Cerbung: Cerita Anak Senja (Bagian 1)


Senja kala, terdengar suara tangis dari arah perairan. Arusnya sangat deras, sampai-sampai dasarnya tak terlihat. Walaupun gemerciknya sangat berisik, suara tangis itu masih sangat terdengar jelas.

Tak lama kemudian, tampak seorang wanita yang bergegas mendekat ke sumber suara. Ya, dia adalah Bi Ina, seorang bibi-bibi tua pecandu kopi. Dalam sekali duduk, Bi Ina dapat menghabiskan lima bungkus kopi di dalam cangkir mini. Sungguh, jiwa ngopinya sangat tinggi.

Semakin mendekat, semakin keras. Tangisan bayi itu semakin menjadi-jadi. Setelah menyibakkan dedaunan, sampailah Bi Ina di titik sumber suara. Tampak seorang bayi telanjang di hilir sungai. Basah, penuh darah dan wajah pasrah. Bi Ina, langsung menyikap dan menggendongnya

"Ya Gustiiii... Kok masih ada ya orang yang doyan enaknya saja, ketika udah jadi langsung dibuang seperti ini!" ujar Bi Ina dengan tangis. "Aku akan merawatmu, Nak. Namamu akan aku sesuaikan dengan rupa cantikmu, seperti juga suasana langit itu, Senja."

***

Tujuh belas tahun berlalu, Bi Ina semakin tua dan Senja semakin dewasa. Tubuhnya menjulang tinggi dengan kulit putih berseri, membuat wanita manapun iri akan keindahan tubuhnya. Seperti Bela, teman sekelasnya yang tak pernah henti membenci dan mengerjainya.

Bela adalah seorang cewek tomboi berparas pas-pasan. Kulitnya gelap, seperti hati dan masa depannya. Itulah alasan kenapa Bela membenci Senja. Ia sangat iri dengan anugerah yang dimiliki oleh teman sekelasnya itu.

"Senja ... Senja ... Senja ... Selalu saja Senja. Kenapa sih, kenapa Senja yang selalu jadi sorotan?!" oceh Bela, saat nongkrong bersama gengnya di kantin sekolah.

Agus, salah satu anggota gengnya yang agak ke ibu-ibuan pun menanggapi ocehan Bela dengan halus. "Halah, mbok ya udah to, Bel. Sadar diri aja, kamu itu kan ..." sahut Agus belum rampung.

"Kalau Lo masih aja belain Senja, lebih baik Lo keluar dari Geng Membret ini! Dasar bencong!" potong Bela dengan tatapan tajam.

Agus terdiam. Dia hanya bisa merunduk dan menyesali perkataan yang telah diucapkannya.

"Udah dong, Bel. Jangan salahkan Agus, Agus tuh cuma pingin Lo itu tenang. Kalau udah tenang, kita kan bisa fokus buat rencana tentang pelajaran apa yang pantas untuk Senja, bener ga Er?" ucap Rachel dengan menepuk pundak Erna.

Asyik bermain Instagram dan menyedot es cappucino cincau, Erna tak siap dengan lemparan kata yang diberikan Rachel. "Eh eh eh ... Apa, apa?"

"Udah, Lo iyain aja!" bisik Rachel ke telinga kiri Erna.

"Oh ... Ya pasti iya dong! Gue sependapat dengan Lo, Gus! Lanjutkan!"

"Plakk!!!" Rachel hanya bisa menepuk jidatnya dengan keras.

Seketika Bela sadar. Ucapan Rachel membuatnya menepikan emosi dan memunculkan semangat diri.

Tersenyum miring, Bela merubah suasana wajahnya menjadi nakal. Ide-ide gilanya mulai keluar dan memenuhi imajinasinya dengan sangat liar.

0 Comments

Posting Komentar