke arah Yuka.

"Aaaaaa!!!" teriak Yuka yang terkena cipratan air sihir. "Nek, tolong tiadakan juga kucing ini! Panas! Tolong!" lanjutnya.

"Aku tak bisa melakukannya. Aku juga terkena cipratan air itu! Tolong! Panas!" teriak Nenek Sihir itu yang juga kepanasan akibat ramuan yang ia ciptakan sendiri.

Ternyata, diam-diam Balfir mengikuti jejak Mola dan Moli bersama para anak buahnya dari belakang. Akhirnya semua terungkap. Yuka dan Nenek Sihir dinyatakan bersalah dan lumpuh di dalam penjara selama-lamanya.

TAMAT

0 Comments

Post a Comment