Cerpen: Penyesalan Sang Ibu


Hancur? Benar. Harapan yang selalu digadang kini hilang. Bu Rena hanya bisa bersimpuh malu dalam haru. Tangannya tampak lihai mengusap tangis di setiap malamnya. Bagaimana tidak? Anak semata wayang yang diharap bisa meneruskan bisnis perusahaan kini telah melayang.

Siang lalu, tepatnya tiga hari sebelum hari itu. Andin, seorang bocah berparas melas sedang bermain sendirian di depan teras. Ia tampak begitu malas memainkan boneka-bonekanya. Memang jumlahnya banyak, namun terasa membosankan baginya.

Andin dilarang keras untuk bergaul dengan teman sebaya disekitarnya. Orang tuanya begitu keras, memaksanya menjunjung tinggi budaya ketidaksetaraan kepadanya. Memang, di dalam komplek tempat tinggalnya, hanya Andin yang merupakan anak dari konglomerat.

"Ndiiinn... Andin..." teriak segerombol bocah di depan gerbang rumah.

"Iya, ada apa ya?" tanya Andin sembari membuka pintu gerbang rumahnya.

"Main boneka seperti kemarin yuk?"

"Yuk.. sini masuk!"

Langkah-langkah kecil dari beberapa anak kecil kian mendekat ke teras rumah. Tampak dari mereka masih saja celingak-celinguk seperti hari-hari sebelumnya.

"Yaampun, Ndin. Memang keren banget kok rumahmu, gede banget!" ujar Sinta, teman sebayanya yang melongo melihat taman depan rumah.

"Hehe, bukan apa-apa kok. Sini masuk," ajak Andin sambil melambaikan tangan mungilnya.

Tak seperti biasanya, dikarenakan limitnya kesibukan diperusahaan membuat Bu Rena dapat sedikit bersantai di rumah mewahnya. Bu Rena merupakan pembisnis ulung, mantan istri dari pendiri beberapa perusahaan ternama yang terpaksa meneruskan pekerjaan suaminya yang telah tiada. Ia bekerja dengan sangat tekun, sampai-sampai membuat dirinya begitu fanatik kepada pekerjaannya

Saat menikmati hangatnya teh celup dan sebuah majalah di pangkuannya, tak sengaja ia mendengar riuhnya beberapa suara anak di depan rumahnya. Membuatnya seketika beranjak dan berjalan untuk melihat keadaan.

"Andin, apa maksudmu ini?!" tanya Bu Rena yang tiba-tiba keluar dari pintu rumah.

"Ini Ma, temen-temen Andin mau..." ujar Andin belum rampung.

"Mau makan?! Kalian semua ke sini lagi cuma mau manfaatin Andin doang kan?! Dasar anak bandel! Bubar semuanya, pulang! Pulang!!!" usir Bu Rena dengan diikuti kaburnya teman-teman Andin.

Kejadian minggu lalu terulang lagi, saat Bu Rena pulang awal dan melihat teman-teman Andin makan bersama di atas meja makan mewahnya. Murka Bu Rena sangat menjadi-jadi kala itu. Sampai-sampai ada anak yang menangis karena ketakutan mendengar teriakan Bu Rena saat mengusir mereka.

Muram sudah wajah Andin. Ia kecewa teman-temannya berlari meninggalkannya.

"Mama kenapa sih, Andin ga pernah dibolehin punya teman!"

"Andin, kamu harus tau. Dulu, Papamu meninggal karena terlalu baik kepada orang lain. Dia menolong Pak Herman sampai-sampai malah dia yang terkena musibah. Kita harus pintar, jangan sampai dirugikan oleh orang-orang yang tidak berguna! Inget pesen mama!"

Home schooling, pengasuh anak, keterbatasan sosial yang Andin jalani membuatnya selalu tertekan di setiap harinya. Kemewahan yang dimiliki tidak membahagiakannya sama sekali.

"Ayo ikut mama ke gudang belakang!" teriak Bu Rena sambil menyeret tangan kecil Andin dengan erat.

"Huhuhuhu... Jangan lagi ma, jangan kurung Andin lagi di gudang belakang!" tangis Andin yang tak terhiraukan.

Seperti biasanya, efek jera yang dilakukan Bu Rena sangat mengerikan. Seorang anak dibawah 10 tahun dibuatnya trauma akibat engap dan kotornya gudang di belakang rumahnya.

"Bzzzz.... bzzzzz...."

Tiba-tiba, terdengar suara getar dari saku kanan Bu Rena. Getaran tersebut berasal dari panggilan telefon sekertarisnya, yang mengabarkan tentang adanya informasi penting di salah satu perusahaannya.

"Apa?! Kita memang tender?!! Bagus, kamu memang bisa ku andalkan!"

Kabar indah tersebut membuat Bu Rena gembira ria, sampai-sampai tak sadar ia lepaskan genggaman erat di tangan kiri Andin. Tanpa pikir panjang, Andin langsung berlari ke luar rumah dan ibunya yang masih sibuk dengan ponselnya.

Sejak hari itu, Andin tak terlihat lagi di teras rumah, tempat bermainnya sehari-hari tanpa ada yang menemani. Pekerjaan membuat Bu Rena haus. Sampai-sampai membuatnya lupa tentang kemanusiaan dan kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada harta.

Joe Azkha (2020)

0 Comments

Posting Komentar