Di tepi jalan yang tak pernah benar-benar diperhatikan, tumbuh sehelai rumput kecil. Ia lahir dari celah retakan aspal yang sudah menua, seolah menolak tunduk pada kerasnya peradaban yang menindas bumi. Tiap hari, ia berdiri sunyi, namun matanya—mata yang tak dimiliki tapi seolah ada—merekam segala yang terjadi di hadapannya.
Rumput itu bukan sekadar hijau kecil yang bisa diinjak atau dicabut dengan mudah. Ia adalah saksi, diam-diam menyimpan rahasia kota, rahasia manusia, rahasia luka.
Suatu pagi, ia melihat seorang wanita yang selalu berjibaku dengan realita, yang selalu menantang pikirannya untuk hidup tenang, yang sudah lupa apa itu arti kegembiraan, yang selalu berdiri di atas garis perjuangan, yang tak kenal menyerah demi pendidikan. Ya, guru honorer. Wajahnya pucat, keringatnya menetes terburu. Ban motornya kempis di jalan yang sepi tukang tambal ban. Jam tangannya sudah menunjukkan waktu yang nyaris lewat batas. Ia cemas, bukan hanya karena takut dimarahi kepala sekolah, melainkan karena di balik gajinya yang tipis, terlambat satu jam bisa berarti potongan. Rumput itu refleks menenangkannya, "Aku pun selalu diinjak, selalu kalah oleh waktu, tapi aku tetap tumbuh." Namun suara rumput tak sampai ke telinga manusia. Guru itu terus melaju melewatinya, mendorong stang dengan wajah terburu, memikul resahnya sendirian.
Siang hari lain, rumput itu menyaksikan sesuatu yang lebih getir. Seorang pengendara jatuh terguling, tubuhnya terbentur keras ke aspal, lalu sebuah mobil melaju dan meninggalkannya begitu saja. Korban merintih, darahnya merembes ke jalan, merayap ke arah akar si rumput. Tidak ada yang berhenti. Semua hanya lewat, sibuk mengejar waktu, sibuk menjaga jarak dari masalah yang bukan miliknya. Rumput itu bergidik dalam diam. Ia tahu, dunia ini begitu ramai, tapi begitu sunyi bagi mereka yang terkapar sendirian.
Malam tiba, lampu jalan temaram. Di trotoar, seorang lelaki mabuk terhuyung-huyung. Napasnya bau alkohol, matanya merah basah. Ia terpuruk tepat di sebelah rumput. Lelaki itu menangis, bukan karena mabuk, melainkan karena rumah tangga yang runtuh dan dompet yang kosong. Rumput itu mendengar lirih keluhannya—meski bukan dengan telinga. Ia tahu, manusia sering kali mencari jalan keluar dengan jalan buntu. Alkohol bukan jawaban, sama seperti aspal yang keras tak pernah memberi pelukan.
Hari-hari terus berlalu. Rumput itu tak henti dihina oleh sepatu, ban, bahkan oleh debu yang menutupinya. Ia patah berkali-kali, tumbuh lagi berkali-kali. Ada keteguhan aneh yang tidak bisa dijelaskan. Barangkali karena ia tahu: keberadaannya yang kecil tetaplah berarti. Ia menjadi saksi, menjadi catatan bisu dari dunia yang sibuk menutup mata.
Namun, semua kisah ada akhirnya. Suatu pagi, datanglah sekelompok manusia dengan seragam hijau, dengan sapu, cangkul, dan karung. Mereka menyebut diri sebagai pecinta alam, pencinta kebersihan. Mereka tertawa, bercanda, sambil menyapu, mencabut, membersihkan. Dan dalam gerakan yang singkat, rumput itu tercabut dari akar, tubuhnya tercampak ke dalam karung kotor bersama plastik dan puntung rokok.
Saat helai terakhir tubuhnya hancur, rumput itu tidak marah. Ia hanya tersenyum dalam bahasa yang tak pernah dimengerti manusia. "Aku sudah cukup. Aku sudah melihat, sudah mendengar, sudah menjadi saksi. Aku bukan siapa-siapa, tapi aku tahu betapa rapuhnya dunia ini. Dan rapuh itu bukan berarti tak berharga."
Yang ironis, manusia yang mencabutnya mengaku mencintai alam, tapi tak pernah benar-benar mendengar suara kecil yang ada di tanah. Rumput itu mati bukan karena diinjak, bukan karena dilindas, tapi karena diputuskan oleh tangan yang merasa paling benar.
Dan jalan itu kembali tampak bersih. Tak ada lagi hijau kecil yang menyelip di ujung aspal. Tak ada lagi saksi bisu yang merekam rahasia kehidupan di jalan itu. Hanya ada kerasnya hitam aspal dan langkah manusia yang tak pernah berhenti.
Namun, siapa tahu? Di bawah lapisan tanah, di bawah luka yang ditinggalkan, biji-biji kecil barangkali masih tersimpan. Menunggu waktu yang tepat untuk kembali menyembul, untuk kembali tumbuh, untuk kembali mengingatkan: bahkan yang paling kecil pun punya cerita, punya makna, punya suara yang tak pernah boleh dianggap sepele.
Karena dunia, sekeras apa pun, selalu membutuhkan saksi. Dan kadang, saksi itu hanya sehelai rumput di pinggiran aspal.
***
~ asai, 2025