Tangis dalam Ramadhan - #CeritaSokAsik


Menemukan pasangan yang serius merupakan impian sebagian orang. Seperti kisah edisi Ramadhan mengingatkan dua tahun lalu. Bertepatan dengan bulan Ramadhan. Sebelum bulan ramadhan cukup dekat dengan laki-laki yang bisa dibilang tidak aneh-aneh. Dalam segi apapun sudah pasti berterima dalam keluargaku. Perihal agama sudah jelas. Orangtuanya salah satu pengurus salah satu pesantren di Kabupaten Magelang. Perihal pekerjaan sudah mapan salah satu pegawai negeri sipil di kantor kedinasan Kota Magelang. Perihal perilaku aku melihat baik tanpa aneh-aneh. Iyaa, setiap hari saling memberi kabar selayak pasangan pada umunya. Bedanya hanya terletak pada tidak meresmikan hubungan. Hanya perlu mengenal kemudian memutuskan untuk serius atau sudah. Kurang lebih seperti itu.

Ibarat bunga mungkin waktu itu sedang mekar dengan baik. Cukup videocall setiap hari. Saling memberi kabar. Menanyakan perihal pekerjaan. Yaa, begitulah. Sebulan kemudian puasa datang. Pertama kali memutuskan pergi berdua, kebetulan dia ingin membeli parsel lebaran untuk nenek dan membelikan baju lebaran orangtua. Begitu pun diriku. Sebenarnya ada sedikit rasa takut kalau saja dia kecewa dengan pertemuan pertama ini. Aku yakin seseorang mengingat moment ini dengan jelas setelah aku menimbulkan keributan tetang semua keriwehan yang ada. Hari yang dinanti telah tiba, sungguh mengecewakan. Semua nyaris tidak jadi karena ada kehebohan akan sambungan internet yang tiba-tiba down. Kenapa semua datang disaat yang tidak tepat. Beberapa jam kemudian semua teratasi dengan baik. Aku menunggu sebentar, dia meminta untuk menjemput. Betapa bodohnya waktu itu, aku mengendarai motor sendiri.

Sampai disalah satu mall, omelan dia  terus berdengung, “mana ada dijemput naik motor sendiri?”. Yaa begitulah. Ngapain juga masalah sepele dipeributkan. Ini salah satu pertanda dia bukan pasangan yang dikirim Allah. Dengan entengnya hanya diam. Tanpa membantah apapun. Kenapa? Seharusnya aku membela diri. Apa yang kulakukan hanya diam saja. Berjalan masuk masih ketambahan omelan lagi, “besok kamu kerja di yayasan Bapak aja. Dekat dari rumah juga. Aku sudah bilang.” Dalam hati mikir keras. Kenapa sudah berpikir sejauh itu. Lagian aku sudah bekerja juga. Aku hanya bisa diam lagi. Iyaa diam. Berjalan menuju lantai dua omelanya muncul kembali, “besok habis lebaran ke Wonosobo, aku ajak ke keluarga besar. Harus bisa.” Apalagi ini?! Aku juga tetap diam. Baiklah aku cukup diam. Berjalan ke lantai tiga. Tiba-tiba dia berjalan dibelakang. Aku semakin curiga. Apa dia malu bersamaku di tengah keramaian? Dia tidak cukup percaya diri untuk berjalan bersama. Jujur aku sangat kecewa. Cukup kecewa. Tidak ada yang bisa dibanggakan untuk sekadar berjalan bersama. 

Memasuki salah satu toko kembali lagi, kita berpisah mencari perlengkapan masing-masing. Kenapa tidak bersama? Lalu apa gunanya bertemu. Hanya berjalan secara berlawanan. Sesekali dia menemui untuk menanyakan mana baju yang cocok untuk lebaran. Kupilihkan satu. Kemeja dengan warna maroon. Tak kusangka dia membeli pilihanku. Alhamdulilah, mungkin aku terlalu berpikir negatife perihal dirinya. Aku mendapatkan dua sandal untuk ibu bapak. Dia mendapatkan baju pilihanku dan parsel lebaran. “Pulang yuk? Udah malam, rumahku jauh,” dalam hati berpikir kenapa tidak memikirkan bagaimana aku pulang? Kenapa hanya memikirkan bagaimana dia pulang?

Yaa sudah, mulai badmood. Aku berjalan agak belakang, membiarkan dia berjalan duluan. Dia juga tidak menginginkan berjalan bersama. Satu langkah dua langkah. Tiba-tiba dia menghadap ke belakang, “haus nggak? Mau minum?” betapa kagetnya aku. Segera mempercepat langkah kaki mendekatinya. “Boleh, aku haus banget,” merasa senang sekali. Mampir membeli minum di kedai kopi lantai bawah sebelum jalan keluar mall. Aku memesan cokelat, dia memesan kopi. Sambil menunggu aku duduk.

Alhamdulilah menyenangkan. Setelah menunggu akhirnya datang. “Terima kasih,” sambil mengangkat sedotan dan memasukanya ke dalam tempat minum. “Ekh, ngapain? Bawa pulang.” Kaget dong aku. Kan harusnya duduk dulu bersantai sebentar setelah melakukan perjalanan super panjang. “Lah, kenapa? Kan sepi juga, minum di sini nggak papa,” jawabku. Kali ini aku tidak bisa diam. “Ayo pulang. Cepat,” omelanya sedikit meninggikan suara. Kali ini cukup berat. Ada yang aneh dengan kita. Tidak kita, tetapi hanya dia.

Pulang ke rumah dengan begitu banyak pertanyaan di kepala. Sesampainya di rumah lelah hati dan pikiran. Sudahlah mungkin dia lelah, insyaAllah seseorang yang tau agama dengan baik adalah orang baik.

Beberapa hari kemudian dia mengajak menemui saudara di Wonosobo. Kutanya pelan, “emang Wonosobonya mana?” Dia hanya menjawab “sana pokoknya,“ membuatku curiga. Janjian pukul 13.00 karena aku ada piket lebaran di kantor sekaligus rapat. Seenaknya saja dia menelpon meminta berangkat pukul 10.00. Aku tetap menjawab tidak bisa, karena rapat baru mulai. Dia terus menelpon. Beberapa rekan kerja melihat dengan tatapan aneh, langsung saja aku putuskan ijin keluar pulang. Alhamdulilah, semua orang baik.

Aku buru-buru ke tempat kita janjian. Bayangkan betapa jauh itu. Dari barat ke timur. Sebenarnya lelah, namun aku tetap usahakan. “Lama amat sih?” Aku diam saja. “Lahh, ngapain bawa motor sendiri?” Yaa kali yaa, aku dari pelosok sana menemui dia dengan jalan kaki. Naik transportasi umum mana mungkin, ini masih libur lebaran. Belum sempat aku menjawab, omelan andalannya muncul lagi. “Sekarang pilih, pulang kembaliin motor apa mendingan nggak usah jadi?” Aku diam.

Mana bisa? rumahku jauh. Menyebalkan harus memikirkan ini. “Cepetan, malu dilihat orang” apalagi ini kembali memperlihatkan betapa aku tidak membanggakan untuknya. Yaa, namanya tempat umum, banyak orang. “Aku nggak mau pulang. Jauh. Capek bolak-balik.” Raut mukanya mendadak menakutkan. “Oh, kamu perhitungan soal ini. Yaa udah nggak usah jadi.”

Kaget banget, kenapa tidak bisa sedikit saja ngertiin aku. Mengerti tentang perjuanganku untuk sampai ke sini. “Cepat, mau jadi apa nggak?” Aku hanya diam lagi, malas ribut. Akhirnya dia tidak mengerti apa yang aku rasakan. “Yaa udah, terserah kamu. Aku pulang,” ucapnya sambil dengan cepat meninggalkanku.

Cukup menyebalkan. Aku sangat lelah. Aku berhenti, masuk ke dalam masjid, kebetulan waktu dzuhur telah tiba. Setelah sedikit tenang, aku mencoba meminta maaf. Namun, dia malah memblokir WAku. Sangat mengejutkan. Baiklah. Tidak mudah mempersatukan dua kepala, meskipun sudah mengalah juga bukan jaminan itu akan baik-baik saja.

Seminggu kemudian beranda instagramku menampilkan foto dia bersama cewek sedang melakukan prosesi lamaran. Diam hanya diam jurus andalan yang aku punya. Sebulan kemudian story instagram foto syarat nikah dengan background warna biru. Tiba-tiba membuatku meneteskan air mata. Aku sedih sangat-sangat. Kenapa di dalam foto itu menggunakan baju yang aku pilihkan untuk dia waktu itu? Kenapa tidak memakai baju yang lain?!

Aku masuk dalam kisah yang tak tentu arah. Kisah yang perlu untuk dipertanyakan kembali. Agama yang baik tidak menjamin semua hal. Pekerjaan yang baik tidak menjamin kebahagiaan. Perilaku yang terlihat baik juga tidak menjamin kenyataan yang baik pula. Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin mengenalnya. Kesalahan terbesarku mungkin juga kelemahan utamaku, adalah selalu berpikir semua akan baik-baik saja. Ingatlah, jangan buat kisah bersama orang yang tidak percaya diri bersamamu. Jangan buat kisah bersama orang yang selalu menuntut banyak hal. Jangan buat kisah bersama orang yang tidak bisa memahami kamu seutuhnya. Buatlah kisah itu sebaik mungkin walaupun hanya menjadi peran pengganti.

~Us

0 Comments

Posting Komentar