Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah adalah memoar karya Aurelie Moeremans yang mengisahkan perjalanan hidupnya dari masa kecil di Eropa hingga terjebak dalam hubungan beracun di Indonesia. Buku ini ditulis dengan jujur, emosional, dan penuh keberanian, membuka tabir tentang manipulasi, kekerasan emosional, dan perjuangan bertahan hidup.
Berikut ringkasan cerita Broken Strings (Aurelie Moeremans) dari awal hingga akhir.
Prolog – Sebuah Memoar tentang Manipulasi dan Bertahan Hidup
Buku dibuka dengan pengantar yang menggugah: ini bukan kisah dongeng, melainkan kisah nyata seorang gadis yang terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi padanya, dan terlalu takut untuk bersuara. Penulis menegaskan bahwa ini adalah versi yang mentah dan jujur, bukan kisah yang dipoles untuk menyenangkan siapa pun.
Bab 1–2: Masa Kecil dan Mimpi yang Baru Tumbuh
Aurélie menceritakan masa kecilnya di Belgia, tumbuh dalam keluarga sederhana dengan kehidupan yang penuh keterbatasan. Ia adalah anak pendiam, pemalu, dan sering merasa berbeda dari lingkungan sekitarnya. Hidupnya mulai berubah ketika ia kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja masuk ke dunia modeling serta akting.
Di usia yang masih sangat muda, ia mulai merasakan dunia hiburan yang gemerlap. Kesempatan demi kesempatan datang, membawa harapan baru tentang masa depan yang lebih baik.
Bab 3–5: Awal Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Di tengah kesibukannya sebagai remaja yang mulai dikenal publik, Aurélie bertemu dengan seorang pria yang jauh lebih tua darinya. Pria ini terlihat karismatik, perhatian, dan penuh pesona. Awalnya, hubungan mereka terasa seperti kisah cinta impian.
Namun sejak awal, sudah muncul tanda-tanda peringatan: kecemburuan berlebihan, tuntutan perhatian tanpa henti, dan cara bicara yang perlahan membuat Aurélie merasa bersalah atas hal-hal kecil.
Bab 6–10: Hubungan yang Berubah Menjadi Penjara
Hubungan mereka perlahan berubah menjadi relasi penuh kontrol. Aurélie mulai dijauhkan dari teman, diawasi terus-menerus, dan dipaksa melapor setiap saat. Ponselnya menjadi alat pengawasan, bukan lagi sarana komunikasi.
Setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan. Setiap penolakan dianggap sebagai pengkhianatan. Pria itu mulai membangun narasi bahwa hanya dirinya yang benar-benar mencintai Aurélie, sementara dunia di luar adalah ancaman.
Bab 11–14: Manipulasi, Ancaman, dan Ketakutan
Tekanan semakin berat. Ancaman, pemerasan emosional, hingga penggunaan nama Tuhan dijadikan alat untuk menjerat Aurélie agar tetap bertahan dalam hubungan tersebut. Ia diajarkan untuk percaya bahwa meninggalkan hubungan adalah dosa dan akan membawa kutukan.
Aurélie mulai kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Ia hidup dalam ketakutan, merasa bersalah atas luka yang ia terima, dan percaya bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya.
Bab 15–18: Pernikahan yang Bukan Pilihan
Hubungan itu akhirnya berujung pada pernikahan yang dilakukan bukan karena cinta, melainkan karena tekanan, ancaman, dan rasa takut. Pernikahan yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan justru menjadi puncak dari penjara yang mengikatnya.
Di balik senyum di depan umum, Aurélie hidup dalam kekerasan psikologis dan fisik yang semakin parah. Ia terjebak dalam rumah tangga yang penuh teror.
Bab 19–22: Luka, Kesadaran, dan Keberanian
Perlahan, Aurélie mulai menyadari bahwa apa yang dialaminya bukanlah cinta. Bahwa hubungan itu tidak normal, tidak sehat, dan tidak layak dipertahankan. Kesadaran ini tumbuh bersama keberanian untuk melawan.
Ia mulai mencari pertolongan, mengumpulkan sisa kekuatan, dan berusaha keluar dari lingkaran kekerasan yang selama ini membelenggunya.
Bab 23: Bebas
Bab ini menjadi titik balik. Aurélie akhirnya berhasil keluar dari hubungan beracun tersebut. Ia kembali kepada keluarganya, memulai hidup dari nol, dan belajar menyusun kembali kepingan dirinya yang hancur.
Meski luka tidak serta-merta hilang, ia akhirnya bisa bernapas tanpa rasa takut.
Epilog & Bonus Chapter: Penyembuhan dan Harapan
Di bagian akhir, penulis menutup kisahnya dengan refleksi tentang penyembuhan, keberanian, dan harapan. Broken Strings bukan hanya kisah tentang trauma, tetapi juga tentang bangkit, memaafkan diri sendiri, dan menemukan kembali arti hidup.
Buku ini menjadi suara bagi mereka yang pernah terjebak dalam hubungan beracun, sekaligus pengingat bahwa kebebasan selalu layak diperjuangkan.
Penutup
Broken Strings adalah kisah nyata yang mengguncang hati dan membuka mata. Melalui perjalanan hidup Aurélie, pembaca diajak memahami bahwa manipulasi bisa datang dengan wajah cinta, dan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik.
Novel ini bukan hanya bacaan, tetapi juga peringatan, pelukan, dan cahaya bagi mereka yang sedang berjuang keluar dari hubungan beracun. Sebuah cerita tentang luka, keberanian, dan kebebasan yang akhirnya ditemukan.
