Cerpen - Iri Tapi Tak Mau Jadi DPR

Cerpen, cerita pendek tentang seorang pria paruh baya yang meronta dibawah kegembiraan pejabat.
ilustrasi pegawai mini market maret sedang makan di warung dan main ponsel hp

Siang itu, matahari merangkak tepat di ubun-ubun, menumpahkan panasnya ke kepala Samsul. Dulu, orang memanggilnya Sams, katanya biar lebih keren, lebih kekinian. Namun kini, di balik seragam minimarket yang agak kusam itu yang telah dicuci berulang-ulang kali, ia merasa julukan Sams terlalu muluk, terlalu mewah untuk realitasnya. Ia bukan lagi Sams yang dulu gagah dengan jas almamater kebanggaan S1 Pendidikan Bahasa. Kini ia hanyalah seorang Samsul, sang penjaga minimarket yang kerap tombok saat ada barang hilang yang entah bagaimana caranya.

Jam makan siang adalah satu-satunya jeda dalam drama komedi tragis yang ia jalani setiap hari. Nasi warung dengan lauk tempe orek, ditemani sebatang rokok kretek di kantung baju kirinya, yang kadang tak sengaja tertimpa ponsel dan patah tertekuk. Bukan karena pecinta ketengan, namun karena menyesuaikan isi dompet hingga akhir bulan. Hari ini, ponsel bututnya menjadi satu-satunya jendela ke dunia luar, atau lebih tepatnya, ke dunia lain. Dunia yang terlampau jauh dari sudut minimarket yang berbau deterjen dan mi instan.

Jari Samsul bergerak tanpa sadar, menggeser layar beranda Facebook. Senyum mirisnya terulas ketika sebuah tangkapan layar dari grup "Keluh Kesah Berulah" melompat ke matanya. Judulnya mencolok, "GAJI DEWAN SEHARI 3 JUTA, CUKUP BUAT BELI BATAGOR SE-INDONESIA RAYA!". Di bawahnya terdapat rincian yang membuat mulutnya menganga, katanya gaji bulanan mencapai seratus juta, naik karena mendapat tunjangan pengganti rumah dias sebesar lima puluh juta, belum lagi tunjangan-tunjangan lain yang entah apa namanya. Samsul mendengus, napasnya terasa berat, menimpa remah tempe orek di piring plastiknya. Ini bukan lagi soal uang, ini soal harga diri, soal logika yang digelapkan.

Ia berpikir, "Aku sebulan jungkir balik jaga minimarket, dihina pelanggan, disemprot atasan, cuma dapat 2,5 juta. Itu pun bolong kalau ada barang hilang!".

Ia pernah mendengar, dulu sekali, sebuah janji menggaung dari mimbar megah. Janji tentang jutaan lapangan kerja yang akan terbuka, selebar samudra. Namun nyatanya, samudra itu hanya berisi hampa bagi Samsul. Setelah berpuluh lamaran guru yang kandas karena tidak ada lowongan atau bisikan halus tentang harus pakai orang dalam, entah siapa orang dalam itu. Ia sangat minim relasi, paling ya hanya teman tongkrongan sependeritaan yang sering menemaninya debat dan ngobrol ngalor ngidul sampai tengah malam, atau pegawai swasta yang nasibnya tak jauh beda dengannya. Sebuah pekerjaan yang menjanjikan upah minimum, tapi dengan beban maksimum. "Barang hilang? Tomboki! Selisih stok? Tanggung! Gaji kecil tak sepadan? Telan!"

Matanya kembali pada layar. Scroll ke bawah. Sebuah tangkapan layar lain dari grup yang sama, grup favoritnya untuk mencari cerita dari teman sependeritaan. Kali ini, potongan wajah seorang artis berambut keriting muncul, di sampingnya ada mobil mewah yang memenuhi garasi rumahnya. Kutipan di dalam foto itu seolah menertawakan segala kepayahan Samsul, "Tiga juta perhari itu bukan apa-apa! Buat beli bensin sebulan aja gak cukup! Saya kalau datang di TV, satu jam bisa dapat sepuluh juta!". Bagi Samsul, tiga juta ibarat napas kehidupannya, itupun harus dikencangkan sabuk pengaman sampai akhir bulan. Sedangkan sepuluh juta adalah harga motor butut peninggalan ayahnya yang setia menemaninya menembus asap knalpot ibu kota.

"Tiga juta bukan apa-apa?! Aku makan pecel lele aja masih mikir pakai telur apa tidak?!" gumam Samsul, pahit. "Tiga juta bisa jadi tumpuan napas banyak orang, wahai Bapak atau Ibu Dewan yang terhormat, Tuan atau Puan Artis yang gemar memamerkan harta!" Jika diingat-ingat, dulu ia golput. Tidak memilih siapa pun. Alasannya sederhana, "pilih tak pilih, hasilnya sama saja, rakyat juga yang kena imbasnya".

Kini, ia merasakan imbas itu dengan telak, menikam ulu hatinya. Bagaimana bisa, orang-orang yang katanya wakil rakyat, yang katanya dipilih untuk menyejahterakan rakyat, malah hidup dalam gelembung kemewahan tak terbayang, dijamin segala-galanya. Rumah, makanan, anak istri, kendaraan, hingga layanan medis kelas satu. Sementara Samsul, si pembayar pajak sejati, entah dari potongan gaji yang tak seberapa, atau iuran BPJS mandiri yang dibayar setiap bulan demi jaminan pelayanan prima jika kelak sakit. Sejatinya ia tak mendapat apa-apa selain tagihan dan kewajiban.

Terlintas di pikiran Samsul, DPR itu seperti kerbau kenyang yang tidurnya diawasi, makanannya disajikan, dan kandangnya dijaga. Sementara rakyat jelata sepertinya hanyalah kambing kurus, dilepas di padang gersang, dipalak rumputnya, lalu disalahkan bila bersuara.

Merantau jauh dari kampung halaman, takut membebani orang tua yang sudah renta. Jangankan mengirim uang, untuk makan pun ia tak bisa memilih. Nasi dengan lauk seadanya sudah syukur. Bukan lagi soal sehat atau tidak, tapi soal kenyang. Motor tua peninggalan ayahnya adalah satu-satunya saksi bisu perjuangan, saksi betapa tipisnya batas antara kehormatan dan kehinaan di mata dunia.

"Apakah keadilan ini hanyalah ilusi? Sebuah kisah tidur yang diceritakan para empu di gedung-gedung tinggi, sementara kami di bawah ini berebut sisa?" batinnya. Ia merasa seperti seekor lalat yang terjebak di jaring laba-laba, berjuang habis-habisan namun setiap gerak hanya mengencangkan jeratan. Sementara di puncak menara, ada sekelompok bangkai tikus berdasi, gemuk dan beraroma busuk, menikmati santapan daging segar yang sejatinya adalah rezeki rakyat, mengisap sari-sari kehidupan dari pori-pori kaum jelata. Sebuah metafora busuk yang Samsul ciptakan dalam keputusasaan, mencoba menemukan logika dalam kegilaan.

Ia ingin berteriak. Ingin menggedor pintu keadilan. Tapi tangannya terlanjur pegal membenahi tumpukan botol minuman. Bibirnya kelu. Keadilan seolah kembang api, meledak indah sesaat di udara, lalu lenyap ditelan kegelapan, meninggalkan sisa asap dan hujan sisa remukan ledakan yang membuat mata perih.

Samsul menghela napas panjang, mengikis habis remah tempe orek terakhir. Ponsel kembali masuk saku. Waktu makan siang habis. Waktu mengeluh juga habis. Saatnya kembali ke mesin kasir, mengulang drama kemonotonan, yang entah sampai kapan.

Ia adalah Samsul, sang penjaga minimarket yang memanggul tanya dan kekecewaan, di tengah janji-janji yang menguap seperti embun pagi. Ia kembali bekerja, dengan pundak terbebani oleh beban tak terlihat dan hati yang berbisik, "Wahai hidup, mengapa kau tak pernah adil?" Pertanyaan yang mungkin tak akan pernah terjawab, terkubur di antara bincang-bincang filosofis tentang keadilan dan realita hidup.

Cerita ini berhenti di sini, tapi hidup Samsul tetap berlanjut. Esok pagi, ia akan tetap bangun, tetap menyalakan motor bututnya, tetap bekerja, tetap membayar pajak. Karena begitulah rakyat kecil, selalu diminta setia, walau tak pernah diberi cinta.

***
~ asai, 2025

Posting Komentar